Perspective : Stop counting!

Sekarang..

Semua manusia kebingungan; ketika Tuhan menunjukan kuasa-Nya. Bahwa rencana dan kehendak Tuhan itu pasti terjadi. Pada akhirnya manusia harus mengakui bahwa eksistensinya tidak lebih dari seonggok hamba dan akan lebih baik jika cukup sadar bahwa terkadang egonya masih saja sebesar semesta.

Pandemi ini mengajarkan banyak hal dari perspektif ku sendiri. Salah satunya adalah untuk tidak menjadi serakah; mengesampingkan ego; meluaskan sabar.

Mengutip Gusdur yang mengatakan "Sabar itu tidak ada batasnya kalau ada batasnya berarti tidak sabar"

Karena pandemi ini tentunya banyak hal yang tidak berjalan sesuai rencana dan membuat kita kelabakan karenanya, menyusun kembali rencana, beradaptasi dengan keadaan yang memaksa kita untuk tidak bebas melakukan apapun yang kita inginkan.

Walaupun hanya dirumah saja, itu juga struggle. Buat mahasiswa , maybe ngerasa kalau kuliah daring ini bullshit.  Karena well, ilmu dan pengalaman yang di dapat terasa kurang efektif di banding tatap muka. Belum lagi banyak keluhan ini dan itu terkait sarana dan prasarana atau lainnya.

Tapi justru ini juga challenges , which is kita di tuntut untuk survive dalam keadaan apapun, dalam kondisi tertekan sekalipun mampukah kita menyelesaikan masalah. Mampukah kita mengatasi kesulitan-kesulitan ini. Karena dengan adanya pandemi ini disinilah persatuan dan kesatuan kita di uji, hubungan kita dengan manusia, respect, dedikasi kita dan banyak hal...

Pandemi ini menekan semua orang, dan disaat tertekan, manusia kadang lupa memakai topeng, disinilah topeng-topeng akan terbuka. Dan tampaklah bagaimana karakter-karakter manusia akan bermunculan.

Semua orang kesusahan, semua orang struggle untuk survive dalam seleksi alam 'bertajuk' covid 19 ini. Kepada mu manusia; pilihan mu yang menentukan orang seperti apa kau sebenarnya.

Apakah eksistensi mu menghadapi pandemi ini berperan sebagai parasit? sebagai penolong? sebagai perusak?

Ketahuilah, ego yang kita bawa tidak akan membawa kita kemana-mana. jangan menilai diri terlalu tinggi dan baik sehingga merasa paling struggle, merasa menjadi manusia yang berperan penting lalu otomatis menjadi lebih tinggi dari yang lain, dan merasa pantas bagi yang lain untuk lebih mementingkan kita diatas segalanya.

Stop counting.

Karena dengannya justru menyulap hati menjadi beku, sehingga mati rasa. Dewasa ini banyak orang paham agama, paham politik, paham sains, dan banyak paham lainnya. Terlalu banyak orang pintar. Tapi semakin banyak orang menderita.

Yang paham agama (aku tidak membicarakan agama lain, hanya untuk Islam) membatasi diri sekedar menghafal Al Qur'an dan ribuan hadist tapi hanya sampai tenggorokan saja. Karena setelah itu kebanyakan telah merasa struggle. They counting their goodness . Merasa paling suci karenanya, bukan menciptakan kebaikan, tapi menciptakan ketidaknyamanan dengan memandang rendah orang lain, menjadikan aturan Tuhan dengan sesuai persangkaan dan membuat tipu daya dengan berdebat tanpa akhir demi sebuah pembenaran dan menjadi sebenar-benarnya manusia.

Paham politik, pada akhirnya juga hanya tentang pencitraan, untuk diri sendiri, nepotisme, omong kosong.

Paham sains menciptakan tatanan baru untuk pengakuan, agar menjadi adikuasa dan menjajah yang lain..

Humanity is fallen.

Kenapa?

Apa sebenarnya masalah kita, manusia? Kenapa hati kita semakin membeku hingga mati rasa? Kenapa mata kita masih bisa melihat tapi buta? Telingga kita masih berfungsi dengan baik tapi tuli? Ataukah hati kita terlalu hitam sehingga menjadi buta. Bukankah jika bagian itu hitam maka akan hitam seluruhnya, termasuk perspektif kita? Karenanya kita selalu melihat dari perspektif ego.

Mau sampai dimana kita membawa ego?

Kita bisa mati kapan saja dan yang tersisa hanya nama yang perlahan akan di lupakan. Kita pasti menua bertemankan kesepian dan kesendirian hanya mengenang masa muda yang sebatas ingatan.

Setelah semua itu terjadi, puncak kejayaan kita berakhir. Lalu menyisakan semu.

Di pandemi ini, kenapa kita tidak mawas diri?

Social distancing adalah waktu yang tepat untuk merenung.

Kita semua tidak terlepas dari gelap yang menaungi, karena dunia yang kita tinggali juga diciptakan dalam kegelapan, terang tak akan tercipta tanpa gelap. Kita tidak pernah mengerti pengadilan Tuhan, itu juga alasan kenapa Al Fatihah bahkan menjadi surah bacaan wajib shalat , dimana di dalamnya terdapat do'a untuk selalu meminta petunjuk kepada Tuhan.

Kalau di dunia ini kita merasa paling benar, justru disitu kita paling salah. Kita semuanya tersesat, jadi setiap hari kita meminta petunjuk pada Allah.

Ingat itu, kita semua tersesat.

Kita semua sesama terdakwa, dan untuk meraih kemuliaan disisi Allah kita tidak sedang berkompetisi seakan tempat itu memiliki kuota, padahal rahmat Allah meliputi apapun, menyentuh seluruh ciptaan-Nya.

Jadi, kita tak harus saling baku hantam, tak harus serakah, tak harus memenangkan ego sendiri dan merasa paling benar.

Satu hal yang paling aku kagum dari Ayah ku, he never counts. Dulu, aku sering aneh dengan setiap keputusan beliau yang jauh dari kelogisan, apalagi dengan ukhuwah suku mereka yang patut di acungi jempol. They never counts.

Pernah sekali aku bertanya pada beliau "Kenapa bisa melakukan hal itu tanpa ego?"

Dia hanya menjawab "Aku tidak meminta kebaikan itu untuk diriku, tapi untuk kalian semua, semesta pasti akan mengerti dan dimanapun kalian berada pasti akan bertemu orang baik yang akan membantu kalian jua"

He never counts, tidak pernah merasa paling struggle, merasa paling menderita. Just do what he wants to do. Tanpa mengharap orang lain melakukan hal yang sama. Tanpa peduli pandangan orang lain, anggapan orang lain terhadap dirinya. Tanpa merasa menjadi orang yang melakukan lebih. Tanpa harus merasa menjadi orang baik..

Di pandemi ini, what do you prove untuk memudahkan orang lain? Jangan pernah merasa lelah, lakukan saja and never count .. kay!

Xoxo.


Komentar

Postingan Populer