Perspective : (Hidup bahagia)
"kenapa sih aku nggak pernah bahagia?"
Percaya nggak sih ada manusia yang selama hidupnya nggak pernah bahagia?
Impossible. Tanggapanku.
Apa sih sebenarnya bahagia itu?
Banyak perspektif yang akan muncul terkait definisi apa itu bahagia. Manusia tidak pernah benar-benar setuju tentang satu definisi atau standar.
Kalau kita mengartikan 'bahagia' sebagai makna dari tidak pernah mendapatkan masalah, tidak pernah gagal, tidak pernah kekurangan, tidak pernah down, mendapatkan semua yang di inginkan... Kita dalam masalah besar!
Perspektif kita tersebut akan menelan kita sendiri dalam keterpurukan di jurang nestapa berkepanjangan. Why? Because this is life! Inilah hidup yang kita sebut kehidupan. Di dalamnya, jangan berangan mendapatkan kehidupan sempurna seperti cerita Wattpad yang sering di baca pada penghujung malam. Karena dunia, bukanlah tempat semua kebahagian bermuara. Kalau tidak, tentu, ungkapan "roda berputar" tidak akan lagi kita temukan. Nyatanya kata-kata itu masih kondang diantara kita.
Yang dinamakan hidup, sudah tentu memiliki dinamika. Mengalami perubahan, bahkan kadang takdir sebercanda itu sampai kita melongo tidak habis pikir di buatnya, membuat lidah kita mencelos ke dasar lambung saking tidak bisa berkata-kata. Kadang ada titik dimana manusia merasa sempurna, tapi detik selanjutnya semua itu hancur berkeping-keping.
Makanya aku selalu waspada terhadap zona baik-baik saja. Semuanya terasa terlalu baik. Dan perasaan itu terkadang sangat tidak menyenangkan, seakan-akan diawasi oleh energi tak kasatmata, hening menghantarkan peringatan bahwasannya waktu sedang merakit bomnya dan sekarang adalah masa-masa dimana waktu sedang menghitung mundur, apabila sudah masanya bom itu akan meledak dan menghancurkan apapun.
Memangnya diantara kita ada yang bisa memaparkan berapa interval waktu dari kata 'selamanya' itu bekerja?
Dunia tercipta dalam kegelapan, karena itu menyimpan banyak misteri dimana kita terbatas memahaminya. Terkadang, kita hanya bisa menunggu. Karena itu satu-satunya alternatif yang tersisa. Karena selamanya, kita tak bisa memaksa sesuatu yang tidak kita kuasa.
Okay, kita mungkin sepakat tentang , manusia bisa berdo'a apa saja dan Tuhan pasti mengabulkan. Ada sebagian dari kita benar-benar menyakini bahwa Tuhan demikian, ada yang berkata yakin tapi masih bertanya, "jinjja?" Kalau kita adalah Lee Min Ho. Ada yang tidak peduli bahkan ada yang membenci, karena sudah tidak lagi memiliki harapan.
Tapi Tuhan sekali lagi, jangan kita rendahkan untuk menyamakan dengan cara Doraemon bekerja, memberikan seketika apa yang Nobita inginkan. Cara Tuhan mengabulkan, menyimpan banyak makna dan Tuhan sungguh ilmu-Nya meliputi segala sesuatu yang sering kali kita terlalu dungu untuk memahami-Nya. andaikan kita bisa benar-benar percaya, tentu segalanya akan lebih mudah. Menjadi sesuatu yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Sami'na wa atho'na.
Percaya yang biasa kita istilahkan dengan iman , apa sih itu? Jangan. Jangan memikirkan terlalu jauh. Cukup tanyakan diri kita sendiri "apakah kita sudah taat?"
Allah SWT berfirman:
وَاَ نَّهٗ هُوَ اَضْحَكَ وَاَ بْكٰى ۙ
wa annahuu huwa adh-haka wa abkaa
"dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,"
(QS. An-Najm 53: Ayat 43)
Hidup sudah demikian adanya, sudah demikian tatanannya, sudah begitu terciptanya.
Jika hari ini kita menangis, maka bisa jadi esok kita tertawa. Kita tidak bisa meminta hati yang tidak pernah basah oleh air hujan, man. Sebanyak kita tidak bisa meminta menjadi bintang yang tidak pernah jatuh.
Semua memiliki masanya masing-masing sudah ada kadarnya.
Kebahagiaan yang kita alami hari ini ada kadarnya. Begitu juga kesedihan. Segalanya memiliki kadar. Hilang kan berganti. Lalu apa? Percaya.
Tertawa jangan sampai lupa daratan, menangis jangan meratapi sampai selamanya. Berikan kadar, karena sesuatu juga memiliki kadar.
Apa kita yakin dengan kadar Allah?
Entahlah. Dasar keimanan, aku lebih suka menyebutnya percaya. Adalah paling utama, seberapa yakin?
Percaya pada-Nya, bukan tentang yang kita tampilkan pada manusia lalu mencari pembenaran dari komentar mereka yang sebatas lidah tentang diri kita. Shallow.
Hakikat sesungguhnya adalah diri kita. Seberapa yakin?
Kadang pola pikir ku yang gila bertanya pada diri sendiri. Kalau aku seandainya hidup di zaman Maryam, apakah aku akan percaya bahwa ia hamil tanpa campur tangan laki-laki?
Jika aku hidup di zaman Nabi Muhammad akankah aku percaya padanya? Atau aku akan berada di kubu Abu Jahal dan menentangnya?
Dapatkah aku percaya pada Nabi Nuh bahwa akan ada banjir bandang dan tidak menertawainya membuat kapal besar di atas gunung?
Akankah aku tetap Islam jika hidup di Palestina?
Aku tidak tau. Kita semua tidak tau seberapa yakin diri kita. Makanya, ketika orang Arab Badui memproklamirkan dirinya telah beriman Tuhan bantah dengan
اَحَسِبَ النَّا سُ اَنْ يُّتْرَكُوْۤا اَنْ يَّقُوْلُوْۤا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَـنُوْنَ
a hasiban-naasu ay yutrokuuu ay yaquuluuu aamannaa wa hum laa yuftanuun
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?"
(QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 2)
Kita harus di uji man. Kadang, lucu dengan fenomena orang yang mengaku; memproklamirkan dirinya hijrah, tapi ketika menghadapi sesuatu malah drama dan merasa terdzolimi macam tokoh protagonis FTV di Indosayur.
Iman itu adalah apakah kita tetap beriman setelah apa yang terjadi? Apapun itu.
Makanya yang namanya iman itu adalah rahasia. Hanya antara manusia dan Tuhan. Bukan berarti kamu menjadi pendakwah memiliki iman yang tinggi, sementara pelacur miskin iman.
We don't know what happens.
Kita sudah tidak asing dengan cerita pelacur yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing kehausan sementara dirinya pun sama hausnya hingga ia meninggal mendahului anjing.
Bagaimana seorang 'pelacur' bisa masuk surga?
Itulah Tuhan. Caranya bekerja dengan semesta dan isinya benar-benar ragam belit selayak labirin. Karena Tuhan sesuai dengan sifatnya, berbeda dengan makhluk.
Makhluk, mudah mengkotak-kotakkan manusia. Yang cadaran "wah warga surga" yang belum berkerudung "astaghfirullah sudah terlihat kerak neraka"
People do that.
Yaps, berbeda dengan Tuhan yang tau segalanya.
Yang terpenting sekarang apa? Allah.
Maka, ilmu tidak harus menjadikan kita sombong. Mendebat semua orang dengan mulut pintar, seakan semua orang kumpulan kerbau. Apalagi, Yang sering ditemui, orang-orang yang bangga dengan apa yang terlihat (pakaiannya) dan melihat yang tidak serupa dengan pandangan hina. Tanyakan dirimu sendiri, apakah sudah taat?
Itu urgensinya. Diri sendiri and God.
Itulah makna hidup pada akhirnya. Diri sendiri dan Tuhan. Apa yang kita bawa menemui Tuhan? Bukan berapa banyak pujian yang kita dapatkan atau pendapat orang tentang kita.
Jadi, kawan. Kuncinya apa? Menerima. Menerima bahwa semua sudah begini adanya. Saat kita tertawa ingatkan diri bahwa masa tertawa kita berakhir, pasti akan datang masa tangis. Terus demikian. Lalu apa? Percaya. Dengan percaya kita selalu memiliki harapan kala fajar. Kita selalu berpikir positif dan InsyaAllah bisa fokus pada sesuatu yang lebih bermanfaat.
Apapun yang kita alami hari ini. Jangan pernah menyerah. Jangan pernah berhenti berdo'a dan berusaha, berusaha dalam makna bukan hanya bekerja keras, namun juga bekerja cerdas, lihat peluang. Jangan batasi diri dengan hanya meratapi hidup. Dan perhatikan niat beserta tujuan, untuk apa?
Karena kalau salah langkah, ibarat mengumpulkan banyak 'angka' namun berakhir di kalikan dengan 'nol' hasilnya ? Kelompang.
Akhir kata, jangan lupakan Mission! ; Laa Illaha Illalah!
Purple u human!
19 Ramadhan 1441 H

Komentar