Perspective ; Ketika wanita jatuh cinta


Teruntuk mu. .

Wanita.

Beban begitu besar tertimpa di pundak mu. Tentu saja, kau tidak bisa selamanya bersikap selayak anak baru gede ; yang bersikap semaunya, berbuat sesukanya; merasa tidak butuh dari satupun manusia di bawah naungan semesta; tidak bisa terus mengacungkan jari tengah pada apapun; karena waktu telah berubah, manusia pun juga. Termasuk kau.

Bersikap demikian sama juga dengan kau mengabaikan diri sendiri; meludahi citra diri di usia yang ironis. Jika sekali dibiarkan, terus di jadikan prinsip dan mencari pembenaran, hingga waktu tersisa satu senjapun kau tidak akan pernah belajar.

Waktu berlalu, berbagai keadaan dialami, rintangan mendera, namun kau tak kunjung belajar. Even though tidak semua dari manusia kita resapi wicaranya; karena akan mengotori hati, tetapi beberapa diantara mereka memberi pelajaran.

Beberapa orang yang di takdirkan dalam hidup kita, adalah untuk singah, menjadi pemeran sesaat atau selalu ada ; namun tidak terlalu kita pedulikan, kita tidak kunjung belajar dan memilih menyesal kelak di penghujung senja.

Jatuh cinta dan memilih untuk terjatuh itu sangat berbeda. Semua orang jatuh cinta, namun pilihan lah yang membedakannya. Pilihan yang menentukan kita orang seperti apa. Itu hukumnya.

Teruntuk wanita, berhati-hati lah saat memilih terjatuh. Karena setinggi apapun pendidikan, sekaya apapun, betapapun terhormat, wanita tetap lah wanita; meski ia berusaha keras untuk tidak demikian , but heart want what it want. Wanita selalu melakukan kebodohan, bersikap tolol, membutakan mata, menulikan telingga.  Dan paling suka mencari pembenaran pada kebenaran yang telah seterang mentari.

Kebanyakan wanita memilih untuk tidak bahagia; Kartini akan menangis, tentu saja. Karena kenyataannya keterbelakangan pola pikir, dijajah ketakutan, wanita dewasa ini berbeda dengan dulu ; benar-benar dijajah, kini memberikan dirinya untuk dijajah.

Dijajah oleh rasa takut kehilangan, percaya dengan janji-janji manis pria yang tiada jaminan, membodohi diri sendiri karena tak ingin sendiri dan memilih hidup selamanya di ikat oleh pria tak tau diri.

Wanita akan hancur jika tidak tau betapa berharga dirinya. Hati-hatilah wanita, jangan gegabah mengambil keputusan, karena sekali dirimu keliru memilih jalan, waktu tidak akan main-main dan akan mengeksekusi mu dengan kejam dalam waktu yang terasa selamanya.

Wanita pasti akan menjadi objek 'kambing hitam' oleh society sayangnya wanita tidak pernah belajar, terpana pada cinta sekilas yang serupa senja yang membutakan dengan mega oranye, kemudian apa yang tersisa setelahnya? Kegelapan.

Terlalu lemah bertindak dengan alasan cinta, karena cinta adalah perasaan, kadang tercampur hawa nafsu dari manusia. Cinta juga merupakan ujian; lelaki, seperti halnya wanita yang menjadi ujian bagi lelaki. Tapi pernah kah kau berpikir pada esensi silabel kalimat itu?

Mungkin ketika kau jatuh cinta, karena kau bahagia lantas semua orang di sekeliling mu mendadak bagai figuran, karena dunia milikmu kau merasa menggenggamnya; semua orang adalah kumpulan orang menyebalkan; jika ada yang berkomentar kau katakan dengan sinis ; iri! Atau mendramatisir : " kenapa Baim nggak pernah bisa bahagia Ya Allah?"

Aku tidak setuju dengan Al Ghazali yang mengatakan cinta itu buta dan tuli dalam salah satu lirik lagunya; karena manusialah yang buta dan tuli pada kebenaran. Cinta berlapis nafsu.

Karena cinta yang sejati, pada hakikatnya memberi dan mendamaikan bumi, bukan cinta yang membawa mudharat, menciptakan suasana tidak nyaman di sekitar, membuat banyak pihak terkorbankan. Karena cinta selalu membahagiakan, seperti cinta Allah kepada Hamba-Nya, cinta tidak pernah pamrih, cinta membawa kepada kebaikan, kasih sayang. Namun, jika cinta berubah menjadi pertanyaan, cinta yang membuat kerusakan, cinta ataukah keegoisan?

Cinta tidak pernah membuat kita kehilangan diri sendiri; tapi cinta akan membuat kita menemukan diri sendiri. Kalau cinta mengubah mu, menjadi sosok yang berbeda dalam konotasi negatif; pertanyakan cinta yang kau pertahankan?

Cinta ataukah obsesi untuk memiliki? Wanita kalau sudah terjatuh terlalu dalam; they called love. Mereka akan memberikan segalanya, berkorban tanpa henti; menjadi budak bersikap bodoh meski dalam nurani yang memiliki segudang nilai kebaikan berteriak dengan lelah; dia bukan lelaki yang pantas kau perjuangkan!

Wanita paling suka menyakiti diri sendiri; bagai wanita gila ibarat mencari jarum dalam jerami mencari titik kebaikan lelakinya ; tunduk dalam dominasi lelaki itu berharap dicintai karena berprinsip pada cinta yang ironis. Terpana bagai orang buta baru melihat matahari pads janji-janji semu ; beriman kepadanya.

Sadarlah wanita! You deserves better. Kau lebih dari pantas untuk bahagia, menyerahkan dirimu pada pria yang sejujurnya tak tau diri, atau mengabaikan ragu mu yang menghantui, berangan dengan mencari pembenaran pada lelaki yang pada dasarnya tidak seserius itu jika kau memaksakannya ; kau membiarkan dirimu selamanya dalam neraka berjalan.

Pilihan kau lah yang menentukan seperti apa kau sebenarnya.

Jangan memilih buta dan tuli! Stop it!  Karena kelak, sekali kau memberikan dirimu pada lelaki yang kau bahkan masih ragu terhadapnya; kau tak akan pernah kembali; semuanya selalu terlambat ; karena kau telah berbeda.

Camkan itu. Renungkan lah barang sejenak; berhentilah abai, tekan rasa yang membludak, apa yang kau percayai dari perasaan? Rasa yang tidak memiliki kekuatan, bahkan satu detik pun mampu mengubahnya, menghancurkan satu-satunya semesta yang kau miliki.

Terlalu dangkal berbuat nekad bertameng 'cinta' . Karena hidup selalu memiliki hukum kausalitas, hukum sebab akibat. Pilihan selalu menuntut konsekuensi; jangan kau buat Ayah mu di posisi memakan buah simalakama, orang tua selalu tau. Mengenal anaknya; tapi lagi-lagi kasih sayang mereka sepanjang jalan; sementara anak sepanjang lengan. Anak tidak memikirkan sebanyak orang tua memikirkannya, seorang Ayah terlalu terluka jika menyerahkan putri tersayangnya pada lelaki yang serupa Adolf Hitler.

Konsekuensi dari pilihan juga berimbas pada orang yang kau anggap figuran-figuran bodoh di sekitar, kau berpikir jangan pedulikan aku! Tapi mereka tidak bisa berhenti peduli ; karena mereka memang peduli dan penuh kasih sayang.

Kau pilih kacamata membandingkan diri dengan a, b dan c dengan satu perspektif egois paling menunjukan kebodohan di bumi. Padahal kenyataannya tidak seorangpun memiliki keadaan yang serupa, pemikiran yang sama, takdir yang identik.
Mau sampai kapan betah membodohi diri sendiri?

Jatuh cinta memang menyenangkan; tapi kau tidak bisa meludahi fakta bahwa di balik rasa meletup bagai kupu-kupu beterbangan di hati itu;  jatuh cinta juga merupakan ujian.

Pikirkan baik-baik ibarat kau adalah bidak catur, sekali kau melangkah, selalu ada konsekuensi dari langkah yang kau ambil. Salah langkah, maka waktu akan mengeksekusi dirimu atau menelan orang-oranh di sekitarmu tanpa ampun.

Berhentilah bersikap tidak peduli . You should love yourself. Jagalah marwah mu sebagai wanita; yang terhormat dalam Islam.

Akhir kata..

Ciao!

26 Mei 2020



Komentar

Postingan Populer