Perspective : (Love Yourself)
Assalamu'alaikum by!
Saatnya kita ngawur-ngidul. Kali ini apa? Bukan, bukan tentang dosen imut lagi. Tapi tentang diri sendiri.
Memangnya ada apa dengan diri sendiri?
Bicara tentang diri sendiri itu too much, yeah. Mari kerucutkan pembahasan kita, biar nyambung. dengan merenungi, begini ; pernah nggak bertanya dalam hati? Pada cermin? Pada rumput yang bergoyang? Atau saat main filter Instagram?
"Kenapa harus aku?"
Kalau belum pernah nanya. No comment.
Lebih tepatnya, mau ngebahas pertanyaan : kenapa harus aku yang menghadapi kesulitan ini?
Yang jomblo dari saat lepasnya tali pusar. Ada.
Yang otaknya satu geng sama Patrick Star. Ada.
Yang ngerasa nggak punya bakat, terus ngomong melambaikan tangan ke kamera "i'm nothing" banyak.
Yang ngerasa payah dalam hal apapun, terus ngerasa "i'm loser" bejibun.
Yang ngerasa kesusahan bergaul, ansos, atau ketakutan sama orang karena trauma. Satu bikini bottom.
Dan banyak kesulitan-kesulitan lainnya
dalam diri kita. Konflik batin. Beberapa orang berhasil berdamai dengan keadaannya, sebagian yang lain masih ketinggalan zaman dengan menyalahkan diri sendiri ; membencinya, men-judge.
Pernyataan menarik aku temukan dalam novel Twilight, karya Stepanie Meyer untuk pembahasan ini saat Alice berkata pada Edward yang sedang down " kau diantara siapapun di dunia ini, barangkali adalah yang paling siap menghadapi kesulitan ini, kau adalah yang terbaik dan cemerlang diantara semuanya"
Kenapa kita?
Karena kita terpilih. Kita paling pantas. ahlinya. Tuhan menciptakan kita sebagai pemeran utama dalam cerita kita sendiri, sebagaimana sebuah novel yang terdapat konflik berbeda antara satu dengan lainnya. dan dalam cerita yang telah tertulis dari zaman azali itu , orang menyebutnya; takdir. Kita hidup. Melewati rangkaian takdir, dengan ragam rintangan berbelit yang tiada ujungnya, selesai satu, hempas... datang lagi.. cantiiik! Namun, setiap konflik itu pasti memiliki penyelesaian. Selalu ada akhir dari sebuah cerita.
Karena konflik itulah kita akhirnya berkenalan dengan jatuh bangun, dengan kegagalan, dengan luka, dengan kebahagiaan dan variasi emosi manusiawi lainnya yang rumit melebihi Teorema phytagoras atau trigonometri bahkan memusingkan dari rumus kimia yang soalnya lima suku kata namun memiliki penyelesaian sepanjang jalan. Nah, untuk itu setiap orang memiliki pengalaman berbeda, setiap manusia itu berbeda. Tapi apa harus baku hantam agar sama? Justru perbedaan itulah yang menciptakan cerita. Melukis warna dalam kanvas dunia yang monokrom. Jadi, nggak adil dong membandingkan sakit versi kita dengan orang lain. Ada yang terluka karena cinta di tolak, ada yang memilih langsung nembak yang lain. Ada yang memilih membunuh, ada yang memilih balas dendam, ada yang ke dukun. Banyak pilihan, kawan. Dan tiap orang berbeda pola pikirnya. Itu yang harus dihargai. Bukan untuk di ubah apabila itu terlihat menyalahi, tapi diarahkan. Semua orang punya iblis dan malaikat dalam diri. Manusia memiliki dua potensi itu. Hitam putih.
Manusia itu paradoks; waktu yang kita lalui memberlakukan hukum relativitas, dan psikis kita berbeda. Karena itu. . shallow, meremehkan rasa sakit orang lain.
Manusia itu paradoks; waktu yang kita lalui memberlakukan hukum relativitas, dan psikis kita berbeda. Karena itu. . shallow, meremehkan rasa sakit orang lain.
Namun terlepas dari bagaimana bentuk konflik kita, yang hanya bisa dipahami oleh diri kita sendiri. Sehingga membuat mata kita menghitam sepeti panda, membuat kita tidak minat menjalani hari-hari seakan kita telah hidup ribuan tahun lamanya. Merasa useless, hopeless, lost. But hanya kita yang bisa menyelesaikan masalah itu dalam tekanan, dalam cerita, dalam keadaan kita masing-masing. Mau gimana lagi dong, cuma kita yang paling kuat menghadapi masalah itu. Kita sang terpilih untuk menghadapi masalah yang kita hadapi saat ini, kesulitan-kesulitan, keterbatasan, ketidakpercayaan, ketidakmampuan, ketidakmungkinan, all of that.
Kita semua pasti pernah ngomong ke teman kita atau minimal berbicara dalam hati atau terlintas di pikiran" kalau aku jadi kamu... Aku akan.." yaps, different. So simple , karena kamu bukan dia. Tugasmu bukan menciptakan orang seperti mu, seakan kamu sebenar-benarnya manusia, tapi menenangkan, membuka pikirannya yang buntu.
Kata Ron Weasley pada Harry Potter, manusia itu tidak bisa merasakan banyak emosi di dalam dirinya ; ia akan meledak.
Meledak . Kayak cewek, pelariannya nangis bombai. Padahal nggak tau nangis buat apaan, bahagia nangis, sedih juga nangis.
But, sepelik apapun kelihatannya, serumit apapun ketika di pikirkan, segala sesuatu itu memiliki masanya.
Pernah aku baca kata-kata bijak dari Ali bin Abi Thalib yang kurang aku ingat detailnya tapi inti yang dapat aku pahami adalah beliau said, bahwa jika kamu menghadapi sesuatu yang kamu benar-benar udah mentok; buntu , benar-benar gak tau lagi harus ngapain, kayak semua usaha udah dilakukan, udah ikhtiar semaksimal mungkin, udah do'a, udah pakai cara-cara orang yang di ridhoi Allah, InsyaaAllah. But, nihil. You don't have idea. (Beda lagi ceritanya kalau kamu cuma rebahan dan scroll timeline Ig. Artinya nggak ada usaha)
Maka, finalnya kita cuma bisa menunggu. Menunggu sesuatu itu habis masanya.
Kesalahan dan kegagalan, dimaafkan oleh waktu. Tapi, masalahnya adalah diri sendiri. Yang enggan berdamai. Kebanyakan orang mengartikan memaafkan, move on, berdamai dengan keadaan sama dengan melupakan . Nope, kita nggak mungkin bisa melupakan hal yang melibatkan emosi kita terlalu dalam kecuali dengan jalan membenturkan batok kepala ke beton sampai amnesia. Itupun ada kemungkinan ingatannya balik.
Misalnya, melupakan kenangan tentang perkataan orang lain yang benar-benar menyinggung sisi sensitif kita, membuat kita terluka sedemikian rupa sampai segalanya tak bisa lagi sama. Melupakan seseorang yang pernah memberi kita kenangan yang indah namun karena waktu dengan bomnya selalu meledak di saat tak terduga dan menciptakan keadaan yang rumit di jelaskan sehingga kenangan yang seharusnya indah itu mengubah perspektif kita seutuhnya dan menyebutnya ; luka. Berubah menjadi mimpi buruk. Jika kita pernah mengalami hal sedemikian rupa dengan jutaan analogi cerita dan keadaan yang berbeda, tentunya. Melupakan hanya kata lain dari omong kosong.
Bullshit. Yang ada bukan lupa, tapi semakin teringat. Semakin menyiram luka dengan garam setiap hari untuk membuatnya sesegar kemarin, hidup meniban luka yang melelahkan, terpaku pada penyesalan, berakhir menyalahkan diri sendiri pada setiap pilihan dan keputusan masa lalu. Membiarkan jiwa menggelap dengan pengabaian. Menuding, mencaci diri sendiri. Kenapa terlalu kejam pada diri sendiri?
Buddy, please, love yourself.
Apapun yang kamu hadapi;perjuangkan sekarang itu, karena kamu terpilih, kamu spesialis yang bisa menghadapi; menakhlukan kesulitan itu. Kamu yang paling cemerlang diantara semuanya.
Percayalah, kalau kamu dapat bertahan sejauh ini, kamu juga memiliki kekuatan untuk mengubah nasib, mengubah keadaan. Membuat plot-twist dalam hidupmu, sesuai dengan yang kamu inginkan.
Waktu terlalu singkat. Kamu nggak akan tau seberapa hebat diri kamu sebelum kamu berani mencoba, kamu nggak akan tau kekuatan terbesar kamu, kekuatan maksimal kamu sampai kamu berada pada keadaan dimana kamu dipaksa untuk bertahan. Seperti saat ini, walaupun kamu mengatakan kalau kamu orangnya masa bodoh, kalau kamu nggak peduli sama dunia, tapi jauh di dalam sana; hampa. Iyakan? Kamu mencoba lari dari sesuatu yang harus kamu hadapi, gak bisa naik level. Mau balik ke masa lalu dan mengubah semuanya, gak bisa. Kamu nggak punya mesin waktu untuk itu. Mau berjalan ke depan, hambar. Ada yang menghalangi. Karena ibarat game, kamu nggak bisa ke level selanjutnya sebelum menyelesaikan level saat ini. Stuck. Yang tersisa apa? Hampa.
Hampa adalah sahabat yang merupakan alarm bahwa kamu sudah terlalu lama mengabaikan jiwamu yang kelelahan. Rohani mu butuh ketenangan, kedamaian. Butuh nilai-nilai baik. Butuh sendiri dan merenung. Tentang dirimu, tujuanmu, hidupmu. Hanya tentang kamu, karena dirimu dan tentang kamulah yang kelak kamu pertanggungjawabkan. Bukan tentang doi yang nggak peduli sama kamu. Hahahaha.
Tuhan itu memberikan ujian, masalah, dan ragam kesulitan yang menjabat tanganmu tiap detik itu, menghimpit dada dan pundak mu dengan tekanan itu semua karena ia akan memberikan hadiah spesial. Kan sudah aku bilang kalau dunia nyata bukan dongeng cinderella yang punya ibu peri untuk mengubah nasib, jadi Tuhan butuh di buat percaya untuk menilai apakah kita pantas untuk mendapat jawaban dari do'a-do'a kita, kuncinya sabar, karena semua butuh proses yang panjang. Dan tidak sama setiap orangnya; kalau kita tidak paham sekarang dan sering teriak di bantal " why??" Kalau kita orang Inggris "waeyo?" Kalau kata Kim Taehyung. Eits, man, itu bukan karena Tuhan tidak adil. Pemahaman akan menyusul kemudian, saat semua sudah habis masanya dan kita menilik kebelakang, hm, barulah kita sadar, kalau tidak begini, maka tidak akan begitu. Everything happens for a reason. Kita semua setuju, right? Pada akhirnya, tidak ada sad ending dalam setiap rekam jejak langkah kita. Karena apapun yang telah atau akan terjadi, semuanya tidak sia-sia belaka. Memiliki pelajaran dan hikmah diantara semuanya kalau kita berhenti untuk mengacungkan jari tengah dan bersikap tidak peduli.
Kalau kamu mau berbesar hati, berdamai dengan diri sendiri, kamu akan mengerti, bahwa apapun yang pernah terjadi adalah the most beautiful moments in life.
Percaya pada dirimu dan Tuhan akan percaya padamu. Bukankah Tuhan adalah apa yang kamu persangkakan?
Sekarang, belajar. Untuk berdamai dengan diri sendiri, mengubah perspektif dengan kebaikan. Dunia ini tergantung sudut pandang, dan kamu, adalah apa yang kamu pikirkan. Realitas itu hanya ada dalam kepala, man. Kamu yang menciptakannya. Kalau kamu memandang kamu tidak cukup pantas, maka dunia akan melihatmu sama. Karena itulah caramu memandang dunia.
Dunia ini semu, maya. Dunia juga tercipta dalam kegelapan, jadi menyimpan banyak rahasia. Diantara semuanya pernahkah kamu berpikir kenapa manusia didaulat menjadi ciptaan paling sempurna sementara pada realitasnya sangat ironis. Semua itu karena akal pikiran.
Pikiran yang menciptakan realitas. Ingat itu buddy.
Kalau kamu merasa kamu adalah seorang loser, yes you are. Maka otak mu akan mengkoordinasi tubuhmu, menanamkan di alam bawah sadar that you are. Sugesti.
But, jika kamu berpikir kamu mampu. Maka itu menjadi realitas. Itulah pentingnya berpikir positif, man. Kamu mungkin menyebutnya omong kosong.
Tapi, coba saja kalau tidak percaya.
Aku bukan menulis untuk doktrin omong kosong. Bahwa aku pernah membuktikannya. Kita tidak bisa menulis apa yang tidak pernah kita alami dan kita pelajari, man.
Ada itu selalu karena ada yang mengadakan.
Jadi, cintai dirimu sendiri. Berdamai.
8 Mei 2020

Komentar