The Myth Of Sisyphus

 16 September 2025




Kesadaran baru di ruang waktu saat ini. Bukan yang pernah kuucapkan, kutulis, atau kupikirkan di masa lalu atau masa depan. Ini tentang kini—sekarang.

Beberapa waktu lalu aku sempat berdarah. Terluka oleh ekspektasi yang membentur kepalaku sendiri, menohok jantungku sehingga aku yang sudah mulai tumpul bertanya pada Tuhan kembali bertanya. Bahkan, bukan hanya sekadar bertanya, melainkan marah.

Aku yang sedari dulu menjalani hidup seraya berpikir tentang makna, do this or that kemudian bertanya, apa makna dari semua ini?

Aku terlalu penasaran dengan teka-teki, rahasia, dan misteri yang Tuhan gariskan di hidupku. Jika kau membaca tulisan-tulisanku sebelumnya, seolah slogan andalan aku selalu menulis: EVERYTHING HAPPENS FOR A REASON.

Belasan tahun aku percaya kalimat itu kebenaran, semenjak aku pertama kali membaca sebuah novel misteri mistis yang berjudul ‘Samsara’ yang membuatku obsesi dan percaya jika apapun yang terjadi pasti ada alasannya, ada keterkaitannya, diperkuat oleh sebuah novel kritis yang kubaca beberapa tahun lalu berjudul ‘Manjali dan Cakrabirawa’ yang mengatakan; “Jika sesuatu terjadi lebih dari tiga kali itu bukan kebetulan melainkan sebuah pola yang mengarah pada tanda-tanda” 

Jadi, tanpa kusadari mindset itu tertancap dalam alam bawah sadarku hingga aku selalu wondering, asking, and analyzing . memang benar, bahkan dalam ajaran Islam sendiri percaya jika tidak ada yang sia-sia di muka bumi ini meski hanya sebiji zarrah sekalipun memiliki makna.

Namun, kesalahanku, aku terlalu ingin cepat sampai pada makna. Makna dari sesuatu yang begitu besar di luar kontrolku, hingga di suatu hening paling diam aku berharap andai saja Tuhan bisa bicara dalam bahasa yang bisa kumengerti. Aku terlalu terburu-buru dan marah ingin membongkar semua rahasia alam, membuka misteri dan menemukan semua potongan teka-teki terhadap anomali takdir yang sedang kujalani.

Barangkali aku terlalu optimis dan keracunan positif, ya I always do, karena terkadang aku selalu beruntung dan semua yang aku mau benar-benar terjadi.

PoloBagaimana kita tau rasanya kecewa saat semua selalu berjalan sesuai ingin? Tapi, semua itu hanya ada di masa lampau.

Saat ini aku menjalani kehidupan level anomali, sebingung Yusuf dalam sumur atau Yunus dalam perut ikan nun. Seolah Maryam yang divonis kehamilan paling di luar nalar, aku tau semua hak cukup hanya dengan menjadi positif, tersenyum bak anak baik dan berkata soft spoken : “everything will be alright, that’s okay”

Di tengah obsesiku tentang makna, pertanyaanku mengenai kenapa aku? Kenapa aku di sini? Kenapa Tuhan tidak menyetujui do’aku? Menggagalkan rencanaku? Dan yap—akhirnya aku membeli sebuah buku secara random berjudul ‘The Myth of Sisyphus’ yang ditulis oleh Albert Camus.

Camus percaya bahwa hidup itu tidak punya makna abadi. Hidup itu absurd, bahkan bunuh diri pun absurd. Yang bisa dilakukan dalam hidup adalah penerimaan sambil berusaha. Bak Sisyphus yang dihukum dewa seumur hidup sampai kiamat mendorong batu hingga ke puncak bukit lalu ketika hampir mencapai puncaknya batu itu jatuh beserta Sisyphus, akhirnya Sisyphus yang malang harus mengulangi lagi pekerjaannya.

Apakah Sisyphus merasa benci dengan hukumannya? Menurut Camus kita bisa membayangkan Sisyphus tersenyum akan takdirnya. Karena Sisyphus pernah dihukum dalam ketiadaan dan ia memohon untuk kembali ke dunia apapun konsekuensinya. 

Di situlah letak kemerdekaan Sisyphus, ketika ia memilih mendorong batu dengan kehendak bebasnya. Menerima bahwa hidup itu absurd bukan berarti berhenti berusaha.

Belajar dari Sisyphus, walau pun kita muak dengan hidup yang kita jalani sekarang, sebagaimana Sisyphus juga muak terus mendorong batu ke puncak bukit, di tengah perjalanannya mendorong batu itu yang membuat Sisyphus bertahan justru karena secuil harapan ia akan sampai, walaupun pada akhirnya ia akan selalu kecewa. Tapi, Sisyphus tau, letak asiknya tidak selalu tentang menghantarkan batu ke puncak dan berharap batu itu tidak pernah jatuh atau bahkan basah oleh hujan, melainkan keberanian Sisyphus tetap menjalani takdirnya walaupun ia tau semuanya begitu absurd, walaupun Sisyphus tau pada akhirnya semua akan menghancurkannya tanpa peduli sesuatu itu bintang satu-satunya yang ia miliki. 

Kesadaran Sisyphus untuk tetap tenang duduk bersama api takdir yang membara, atau menari bersama badai paling mengerikan walaupun tanpa tau makna dari segalanya, tanpa harus terobsesi bertanya dan marah untuk menguak misteri, menyelesaikan teka-teki, atau mengetahui segenap sudut rahasia hidup, Sisyphus tetap mendorong batunya tanpa henti persetan jika batu itu kemudian menimpanya atau tidak.

Sebagaimana Muhammad dengan tulus mengajarkan ajarannya tanpa tau jika 23 tahun usahanya akan relevan sepanjang masa. Sebagaimana keberanian Yahya yang rela terpenggal demi kebenaran. Yusuf tidak pernah tau jika di penjara karena fitnah justru adalah jalan mengangkat derajatnya hingga menjadi penasihat kerajaan. Nuh tidak tau saat membangun bahtera tujuannya untuk menyelamatkan makhluk hidup.

Kita tidak harus tau segalanya untuk bertahan seraya bertumbuh menjadi lebih baik, meski pun kita berada jauh dari rencana-rencana yang telah kita susun sejak dulu.

Sebagaimana sedang hanyut di sungai, kita harus fokus dulu untuk berenang dan mengamati sekeliling ketimbang mencari makna datang segera dan terus bertanya kenapa harus kita yang hanyut? kenapa Tuhan menggagalkan kita untuk naik kapal yang kita inginkan untuk sampai ke tujuan? Kenapa Tuhan menempatkan kita di kondisi tersebut?

life is too short to be enemy of yourself. 






Komentar

Postingan Populer