Perspective : Everyone is fighting on their own battle
Satu fenomena yang aku dapat hari ini and i want to tell you . Sadar nggak kalau kita, kita semua. Tanpa disadari atau di sengaja sering berpikir untuk pukul rata; dalam memandang sesuatu. Selalu mengkomparasikan; entah untuk merasa lebih baik atau untuk berakhir insecure.
Dan hal ini berlaku dalam setiap aspek. Terkadang. Cara pandang kita masih sesempit itu. Sering melupakan bahwa setiap dari kita itu berbeda. Dari segi apapun, meski kembar siam sekalipun tetap memiliki pola pikir yang berbeda. Kita sering menggunakan dalil "kalau aku sih..." Selalu. Menggambarkan kalau kita melakukan yang terbaik di banding lainnya. Ngerasa paling struggle bahkan kerap mendaulat diri sebagai "korban".
Semesta ini luas. Saking luasnya, kita hanya ibarat seupil kecoak jika di bandingkan. Semesta juga menyimpan misteri yang dua mata kita tidak berfungsi untuk melihat segalanya, tapi apa salahnya kita membesarkan hati sedikit saja? Untuk memahami yang lainnya, untuk memberi jeda tanpa penghakiman.
Tugas kita bukan untuk menjadi hakim untuk semua perkara, bagaimana kalau kita berpikir untuk 'memilih' peran memudahkan orang lain? Sesuai peran kita, sesuai kemampuan, sesuai waktu dan kesempatan.
Kadang, kita juga tidak peduli pada cerita orang lain kan? Ketika ada yang mengeluh pada kita, langsung kita cerca dengan argumen tercerdas bertameng "harus dan seharusnya" apalagi kalau sudah menggunakan formula ajaib "kalau aku jadi kamu.." always.
Kita dan mereka berbeda. Kamu dan aku. Dan kita tidak harus menjadi sama, karena tidak di ciptakan untuk demikian. Everyone is fighting on their own battle . Semua orang berjuang tapi pada jalurnya masing-masing. Dengan ceritanya. Dengan lukanya. Dengan kehidupannya. Banyak hal. Dan semuanya berbeda. Meski terkadang ada kesamaan; tapi tak pernah serupa.
Berhentilah menjadi sosok terlampau perfeksionis sampai mengabaikan nurani. Atau apakah kita lebih mementingkan ego yang menjulang setinggi langit hingga menampar segenap suara hati?
Sejauh mana manusia harus berjalan sampai disebut manusia?
Kita ini sama-sama kumpulan orang yang mengecewakan semesta. Sama-sama tak sempurna. Sama-sama berjuang untuk hidup dalam kehidupan yang tak selalu ramah. Kita bukan di ciptakan sebagai utusan Tuhan untuk memukul rata; menyetarakan manusia untuk berada pada garis yang sama. Kesetaraan yang kerap kita gantungkan sebagai cara pandang terhadap dunia yang bagaimanapun tidak akan pernah tercapai.
Karena semesta bukan rumah mainan
Barbie yang bisa kita susun sesukanya. Tulisan ini bukan untuk mengharamkan sudut pandang demikian; semua bebas tanpa batas dengan pemikirannya; karena setiap jiwa bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Tapi, hanya ingin disampaikan agar kita sedikit memikirkannya saja, terkadang kita bisa menjadi mengerikan.
Standar untuk menyetarakan semua orang sungguh mengerikan. Hukum tak tertulis tentang "harus" dan "seharusnya" bagi siapapun yang terjebak di dalam labirin pemikiran itu, memaksakan diri berada pada garis kesetaraan semu itu meski tak ingin namun jika berbeda karena takut cemoohan dunia yang dangkal. Meredupkan cahayanya sendiri untuk ikut terwarnai.
Kita tidak pernah tau dari mana semua itu berasal. Kita juga tak bisa menuduh A. B dan C. Adalah kita semua penyebab semua itu bermula. Juga dari kita memiliki kesadaran untuk berusaha membuang jauh pemikiran itu.
Pemikiran kalau semua orang itu harusnya begini dan begitu, berusaha lebih baik. bla bla and bla apalagi dengan standar diri sendiri. Tidak ada manusia yang benar-benar superior. Jika ada yang mengaku, mungkin ia hanya sedang narsis saja. Atau pikirannya sempit sehingga ketidaktahuannya menjadikan ia tidak mengerti bahwa diatas langit itu sebenarnya masih ada langit.
Berbicaralah solusi jika kita benar-benar peduli. Bukan memarahi lantas memandang rendah; karena kita tidak melakukan hal serupa. Juga lupakanlah ajang untuk menyombong seakan kita lebih baik. Semua manusia menggunakan topeng; tidak sesederhana yang terlihat. Satu kepala memiliki milyaran cabang pemikiran yang tak mampu kita selam dan jamah semuanya.
Berhentilah kekanakan dan meminta dunia, bintang, bulan dan matahari tunduk di bawah telapak kaki kita, seakan-akan bumi itu tidak akan berputar tanpa kita; karena kita rotasinya. Kita paling penting diantara elemen semesta ini, sehingga pantas yang lainnya jangan sampai berani-beraninya berurusan dengan kita. Jangan sampai menyakiti hati kita. Jangan sampai berbuat tidak sesuai keinginan kita.
Childish.
Bahkan ketika kita mati, kita akan perlahan terlupakan dari bumi. Ketika kita menua, kesepian dan menyisakan semu. Kita bukan siapa-siapa. Who are we? Dust.
Kita ini hanya debu. Akan hancur bersama bumi. Sendirian. Apa hak kita untuk bertindak kejam? Kenapa semua orang senantiasa harus berjuang sesuai dengan yang kita inginkan? Kenapa kita terlalu egois tidak mau tau dan meludahi semua penderitaan dan keadaan yang orang lain hadapi dan tega-teganya kita secara tidak langsung memaksa orang-orang untuk memahami kita, mengerti kita. Karena kita yang paling pantas, princess or prince in the whole world.
Kita siapa? Who i am i?
Bukan begitu cara dunia bekerja, sayangnya. Dunia ini keras; jahat; menghasut; gelap; dunia tidak sepeduli itu dengan kita. Dunia ini tidak ramah, tatanannya hancur, hukumnya tidak jelas; begitu adanya. Berhenti manja dan merengek, kenapa a begini b begitu. Selamat datang di dunia kalau kau masih melakukannya.
Inilah dunia yang sebenarnya, tanpa pemahaman , tanpa pengertian, egois. Tapi meski dunia demikian haruskah kita menjadi sama? Menjadi bagian dari sekumpulan kambing yang berkumpul bersama sekawanannya ? Menutup mata hati dan telingga, bersikap acuh terhadap kebenaran dan secuil kemanusiaan. Melakukannya; berbuat lebih baik tidak sama dengan kita berusaha menjadi malaikat tanpa sayap tanpa melakukan kejahatan. Kita semua adalah penjahat; busuk . Setidaknya pasti ada beberapa orang yang menilai kita demikian; menjadi antagonis dalam cerita orang lain. Tapi haruskah kita mendramatisir betapa menderitanya kita, betapa sulitnya keadaan yang harus kita lalui saat ini , betapa kita menjadi pihak paling tersakiti, haruskah kita menjelaskan semua itu pada dunia?
Tidak selalu.
Setiap hal memiliki tantangannya masing-masing. Kita pasti akan di uji dalam hal apapun, dengan cara yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Analogi tumbuhan, untuk tumbuh ia harus menantang panas, hujan, badai hingga kemudian menjulang dan berbuah.
Begitupula dengan kita. Marilah kita saling menguatkan, menasehati untuk menetapi sabar, tolong-menolong dalam kebaikan. Karena kita sama-sama berjuang dalam hidup, dengan kapasitas dan tantangan yang berbeda demi mengumpulkan keping kolase dari hidup kita untuk kemudian menjadi mozaik utuh yang akan menunjukan siapa kita sebenarnya.
Fighting!
12 Juni 2020
Xoxo, Hooman.

Komentar