Perspective ; Ayo, merayakan kehilangan!
Apa itu waktu?
Relativitas? Realitas?
Sebenarnya dalam hidup, apa yang benar-benar kita miliki? Atau semuanya nonsens?
Bahkan satu detik dari waktu mampu mengubah segalanya, menciptakan tatanan baru atau menghilangkan satu-satunya bumi yang pernah kita miliki. Lalu apa? Tersisa semu. Meninggalkan kita dalam kekosongan untuk kemudian dipaksa bertahan tanpa peduli apapun.
Hidup juga nama lain dari kegelisahan terus menerus; bertanya-tanya tentang hari esok, entah apa bom waktu yang semesta siapkan. Namun, apapun sesuatu itu kita semua hanya memohonkan akhir terbaik.
Adakalanya kita ingin menahan senja untuk tidak berlalu pergi, karena sekali mega oranye hilang di kaki langit, maka senja itu tak pernah kembali. Terkubur bersama semesta yang berbuat sesukanya tanpa peduli dan harus meminta pendapat kita.
Kelemahan kita .
Siap tak siap. Mau tak mau. Perubahan pasti terjadi dan palu takdir pasti di jatuhkan; untuk di tetapkan. Perubahan itu tidak selamnya baik. Perubahan terkadang membawa rasa takut bersamanya, bersama ketidakmungkinan yang menyesakkan tapi hidup justru terus berlanjut.
Susah maupun senang. Tertawa dan menangis. Terluka dan bahagia.
Hidup, tidak ada kepastian di dalamnya; kecuali mati.
Terciptanya dunia dalam beberapa masa dalam kegelapan menyebabkannya menyimpan ragam belit misteri yang tak dapat di ramalkan.
Kembali lagi, apabila sudah masanya; apa yang harus terjadi, tetap terjadi. Pada akhirnya , tidak satu senjapun kita miliki. Dunia berubah; orang-orang juga. Hidup, berproses.
Bertemu pasti memiliki akhir berpisah. Apa yang kita genggam suatu saat hanya akan di hancurkan; tidak berharga. Memulai dari awal, tidak memiliki apapun ; begitu pun saat kembali.
Tapi hati meradang juga, memikirkan detik yang telah berlalu dalam lembaran usang sekaligus berusaha untuk menerima 'realitas' yang meski menyesakkan dan penuh ketidaknyamanan namun ada sisi dimana manusia tetap hanyalah manusia; penuh ketidakberdayaan dan kadang berlaku bagai bidak; tanpa bisa benar-benar berbuat apapun pada sesuatu yang harusnya terjadi.
Dunia juga nama lain dari tempat segalanya berlaga, untuk menakhlukan diri sendiri dengan segenap ego dan ambisi untuk berserah diri pada yang Esa, tidak peduli apapun yang terjadi. Dunia adalah seleksi alam, siapa yang kuat dipermainkan takdir, dia yang menang.
Apa semuanya benar-benar seperti bilangan yang di kalikan nol?
Bertanya dan terus bertanya ; dalam diam. Meski jawaban mutlak dan semuanya selalu memiliki penyelesaian yang sama ; Tuhan.
Mengembalikan semuanya pada Tuhan yang Maha Tau ; dan kita sepakat tentangnya.
Ketakutan. Over thinking. Menghantui kita semua, karena kita semua hidup dalam ketidakpastian ; berapa lama waktu yang kita miliki? Skenario seperti apa yang Tuhan rencana kan?
Adalah mengenai sajak tentang kehilangan. Detik berlalu untuk menyisakan penyesalan. Menyisakan ketakutan. Menggelorakan ketakutan. Kita semua terancam, singa bernama maut mengintai dari segenap penjuru untuk sewaktu-waktu mendapat perintah dan siap siaga selalu untuk menerkam kita; memusnahkan eksistensinya .
Tapi apakah hidup hanya mengenai ritme tatanan semesta?
Dilahirkan, sekolah, bekerja, menikah, tua, mati. dalam prosesnya harus mengusahakan yang terbaik. Kenapa begitu membosankan? Semua orang berusaha untuk itu. Tapi pada penghujung hari ; semu.
All we know, dunia bukan tempat yang seseorang mendramatisir untuk selalu memohonkan kebahagian setiap waktu, kalau begitu cara kerjanya tentu Tuhan tidak menciptakan surga, right?
Bisa kita hanya menerima, memangnya apa yang dapat kita lakukan untuk menghentikan waktu? Tidak semua hal bisa kita kontrol, semesta tidak dalam genggaman kita dan bumi bukan kita pusat rotasinya.
Siapkan saja sajak-sajak tentang kehilangan; dan berdamai dengannya . Merayakan kehilangan. Atau apakah pantas disebut kehilangan? Karena di dunia ini tidak ada yang benar-benar dapat kita miliki. Dunia tak bisa di genggam karena hanya terdiri dari partikel semu bahkan apakah diri kita sendiri nyata? Orang tua kita?
Lalu kenapa pada suatu hari yang tak pasti kapan kita menghilang dari bumi dan menyisakan hampa?
Satu persatu orang di sekeliling kita akan di rengut. Menyisakan hampa dan kekosongan ; kesepian dalam lorong sunyi dengan lantunan menyayat kalbu yang tak dipedulikan.
Semua yang di usahakan.. cita-cita; mimpi...
Lantas apa tafsir dari kesombongan? Hanyalah penjabaran dari ketidaktahuan. Bahwa dunia dan apapun yang kita miliki, hanyalah semu.
Semuanya akan hilang , berubah, berganti lalu menyisakan semu. Bersama kesepian dan kesendirian. Pikirkanlah. Jadi kita bisa merayakan kehilangan.
22 Mei 2020

Komentar