Perspective : Suara Kami!
Tulisan ini terilhami karena salah satu teman yang bercerita terkait apa yang ia hadapi saat ini. Dongeng tentang kekhawatiran; sajak-sajak tentang ketakutan; permohonan-permohonan akan harapan; mimpi tentang dunia yang lebih baik .
Tapi, ku katakan padanya; bahwa kau tak sendiri. Bersama ku yang juga terkungkung nestapa, meringkuk dalam labirin sunyi dalam tangis tanpa akhir. Ini bukan cerita tentang drama, tapi mengenai yang lebih serius. Dan sayangnya; tanpa akhir.
Tulisan ini suara kami yang merintih; di pecundangi dunia; penghilangan hak untuk tak bersuara; pembungkaman untuk disebut manusia. Dia berkata "dimanakah letak kesalahannya?"
Tidak. Dunia ini tidak hitam juga putih. Bukan tentang salah dan benar, tapi setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. memiliki banyak pandangan tentang standar 'kebenaran'. Kebenaran bagi kita belum tentu sama bagi mereka. Inilah dunia; jadi jangan heran ketika kita tidak di hargai; di tertawakan; di remehkan; di pandang aneh karena prinsip 'kebenaran' kita.
Ini juga bukan dongeng tentang penjelasan; mereka tidak membutuhkannya. Atau repot untuk peduli, pada akhirnya semua ini hanya tentang kita dan dia.
Memangnya apa yang bisa kita lakukan? Bahkan Nabi Muhammad hanyalah seorang utusan, bukan pemberi hidayah. Apalagi kita? Nyatanya kita bukan siapa-siapa selain manusia-manusia yang sedikit berusaha untuk mengikuti jejak-jejak Asiyah dengan sesuatu yang tidak bisa di pahami; bahkan dunia melongo menyaksikan alasan di balik hal yang kita lakukan.
Dunia ini tidak ramah; juga bukan tempat dimana kebaikan bermuara, kita hanya bisa hidup di dalamnya dengan membesarkan hati, untuk melapangkan sabar, kemudian jangan sampai putus harap; bahwa kebaikan itu pasti ada; tempat yang lebih baik.
Ingat sayang ku, Islam bukan agama pemaksa. Kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk sesuai standar keyakinan kita. Dunia tidak akan pernah mengerti kita; tapi kitalah di posisi harus mengerti dunia. Kalau tatanannya sudah hancur, kalau sesuatu di dalamnya ironis, apa yang terjadi miris, tapi hidup akan tetap berjalan, detik tetap berlalu, tugas kitalah untuk bertahan meski rasanya seperti mengenggam bara api.
Disinilah kita di uji. Satu pesan ku, jangan pernah merasa sendiri. Percayalah masih ada kebaikan di bumi ini. Tugas kitalah untuk mengantungkan doa kita bersama gemerlap bintang; untuk di beri kekuatan menghadapi semuanya; untuk terus berjuang, untuk di kuatkan dalam setiap keadaan dan kondisi.
Di tinjau dari sudut yang berbeda; justru hal ini bisa menjadi sesuatu yang lain; kesadaran begitu jauh pola pikir 'banyak orang' dalam memandang 'kebenaran' yang dimana tanpa argumen dan kelogisan. Masih banyak manusia yang memilih menutup mata dan telingga hanya dengan alasan melihat siapa sih kita yang berbicara? Sayangnya 'melihat' dengan kaca mata dunia, standar semu keduniaan serta menyembah berhala (read; materi).
Tak perlu sedih; karena kita tau kan apa yang kita lakukan? Tujuannya; alasan di balik sikap yang kita tampilkan. Juga, jangan terlalu memaksakan diri. Dia Maha Tau. Ada hal di dunia ini yang tidak mampu kita kontrol. Jadi, percaya pada-Nya. Dia tidak akan menyia-nyiakan segala jerih payah kita.
Suatu saat kita pasti akan menemukannya ; the place we can call 'home' !
14 Juni 2020

Komentar