Perspective : (Penilaian Manusia)


Assalamu'alaikum buddy. .!

How do you feel?

Okay, today yang bakal aku bahas disini kali ini adalah tentang penilaian manusia.

Apakah penting?

I think, of course!

But, buddy. . Itu bukan segalanya.

Kalau orang memuji kamu, menghina kamu, menyakiti kamu.. itu hanya sebatas lidahnya. Jangan terpengaruh.

Believe on yourself. Di dunia ini nggak ada yang lebih tau kamu, selain dirimu sendiri. Terserah orang mau bilang apa tentang dirimu, yang terpenting kamu harus percaya diri, dan tau betul who you are.

Jangan jadikan orang lain standar dalam berbuat, tapi temukan kebenaran untuk dirimu, tujuan yang jelas and percaya diri.
Seringkan kita dalam keadaan, pengen begini pengen begitu, akhirnya nggak jadi-jadi karena mikirin what people think. Nanti orang bakal bilang apa?

Orang. Orang. Orang.

Okay, kita patut merasa 'beban' sama perspektif society kalau yang kita lakuin itu salah. But, kalau apa yang kita lakuin nggak menganggu hak orang lain , nggak merugikan bahkan positif, why?

Bukankah memiliki pemikiran demikian membuat kita kerdil? Membuat kita berakhir tidak melakukan apapun dan menunggu perubahan datang dari jin layaknya Aladin yang bersekutu dengan jin setelah menggosok lampu ajaib.

Orang hanya mau mendengar apa yang ingin mereka dengar, dan melihat apa yang ingin mereka lihat . So, biarin semuanya berjalan lebih sederhana. Perkataan mereka yang kita percayai, yang kita jadikan afirmasi adalah orang-orang yang mendukung kita dalam kebaikan. Orang - orang yang mengerti tentang kita, meskipun, bagaimanapun juga semua itu juga tidak patut untuk dijadikan sumber kebenaran.

Jangan biarkan orang lain memegang kendali atas diri kita. Mendiktekan apa yang 'harus' dan 'tidak harus' kita lakukan. Jangan biarkan komentar orang lain sebagai tolak ukur kita dalam berbuat. Karena tidak semua manusia itu jujur. Yang jujur itu nurani kita sendiri.

Contohnya, seharian ini kamu mendapat banyak pujian atas kinerja kamu yang luar biasa, tapi ada salah satu rekan mu mengkritik. Yang kamu 'ingat' adalah yang mengkritisi. Sehingga hari mu mendadak menjadi mimpi buruk. Karena kamu percaya apa yang orang itu katakan. Memikirkannya di otakmu sehingga lambat laun perkataan orang itu akan tertanam di alam bawah sadarmu , endingnya, kamu benar-benar menjadi seperti yang orang itu katakan .

Tidak semua orang harus kita dengarkan. Kalau kata Imam Syafi'i hal yang paling mustahil itu adalah menyamakan perspektif manusia.

Mereka bisa berkata apapun. Tapi kita yang tau kebenarannya seperti apa, jangan menyiksa diri sendiri karena omongan orang lain yang hanya sebatas lidahnya. sebatas ketikan jemarinya yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Dan tidak ada gunanya juga menjelaskan semuanya pada manusia, mereka tidak peduli.

Manusia tidak punya alasan untuk membenci sebanyak mereka tidak punya alasan untuk mencintai.

Karena apapun yang kita lakukan. Bakal ada aja oknum yang nggak suka, tapi kamu tetap harus menunjukannya, apalagi kalau itu sesuatu yang positif, kamu butuh menerima diri kamu apa adanya sekaligus berusaha membuat perubahan menjadi versi terbaik dari diri kamu. Meskipun, nggak ada yang sempurna di dunia ini.

Sama seperti kisah Maryam. Yang hamil tanpa campur tangan laki-laki. Hanya ruh yang di tiupkan dalam rahimnya. Terjadi, maka terjadilah. Ketika semua orang menyalahkannya, menghina, menyindir dan lainnya.

Apa perintah Tuhan? Puasa berbicara. Diam. Silent.

Karena mau di jelaskan seperti apapun mereka tidak akan percaya. Mereka hanya percaya apa yang mau mereka percayai. Hanya itu. Jangan berusaha keras untuk menyamakan perspektif orang tentang mu, selalu ada perbedaan, man.

Kita yang paling tau diri kita. Sama seperti Maryam.

Toh diri kita juga sama kejamnya, terkadang. Menilai yang lain dengan seenaknya. Semudah lidah tak bertulang berbicara.

Terlalu peduli dengan penilaian orang lain juga bisa menelan diri kita sendiri dalam kegelapan, menimbulkan penyakit hati ;ingin dilihat. Riya'. Apa yang kita lakukan, harus di proklamirkan pada dunia, tidak ada yang salah. But, jika semua itu hanya untuk mendapatkan pujian dan pengakuan, bagaimana kita mengantungkan harapan pada hal itu, jika kita tidak mendapatkannya; kecewa. Apalagi malah orang lain yang mendapatkannya ; iri.

Buat apa sih kita sampai blood , sweat and tears hanya demi hal sereceh penilaian manusia? Kita layaknya orang bodoh, mengikuti apapun; they called trend hanya demi penilaian manusia. Kadang juga nggak tau tujuan kita melakukan hal itu apa?

Bersenang-senang? Just that?

Berusaha keras untuk melakukan sesuatu di media sosial demi sebuah komentar yang hanya sebatas ketikan, kita paksakan untuk menjadi realitas. Kita jadikan kebenaran, menyaingi firman Tuhan.

Karena kamu tidak percaya pada dirimu sendiri. Kamu butuh pengakuan dari orang lain, kamu tidak mengenal dirimu sendiri, oleh karena itu penilaian orang lain berpengaruh terhadap dirimu. 

Jika yang kamu terima adalah pujian, kamu akan senang. Jika berupa kritikan kamu membencinya.

Padahal jika kamu mengerti apa itu ikhlas , jika itu yang kamu prioritaskan, orientasimu dalam tindak tanduk perbuatan, sikap dan perbuatan mu tidak akan berubah manakala ada yang menghina ataupun memuji. Nggak ada pengaruh sama sekali ; high class.

Kita, baru berbuat baik sedikit ada yang mengomentari dengan kata pedas, sudah mendramatisir kesana kemari meminta pengakuan orang lain demi sebuah pembenaran. Bayangkan kalau kita di posisi Nabi yang menyampaikan kebenaran namun di lempar batu. Untung Nabi tidak lebay seperti kita. Seandainya Nabi lebay, dan bermental seperti kita. Islam tidak akan sampai kepada kita hingga sekarang.

Orang yang jelas tujuan hidupnya, tujuan dari setiap tindakannya, tau betul siapa dirinya, tidak akan terpengaruh pada penilaian manusia.

Nonsense.

Itu baru high class.

Kadang, kita terlalu takut menjadi diri sendiri, takut tidak diterima. Kenapa?
Karena penilaian orang lain? Kalau mental kita terbiasa seperti itu bagaimana kita bisa maju?

Semalam, aku main game TTS, disitu pertanyaannya, candi Budha terbesar di dunia. Jawabannya Borobudur!

Apa maknanya?

Borobudur di Indonesia, sebagai candi Budha terbesar di dunia merupakan bukti bahwa Nusantara ini pernah memiliki peradaban yang sedemikian rupa, tapi mengapa sekarang kita terperangkap dinamika ironi?

Siapa kita?

Kita dulunya adalah Sriwijaya. Kamu tau Sriwijaya?

Kerajaan yang pernah ada di Indonesia dan wilayah kekuasaannya hampir mencakup seluruh Asia Tenggara. Itu kita, Indonesia.

Kita pernah di juluki "Macan Asia".

Tapi siapa kita sekarang?

Betah menjadi kambing dan berteman dengan kambing bahkan ingin orang lain menjadi kambing yang serupa.

Karena takut pada penilaian manusia. 

Siapa yang membela Islam? Jika penilaian manusia yang sebatas lidahnya saja kita tunduk ; kita terpengaruh. Apa jadinya kita jika dihadapkan pada senjata api demi mempertahankan agama?

Lemah. Tidak punya karakter. Takut.

Hal remeh begitu saja kita takut. Terpaku pada mayoritas, meski itu salah sekalipun.
Kita malas berpikir. Yang kita pikirkan adalah bersenang-senang. Hanyut dalam dinamika trend yang sebenarnya tidak semuanya memiliki nilai baik, kita juga tidak tau apa gunanya. Hidup begitu saja, mengikuti arus.

Makanya perang paling menakutkan adalah perang pola pikir.

Pola pikir mempengaruhi mindset. Pola pikir yang benar melahirkan mindset yang benar, lalu perspektif yang benar mendorong perbuatan yang benar. Boom!

Perang senjata memang menakutkan, tapi yang lebih menakutkan dari sebuah pembangunan atau revolusi adalah pembangunan pola pikir.

Ayo kita sama-sama bangun! Memulai dari diri sendiri untuk mengubah sedikit demi sedikit pola pikir kita menjadi lebih baik!!!

9 Mei 2020


Komentar

Postingan Populer