Perspective : Noir


Mau bagaimana lagi, hidup akan terus berjalan.. Meski kita merintih oleh rasa sakit. Meski kita memohon untuk sebuah ketakutan. Meski kita merangkak karena penderitaan. Meski kita mengemis untuk sebuah kelonggaran, agar waktu sekejap saja mau mengerti dan berhenti berputar.

Karena malam telah tiba. Senja berlalu, detik telah menghancurkan satu-satunya senja yang mungkin dimiliki, dunia fatamorgana itu hancur oleh realitas. Tabir menyingkap diri ketika dunia berbisik ingin menunjukan siapa dirinya yang sebenarnya. Seberapa kuasa ia menghancurkan dua belas pasang tulang rusuk manusia. Menghancurkan setitik harapan dalam hati manusia dengan godam seleksi alam hingga lebur, menginjak mimpi-mimpi, meludahinya dan membakarnya oleh tiupan angin malam.
Malam itu gelap. Manusia takut akan kegelapan, karena manusia tidak dapat melihat dalam gelap, entah apa yang malam sembunyikan dalam kelamnya. 

Semua manusia memohonkan cahaya dalam hidupnya. Hampir tidak ada yang memohonkan kegelapan; membencinya. Namun, apakah terang akan tercipta tanpa gelap?

Kegelapan menciptakan ketakutan, membuat manusia menduga tentang apa yang akan di hadapi, manusia takut sendiri melaluinya; ketakutan akan keheningannya yang mencekam mengundang luka-luka yang tidak akan pernah benar-benar sembuh, mengingatkan tentang rengkuh kematian; membisikan bahwa malaikat mautnya sudah datang. Juga tentang rasa sendiri yang menghantui, malam mengingatkan tentang kesepian. Makanya sholat malam akhirnya menjadi sesuatu yang dianjurkan.

Kegelapan itu akhirnya datang, membawa iringan tangis yang menyesakkan; membuat sajak-sajak kehilangan; mengukir kisah baru dalam lembaran kertas putih dengan dunia tanpa cerita; bahwa cerita itu tidak akan tertulis lagi. Hanyut terbawa gelombang lalu terombang ambing dalam arus germerlap dunia yang menipu dan memanipulasi manusia yang ironis. Semua orang berubah; menjadi monster yang menakutkan. Menjadi predator yang memangsa daging saudaranya sendiri.  Dunia benar-benar berubah tanpa ada yang benar-benar bisa dilakukan untuk sedikit menahan lajunya.

Takdir terkadang tentang pilihan, tapi takdir juga bisa memilih. Dan saat manusia menjadi sang terpilih , maka tidak akan dapat di hindari. Takdir akan menemukannya meski  bersembunyi di dasar laut merah, atau di balik reruntuhan tembok Berlin. Takdir akan menemukannya. Dan orang-orang bilang; takdir tidak akan pernah tertukar. Tepat sasaran; tanpa negosiasi; meski harus mencabik-cabik seluruh kumpulan saraf yang manusia miliki, menginjak harga diri yang tak lagi berarti; dunia keras berusaha membuat semua manusia berpasrah diri. Sebenarnya pada Dzat tertinggi; tapi mau apa lagi kalau ternyata dia bukan satu-satunya? Sehingga tak ayal manusia menyembah manusia lain; menggantungkan harapan padanya. Menyembah binatang, menyembah iblis. Berpasrah diri padanya.

Siapa bilang kalau dunia ini tidak kejam? Bukan hanya satu orang yang paling menderita. Semuanya. Meski ada yang terlihat baik-baik saja; tampak kuat dan gagah; ia hanya sedang berpura-pura. Karena tidak semua orang pandai menyatakan kesedihannya, ada juga yang merasa bahwa kesedihan adalah kelemahan. Nope. Menangis lah jika itu perlu; lalu sudah. Kesedihan adalah bukti bahwa manusia masih memliki sifat manusiawi, walaupun pada kenyataannya mereka hanyalah kumpulan ciptaan tak tau diri, menerima nyawa tanpa menghidupinya. Lalu bersikap sombong karena kebodohan dan ketidaktahuannya.

Meskipun kegelapan menguasai saat ini, menciptakan gelap di sekeliling, malam tergelap a jam tiga subuh sekalipun akan berlalu. Setelahnya apa ? Fajar. Memberi harapan bahwa pagi akan menyapa, gelap kan berlalu; terbitlah terang.

Manusia terus terbentur, dengan berbagai cara, hidup menempanya, menyiksanya dengan penjajah bernama waktu yang memaksa manusia bekerja rodi untuk mencari setitik kolase demi terciptanya mozaik yang keseluruhannya akan memberitahu siapa manusia itu sesungguhnya; manusia harus dihancurkan lebih dahulu untuk menjadi dirinya sendiri.
Menerima harus memberi. Sebagai manusia yang hanya dianugerahi dua tangan mau apa? Dua tangan itu tidak akan mampu menggenggam semua partikel semesta. Kalau ingin menggengam yang lain, harus melepaskan lainnya. Selalu ada pengorbanan dan yang di korbankan untuk sebuah keinginan.

Lagipula, memangnya pernah ada yang mengatakan bahwa semua ini akan mudah? Tidak seorangpun. Tidak seorangpun yang akan mengatakan ini akan mudah; juga tidak ada cerita semua akan semakin berat. Manusia memang takut pada ketidaktahuan, pada dunia yang banyak menyimpan rahasia; keras kepala; kejam.

Bom waktunya telah pecah. Semesta tidak akan pernah sama lagi; bersiaplah, untuk lebih kuat dari sebelumnya. You never walk alone .

30 Mei 2020




Komentar

Postingan Populer