Perspective : Ad - Duha
Sebuah tulisan era lawas. Entah apa yang aku alami saat ini. kecuali kenyataan bahwa aku pernah di titik ini. Terasa sedih.
Di keheningan malam yang berbeda namun memiliki rasa sakit yang sama, klasik.
Keluhan yang sama, masalah yang sama, dan kesedihan yang sama.
Apa bedanya?
Sejenak aku heran. Pertolongan-Mu yang belum sampai ataukah otak ku yang loading lambat untuk memahahami segalanya?
Hanya pada-Mu aku bisa berbicara, Kau pun tau itu. tentang kerasnya dunia dan kebingungan ku. Nope, aku tidak akan menyalahkan-Mu lagi akan segalanya. Aku bukan ABG labil lagi yang dengan konyolnya menyalahkan-Mu dalam posisi tidak mengenal-Mu sama sekali.
Si bodoh itu.
Ah, sekarang juga masih sama bodohnya.
Apa bedanya?
Kau telah memberi aku segalanya. Yang aku butuhkan. Nikmat-Mu tak akan pernah mampu ku data satu persatu. Kau memberi;ku anugerah dan karunia bernama kehidupan sebagai khalifah pewaris bumi.
Tapi, apa bedanya?
Aku tetap bodoh. tidak bisa memanfaatkan hidup yang Kau beri dengan maksimal, tidak bisa melakukan sesuatu yang terbaik untuk karunia yang Kau beri ini..
Aku sebenarnya sudah merasa cukup akan semua yang Kau beri padaku, terlalu tak terhingga, bahkan terkadang, tanpa pernah aku meminta..
Tangan ini..
Mata ini..
Dan semuanya--sempurna.
Membuat aku malu jika harus meminta lebih. Jika aku meminta apa sama dengan tak bersyukur?
Tapi, manusia tidak akan pernah merasa cukup begitu pula dengan aku, manusia tidak pernah tahu diri, manusia serakah, manusia banyak maunya, manusia itu luar biasa bodoh. Begitupula aku .
Aku tetap merasa kekurangan padahal aku diciptakan dengan sebaik-baiknya.
Aku sadar akan hal itu. Tapi, untuk apa Kau punya sifat Maha Pemberi jika manusia berdosa jika meminta?
Kau di sifati demikian karena meminta adalah fitrah manusia.
Bahkan, Kau senang bukan akan hal itu? Jika tidak, mana mungkin Kau repot-repot turun ke bumi di sepertiga malam dan mengatakan 'Adakah hambaKu yang meminta? Akan ku kabulkan'
Jadi, sebelumnya aku ingin mohon ampun jika permintaanku kurang berkenan, aku takut Kau marah, karena aku pun mahfum karena Kau Yang Maha Tahu lebih tau apa yang terjadi padaku, Kau tau masalah ku, bahkan Kau tau apa yang mendalangi semua-Nya.
Jadi, Aku mohon ampun. Tolong jangan catat sebagai dosa bentuk kepolosanku ini.
Aku tak tau lagi kemana harus ku bagi segala keluh kesah, Maha Benar kata-Mu, manusia itu memang makhluk yang selalu berkeluh kesah.
Engkau tau siapa aku lebih dari siapapun. bagaimana hidupku dan segala kebodohan serta dosaku. Dan itu mungkin membuatmu geram, bagaimana tidak?
Engkau yang telah memberiku kehidupan ini cuma-cuma dengan segala kesempurnaan yang aku miliki.. akal, indra, alat gerak... semuanya. Tapi aku sama sekali tidak menghargai itu.
Aku terlalu memandang rendah diri, bahkan memusuhi.
Aku membenci diriku sendiri. Ya, itu aku.
Aku akui itu.
Kau memang telah memberiku banyak, dan aku cukup sadar dan malu untuk meminta lagi dan lagi pada-Mu. Tapi aku tak tau harus meminta pada siapa kalau bukan pada-Mu, karena semuanya adalah milik-Mu, segala sesuatu terjadi atas kehendak-Mu. Apakah pantas aku meminta pada yang lain?
Jadi dengan penuh kerendahan hati dan rasa malu, malam ini aku memohon, tumbuhkan rasa 'berdaya' dalam diriku, agar aku menjadi manusia yang menghargai kehidupan, yang memberi kehidupan, mewarnai kehidupan , yang hidup untuk kehidupan.
Hidup dengan pemahaman yang benar, pikiran yang benar, sikap yang benar dan lisan yang benar sehingga melahirkan perbuatan yang benar yang Kau ridho terhadapnya.
Bukan terus terpuruk seperti ini dan membenci diri sendiri dengan segala ketidakberdayaan.. dan menjadi manusia menyedihkan yang mengecewakan-Mu dalam keluh kesah dan kebodohan berlarut ini.
Ternyata menjadi dewasa itu seperti mimpi buruk. Rasa takut ku untuk melangkah begitu besarnya, dan tekanan di pundak bertambah besar.
Aku merasa manusia paling tak tahu diri, tak tau di untung, tak tau terima kasih, pertama kalinya dalam hidup aku merasa tak berharga, tak memiliki makna sedikitpun.. ada dan tiada sama saja.
Apa bedanya?
sebenarnya akhir-akhir ini aku merasa aneh. Aku terlalu sulit mengatakan sesuatu padaMu, entah kenapa . Mengapa berdo'a menjadi sesulit ini?
Kau Maha Besar, kenapa hatiku terlalu pesimis?
Seberapa jauhkah jarak 'kita' sekarang sampai aku semalu ini bahkan untuk berdo'a sekalipun. Aku merasa terlalu jauh..
Padahal aku tak pernah kecewa karena-Mu, kenapa aku juga tak kunjung bisa percaya sepenuhnya?
Bagaimana aku bisa mengucapkan janji lima kali sehari bahwa hidupku, matiku dan ibadahku hanya untuk-Mu sementara aku masih meragu; Apakah benar Kau akan menolongku?
Sedalam itukah kekecewaan yang mengerogoti hatiku sehingga pada-Mu Sang Maha saja aku masih meragu?
Kau benci'kan orang yang putus asa?
Meski aku bukan hamba yang baik, namun aku takut juga Kau membenci ku.
Bagaimana cara aku keluar dari kemelut ini?
Bagaimana mengatasi semua ini?
Bagaimana aku menjadi berharga?
Bagaimana aku bisa membawa panji bendera Islam di dunia ini jika mengurus hidupku sendiri saja aku tak becus.
Aku tau aku harus berubah. Tapi aku tidak tau bagaimana caranya berubah?
Engkau adalah satu-satunya harapan ku..
Engkau adalah satu-satunya harapan ku..
Karena tanpa-Mu aku tak akan pernah ada. Kau awal dan akhir. Hanya Kau yang membuatku bercucuran airmata dan tersenyum lebar saat bersamaan.
Aku tak tau apa yang ku rasakan itu cinta dari hamba pada RabbNya apa bukan.
Karena cinta kadang rela melakukan segalanya.
Sementara aku? Saat bertanya pada bayangan di kaca retak itu, airmata darah kotor merembes begitu saja dari mataku yang pendosa saat aku bertanya "Apakah kau sudah taat?"
Seketika kaca itu pecah dan melebur ke wajahku yang retak penuh dosa dan stigma, aku bukan siapa-siapa.
Waktu berlalu, tapi aku tidak bertumbuh. Meski aku berusaha mencari perbedaan tapi tak bisa ku temukan entah dimana.
Apa bedanya?
Apa artinya usia? Apa artinya waktu? Apa arti semuanya? Hidup ku?
Aku mohon, hanya pada-Mu aku dapat bertanya, aku tau saat ini Kau mendengar ku, Kau melihat ku, apa yang harus aku lakukan? Kemana kaki ku harus melangkah dan menapak? Maukah Kau menunjukan ku jalan mana yang harus ku ambil?
Bukankah Kau yang menolong ku ketika aku yatim?
"Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu)."
(QS. Ad-Duha 93: Ayat 6)
Kau.. Yang Sama.
Allah...
Aku saat ini dalam kebingungan , Kau tau itu. Dan Aku meminta Kau untuk memberi ku petunjuk dan pemahaman untuk mengakhiri semua ini, untuk keluar dari labirin 'waktu' dan melanjutkan kehidupan yang lebih baik, waktu yang lebih berkah , dan memberikan hidup untuk kehidupan.
Untuk mengajarkan Qur'an dan hidup sesuai Qur'an.
Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu ku lagi, aku tidak mau kehilangan hidupku dengan terus meratapi ketidakberdayaan dan hidup dalam keterpurukan dengan bayang ketakutan akan trauma , rasa sakit dan kesedihan..
"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk."
(QS. Ad-Duha 93: Ayat 7)
Aku bingung. Maka berilah aku petunjuk. Aku menagih janji-Mu.
"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan."
(QS. Ad-Duha 93: Ayat 8)
Save me..
Save me before i fall.
11 Maret 2019/4 Rajab 1440 Hijriyah

Komentar