Perspective ; Semua orang itu baik, tapi...
Assalamualaikum..
Hari ini , nggak jauh beda dari postingan sebelumnya. Perhatian ku masih tentang manusia dan sudut pandangnya. Perspektif ; mengenai bagaimana mereka memandang dunia.
Manusia, sebagian dari mereka menampakkan kebaikannya, sebagian yang lain menutupi bahkan tidak merasa berbuat baik.
Manusia, banyak perspektif untuk sekedar menggambarkan seseorang, jadi terlalu kejam saat kita menggunakan satu poin saja untuk mendeskripsikan satu individu. Apalagi menggunakan satu alasan dari satu perspektif untuk pembenaran diri kita untuk membenci yang lain.
Karena pada dasarnya, semua dari kita ; manusia. Tidak pernah benar-benar punya alasan untuk membenci.
Kita hanya melakukannya saja.
Orang yang terlihat paling jahat sekalipun baik dilihat dari kata-kata, perbuatan, penampilan dan sebagainya yang menjadi tolak ukur sekalipun, memiliki sisi baik dan kadang hanya Tuhan yang tau dan segelintir orang saja.
Kadang, yang perlu kita lakukan adalah sesederhana mengesampingkan ego. Belajar melihat dari kacamata perspektif kebaikan untuk dunia yang lebih baik dan hidup yang lebih bahagia.
Yang terjadi justru kerap kita memilih untuk bertahan dengan kacamata negatif dalam melihat seseorang atau menghadapi suatu masalah.
Contohnya, Anak broken home menyalahkan kedua orang tuanya, yang katanya orang dewasa tapi tidak mampu mengambil keputusan lebih bijak lalu menjadikan itu pembenaran merusak diri sendiri. Memang, tidaklah mudah di posisi anak broken home . Tapi dosa atau kerusakan bukan kepada asal sesuatu di persangkakan tapi pilihan kitalah yang menentukan siapa kita.
Kita mencuri, membunuh, dengan alasan kemiskinan.
Semuanya hanya advokasi. Hisab kita adalah pilihan kita. Kita yang mau memilih hidup seperti apa. Menjadi orang seperti apa. Dengan pilihan yang kita miliki. Lalu kenapa kita mempersangkakan dosa dan kebuntungan yang kita hadapi dengan mencari kambing hitam dengan dalil luka, dengan dalil keadaan, dengan dalil tersakiti?
Apalagi dengan doktrin film Joker akhir-akhir ini yang ramai dijadikan slogan bahwa "orang jahat berasal dari orang baik yang di sakiti"
Pardon?
Kita semua tau, Nabi menjadi Nabi setelah melewati rangkaian proses panjang untuk ujian bertubi-tubi, dan tetap beriman. Tetap percaya pada hari esok yang lebih baik, tetap yakin bahwa ada kenikmatan yang ada diatas, bahwa segalanya pasti memiliki akhir dan memohonkan untuk akhir yang baik untuk semuanya.
Semua itu bukan alasan kita untuk tdiak bahagia, untuk menyakiti diri sendiri, untuk meratapi hidup..
Bagaimana jika bahagia kita selama ini kita yang menghalangi?
Berhenti mencari kambing hitam atas semuanya.
Begitu juga dengan seseorang. Berhenti mengganggap remeh dalam hal apapun.
Yang harus di tanamkan, setiap manusia itu berharga. Berharga di dalam ketidaksempurnaan dan kekurangan.
Karena itu manusia tidak bisa memberikan , tidak bisa menampilkan performa terbaik di setiap keadaan, manusia membuat kesalahan dalam pilihan-pilihan dan menyesal atasnya; menangisi di penghujung senja.
Begitu juga dengan orang tua kita, guru-guru, teman-teman, keluarga semuanya. Semua yang memberi mu luka. Mereka tidak sempurna sebagaimana kita. We are.
Wajar kalau kita merasa sakit hati, tapi untuk menyimpan dendam dan berniat membalas apapun itu , you know itu tidak wajar. Jangan membuat pembelaan apapun. Karena semua itu kita lakukan pun bukan dengan dalil kita orang baik melainkan menyelamatkan diri kita dari kegelapan. Menghentikan luka kita karena terus berdarah.
Karena jika kita terus mempertahankan kacamata itu, hal itu akan menghalangi kita dari kebahagian, melewatkan kesempatan dan peluang, menghisap energi kita yang sebenarnya bisa di akomodasi kan untuk hal yang lebih baik dan membahagiakan.
Karena kita pantas bahagia. No matter what.
Setiap individu diumpamakan memiliki iblis dan malaikat dalam dirinya sebagai analogi antara nurani dan nafsu. Ada kalanya kita berhasil mengalahkannya, namun terkadang kita terjatuh kedalamnya.
Kita semua setujukan bahwa dosa itu menggoda?
Berhenti membenci. Karena melakukannya, kita juga seperti menggiring diri kita dalam kegelapan, kehitaman hati yang mana, apabila hitam ia , hitam pula semuanya.
Dunia kita mendadak kelabu. Sementara dunia orang lain begitu penuh dengan pelangi. Apakah Tuhan yang salah? Bukan main.
Pernah nggak berpikir ending dari hidup kita yang super menyebalkan ternyata memiliki plot twist sebenarnya kitalah dalang muasal dari ketidakbahagiaan kita sendiri?
Kita yang menghalangi ketidakbahagiaan kita, kita penyebab diri kita menjadi antagonis di cerita orang lain, penyebab kerusakan pada diri kita. Pilihan kita.
Hanya karena kita tidak paham atas hikmah yang ada dalam setiap kejadian lantas pantaskah kita mengecam Tuhan tidak adil?
Kalau begitu untuk apa manusia berdo'a meminta Taufik? Taufik untuk membimbing kita untuk mengerti akan dunia yang hitam dengan tatanan gila serta ketidaksempurnaan setiap yang ada di dalamnya. Makanya, Tuhan selalu tidak membutuhkan manusia. Tapi manusia yang membutuhkan Tuhan.
Pernah nggak kita meminta untuk Tuhan menghapus semua luka? Memberikan Taufik untuk memahami segalanya?
Tidak semua orang mampu menjelaskan tindak tanduk dari setiap inci pergerakan dan satu sepersekon perbuatannya. Juga tidak semua orang suka membela diri. We never know what really happened in the behind.
Maafkan.
Lalu temukan satu kebaikan dalam setiap orang ; berpegang padanya.
Life with no fear and love without limit.
Good luck buddy!
18 Mei 2020

Komentar