Euphoria : Art Of Living

 4 Juni 2025


I don’t know why I am here—alam ide menarikku ke sini, yapping. It’s like I will die if I not writing this. Kepalaku terus menggetik kata-kata yang seharusnya kutumpahkan, pemikiran yang harus kutuangkan. Entah itu penting atau tidak, bermakna atau tidak, I don’t fucking care, I just wanna write, man—alam ide memerintahku.

Yang membuat kepalaku berdengung dan alam ide demo, karena aku baru saja menamatkan dua season series Euphoria. U know man, series Amerika itu.

Dulu, aku pernah menontonnya. Di usia dua puluh atau dua puluh satu, maybe.

Tapi di usia itu, i don’t understand what the fuck is going on that series. Atau lebih tepatnya aku belum mampu untuk memahami semuanya.

Euphoria begitu kacau, gelap,  aku menganggapnya series tolol. Sekumpulan orang yang mendapat masalah dari kebodohannya sendiri, kumpulan orang yang tidak mampu mengontrol dirinya sendiri. Aku hanya mampu nonton sampai episode lima. 

Tapi, di usia sekarang, berlawanan dengan diriku yang dulu aku sangat menyukai series itu. Series yang paling bermakna buatku setengah tahun di 2025 ini.

Sekarang aku sadar, euphoria memang series kontradiksi dari judulnya. Ya, walaupun akhirnya beberapa karakter bisa berdamai dan menemukan dirinya, mungkin euphoria yang sesungguhnya memang tidak seperti ledakan kembang api yang indah atau seperti cerita Disney lawas dengan ending happily ever after.

Proses healing yang sesungguhnya memang menyakitkan, right? Untuk  menyadari trauma, berjuang dengan trauma, mengalahkan trauma, dan kemudian berdamai dengan trauma.

Euphoria menggambarkan berbagai POV dari tiap karakternya, latar belakang yang membentuk setiap keputusan mereka, the way they think, the way they react, semua itu dikupas tuntas.

Betapa setiap orang memiliki traumanya masing-masing, memiliki sisi gelap yang menakutkan, memalukan, pantas dihujat.

Euphoria juga menceritakan tentang persahabatan, keluarga, dan cinta.

Bahwa cinta, persahabatan, dan keluarga terkadang kita pertaruhkan demi keegoisan kita sendiri. Kita merasa dengan semua luka, dengan semua derita yang kita rasakan dan alami, semua orang harus mengerti kita. Kitalah yang paling menderita di dunia ini. Bahwa reaksi yang terbentuk dari semua itu adalah valid.

Ya, rasa sakit yang kita alami sebagai manusia selalu valid. Kita manusia, dan merasakan banyak hal adalah berkat.

Terkadang, kita hanya perlu menerima rasa sakit kita, menerima trauma kita, jujur akan trauma dan rasa sakit kita. Jangan dilawan hari-hari yang menyakitkan itu, kita tidak bisa lari darinya. 

Juga tentang cinta, pertemanan—euphoria membuka tabir bahwa meski kita mencintai seseorang atau menyayangi teman, jika kita tau semua itu tidak baik untuk kita, just let them go. Bukan karena mereka buruk, tapi we're just not meant to be, seperti kedua api dan bensin yang dipertemukan, we will burn. Keduanya sama-sama sakit. Sama-sama hancur. Keberanian untuk melepaskan diri dari kemelekatan adalah langkah awal untuk mencintai diri sendiri. Untuk tidak tersiksa dalam labirin trauma dan rasa sakit yang sama. No one can save us, kecuali diri kita sendiri.

Aksi selalu menimbulkan reaksi. Euphoria memperlihatkan jika terkadang semua manusia itu gila, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Punya sisi gelap yang seolah membuat mereka tidak berharga dan pantas dicintai, tapi, kontradiksinya euphoria memberi harapan dengan menggambarkan meski kita tidak sempurna, meski kita memiliki cacat cela, selalu ada beberapa orang yang mencintai kita, yang takut kehilangan kita, bersedia menerima diri kita yang sesungguhnya, versi paling gelap, versi paling bejat, versi paling busuk dan menjijikan dari diri kita. Masih ada beberapa orang yang masih ingin memaafkan kita.

That’s so beautiful.

The art of living.

Hidup memang tidak selalu sesuai apa yang kita mau, kebanyakan memberi kita luka. 

But, baby, we don’t need to be perfect, sometimes we just need to not give up on them.


Komentar

Postingan Populer