Perspective : Berilmu, tapi sombong?
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum ges!
Tanpa perlu banyak mukadimah dan aku tipe manusia to the point'; kita langsung nikah. Eh, salfok! Maksudku langsung masuk ke ngawur-ngidul secara random karena ini adalah random galaksi.. yuhuu!
Cekidot! Saatnya serius mode on!
Are you ready? I ready capten! Aye aye aye! Blackpink!
llmu.
Ilmu seharusnya bisa membuat manusia lebih baik. Tapi bagaimana dengan ilmu yang menjadikan seseorang sombong?
Sombong menyaingi Tuhan. Berusaha membuat aturan menyaingi firman Tuhan dengan pembenaran , dengan advokasi akal. Akal yang telah tercampur dengan hawa nafsu, akal yang telah terikat dengan ambisi, akal yang telah buta karena benderang dunia dan segala godaannya yang selalu menarik sisi binatang dari manusia.
Sehingga manusia menutupi kebenaran. Kebenaran yang sesungguhnya ada dalam benak. Kebenaran yang memberontak meminta di suarakan. Kebenaran yang terus bergejolak dalam sukma meminta di tegakkan.
Because all we know, tapi memilih buta. Kita tau, tapi memilih tuli. Kita tau tapi memilih bisu. Terus belajar, dengan tujuan mencari alasan yang kelak kita jadikan prinsip sebagai pembenaran untuk membenarkan perbuatan kita yang sesungguhnya mengusik kebenaran yang kita tutupi..
Tidak ada yang salah dari kata ;liberal, moderat. Namun, ada hal yang mutlak. Al Qur'an; Hadist.
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu athii'ulloha wa athii'ur-rosuula wa ulil-amri mingkum, fa in tanaaza'tum fii syai`in fa rudduuhu ilallohi war-rosuuli ing kuntum tu`minuuna billaahi wal-yaumil-aakhir, zaalika khoiruw wa ahsanu ta`wiilaa
"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 59)
Jika kamu beriman.
Yah, hanya untuk golongan itu. Sejauh mana kita percaya?
Akui saja kita ingkar. Tapi tolong jangan berdalih. Jangan. Karena kita bani Adam; bukan kalangan iblis.
Adam, berbuat salah; mengakui; menyesal; bertobat.
Iblis, berbuat salah; mencari pembenaran; merasa benar; tidak pernah menyesal.
Keduanya sama-sama makhluk Allah dan berbuat dosa; melakukan kesalahan. Tapi, hanya Iblis yang di kutuk selama-lama nya di dasar neraka.
Mencari pembenaran. Iblis berdalih "buat apa gue sujud sama Adam? Gue diciptain dari api. Sementara Adam dari tanah?"
Itu di jadikan Iblis sebagai prinsip, di jadikan tameng kebenaran. Sehingga ia selamanya buta; memilih ingkar karena keegoisan; karena kesombongan. Memilih menjadi musuh Allah. Dan tidak akan pernah memiliki pandangan tentang kebenaran, bahwa Allah Maha Tau.
Kita semua pasti terbentur di dunia ini; banyak kejadian yang menyapa kita, dan kita dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit; sehingga terkadang kita buta, tuli, bisu. Pandangan kita nanar, terkadang apa yang menimpa terlalu berat untuk kapasitas kita sehingga membuat kita depresi ; ingin melangkahi saja hukum Tuhan. Toh, yang kita hadapi terlalu sulit untuk diri kita sehingga bisa dong hal itu di jadikan pembenaran?.
"Gue jatuh cinta dan gue pacaran, boleh dong? Kan gue nggak pernah minta jatuh cinta sedalam ini, Tuhan yang memberikan rasa ini"
Busyet.
Pertanyaannya apa Allah memerintah buat pacaran? Nggak!
"Heh kampret! Gue nyuri karena gue terlahir miskin, salah Tuhan dong mentakdirkan gue lahir di keluarga miskin!"
Tapi Allah nggak pernah memerintah untuk mencuri.
Apapun itu tentang pilihan. Pilihan yang menunjukan seperti apa kita sebenarnya.
Bukan advokasi; berkelit dengan lidah tak bertulang dengan argumen cerdas mengutip berbagai pendapat dengan logika selangit; but, Allah Maha Tau Apa Yang di Kerjakan? Yahh, gimana dong?
Nyatanya Allah lebih mengetahui. Seperti yang Allah katakan pada iblis saat penciptaan Adam.
Kita terbentur; membuat pilihan keliru ; hanya perlu kembali . Tidak perlu membuat advokasi berdiskusi dengan Allah dan firman-Nya untuk berubah sesuai dalil yang kita buat sendiri. Untuk menawar aturan dengan mempelajari banyak ilmu dengan tujuan mencari advokasi; menutupi kebenaran karena terlalu loser untuk mengakui kesalahan.
Lebih baik salah; mengakui salah di banding mencari pembenaran pada sesuatu yang jelas salah namun mencoba menyamarkannya dengan banyak advokasi yang terasa benar untuk membenarkan hawa nafsu. Which is jika terlalu dituruti hanya akan menghantarkan pada jurang kehancuran.
Juga jika terus di doktrin pada orang lain akan membawanya pula ke dalam palung kesesatan.
وَلَا تَمْشِ فِى الْاَ رْضِ مَرَحًا ۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَ رْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَا لَ طُوْلًا
wa laa tamsyi fil-ardhi marohaa, innaka lan takhriqol-ardho wa lan tablughol-jibaala thuulaa
"Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 37)
Kita tau firman Allah, aturan Allah, tapi dengan mencari pembenaran saat kita ingkar, hanya akan mengeraskan hati; membuat kita tiada rasa bersalah dan secara tidak langsung merasa lebih pintar dari Tuhan karena argumen kita sendiri yang kita anggap benar ; meski kita tau sedang berkhayal menjadikan kita terus dan terus menerus kecanduan dan terpikir mengajak lebih banyak orang dengan dalil menyampaikan kebenaran ; yang memiliki makna kita sedang tidak percaya diri dan ketakutan jadi butuh dukungan untuk sama-sama menutupi kebenaran.
وَقَدْ مَكَرُوْا مَكْرَهُمْ وَعِنْدَ اللّٰهِ مَكْرُهُمْ ۗ وَاِ نْ كَا نَ مَكْرُهُمْ لِتَزُوْلَ مِنْهُ الْجِبَا لُ
wa qod makaruu makrohum wa 'indallohi makruhum, wa ing kaana makruhum litazuula min-hul-jibaal
"Dan sungguh, mereka telah membuat tipu daya padahal Allah (mengetahui dan akan membalas) tipu daya mereka. Dan sesungguhnya tipu daya mereka tidak mampu melenyapkan gunung-gunung."
(QS. Ibrahim 14: Ayat 46)
Sadarkah yang kita lakukan hanya membuat tipu daya? Tipu daya terhadap kebenaran yang seterang mentari namun kita membantu kaum kafir dengan memakai argumen cerdas mereka demi membenarkan hawa nafsu kita untuk membuat pembenaran yang dengannya menjadikan kita pecundang ; tidak berani mengakui kesalahan.
قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَآئِكُمْ مَّنْ يَّهْدِيْۤ اِلَى الْحَـقِّ ۗ قُلِ اللّٰهُ يَهْدِيْ لِلْحَقِّ ۗ اَفَمَنْ يَّهْدِيْۤ اِلَى الْحَقِّ اَحَقُّ اَنْ يُّتَّبَعَ اَمَّنْ لَّا يَهِدِّيْۤ اِلَّاۤ اَنْ يُّهْدٰى ۚ فَمَا لَكُمْ ۗ كَيْفَ تَحْكُمُوْنَ
qul hal min syurokaaa`ikum may yahdiii ilal-haqq, qulillaahu yahdii lil-haqq, a fa may yahdiii ilal-haqqi ahaqqu ay yuttaba'a am mal laa yahiddiii illaaa ay yuhdaa, fa maa lakum, kaifa tahkumuun
"Katakanlah, Apakah di antara sekutumu ada yang membimbing kepada kebenaran? Katakanlah, Allah-lah yang membimbing kepada kebenaran. Maka manakah yang lebih berhak diikuti, Tuhan yang membimbing kepada kebenaran itu, ataukah orang yang tidak mampu membimbing bahkan perlu dibimbing? Maka mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?"
(QS. Yunus 10: Ayat 35)
How?
Bagaimana cara kita mengambil keputusan? Jawablah ayat itu dengan hati kita sejujur-jujurnya. tepikan sombong; kesampingkan ego sejenak. Apakah kita benar-benar percaya Tuhan? Apakah kita dikatakan percaya pada Tuhan hanya karena manusia menyebut kita ustadz? habib? soleh? soleha? orang baik? pendakwah?
Siapa yang sebenarnya kita percayai? Einstein? Newton? Gandhi?
Kita boleh percaya tapi jika berbenturan dengan Allah?
Banyak orang menampakkan kebodohan karena men- Tuhankan nafsu.
Ternyata kita masih tak paham cara Tuhan bekerja mengadili hamba-Nya.
Apa kita pikir menjadi pendakwah dan di panggil ustadz/ustadzah , dianggap orang baik lantas kita sudah pasti masuk surga sehingga merasa lebih baik dari orang lain?
Maka pantas saja kita berbicara tapi hanya menunjukan kebodohan kita saat kita memberikan advokasi pada sesuatu yang telah jelas; ironis.
Apa dunia sudah segelap ini?
وَمَا يَتَّبِعُ اَكْثَرُهُمْ اِلَّا ظَنًّا ۗ اِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِيْ مِنَ الْحَـقِّ شَيْـئًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ بِۢمَا يَفْعَلُوْنَ
wa maa yattabi'u aksaruhum illaa zhonnaa, innazh-zhonna laa yughnii minal-haqqi syai`aa, innalloha 'aliimum bimaa yaf'aluun
"Dan kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Sesungguhnya dugaan itu tidak sedikit pun berguna untuk melawan kebenaran. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan."
(QS. Yunus 10: Ayat 36)
Ilmu kita pada akhirnya percuma. Karena hanya diarahkan untuk menciptakan tatanan baru berlabel kan lillah padahal Allah Maha Tau; kita menciptakan teori, menjabarkan berbagai ilmu pengetahuan dengan perspektif dari segala arah demi membenarkan perbuatan kita yang mirisnya kita sendiri sudah tau bahwa itu salah.
Ada apa dengan diri kita? Kenapa menjadi sekeras ini? Pada akhirnya yang kita usahakan hanya akan menjadi bilangan di kalikan nol. Hasilnya nol; kosong; nihil. Malahan kita akan di lemparkan dalam neraka jika sampai akhir tetap berperilaku demikian. Kita tidak akan mampu melawan kebenaran. Dan kebenaran adalah milik Tuhan. Kita bukan saingan Tuhan.
Jadi, jangan sampai kita menjadi golongan orang yang sudah tidak dipedulikan Tuhan karena terus 'ngeyel' dan terlalu 'pintar' sehingga Tuhan membiarkan kita saja dalam kesesatan yang begitu menggoda.
مَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَلَا هَا دِيَ لَهٗ ۗ وَ يَذَرُهُمْ فِيْ طُغْيَا نِهِمْ يَعْمَهُوْنَ
may yudhlilillaahu fa laa haadiya lahuu wa yazaruhum fii thughyaanihim ya'mahuun
"Barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi petunjuk. Allah membiarkannya terombang-ambing dalam kesesatan."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 186)
Wallahu'alam.
24 Mei 2020
(Eid Mubarak 1441 Hijriyah)
Kata semesta mengucapkan, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Wish you all the best.🙏🙏

Komentar