Perspective : Let's start!
It's very long time semenjak terakhir kali aku nulis di blog.
Sebenarnya nggak lama-lama banget sih, cuma emang akunya yang lebay. Pertama-tama *eak , congrats buat semua pejuang pembelajaran daring, berlaku buat semuanya dari PAUD sampai yang udah jenggotan(?) , I mean, yang ngambil gelar profesor atau apapun, which is masih semangat kuliah berdinamika dengan umur yang udah gak muda lagi yang sebenarnya percuma juga aku memberi mukadimah panjang lebar karena siapapun profesor yang tersesat kesini perbandingannya adalah 1: 1. 000.000.
Busyet, bahkan pembaca blog ini maybe sampai biksu Tong Sam Cong tiba di barat sekalipun nggak nyampai segitu.
Lagian nih ya, kalau kamu termasuk orang yang nyasar kena angin puting beliung sampai badai layaknya di film Titanic sehingga sampai di blog bacotan yang sucks dan 9.99 % nya nggak ngotak ini, yeah, kamu memang manusia gabut sejati..
Skuy, kita nari-nari sambil nyanyi lagu sunday best .. ".. i'm feeling good, like i should..."
Dah, stop. Jangan pakai nada apalagi diterusin, suara kamu bisa aja jelek dan menganggu tetangga , sama kayak suara aku sih. Jangan...jangan?
Okay , focus!
Mungkin saat ini kamu sedang emosi, chingu, tapi aku cuma mau menyampaikan sesuatu yang terus mengganjal di benak.
Something yang kayak semua dari kita sering lakukan; membandingkan diri dengan orang lain. Dan kadang tanpa disadari, lalu berujung insecure.
Jadi, ini sebenarnya sepele, aku sama kakak lihat salah satu vlog artis yang udah kelas superstar kali ya, and then kakak ngomong, " pas si otong (nama artis tersebut yang disamarkan) masih kecil, aku ngapain aja ya? "
Sumpah aku jadi kepikiran, bener juga ya kan, terkadang lihat orang yang seumuran bahkan jauh lebih muda sudah sukses, dalam artian menghasilkan uang sendiri dengan usaha keras, berprestasi, intinya seseorang yang jika di bandingkan dengan diri kita itu ibarat langit dan bumi, sekilas dia terlihat bintang dan kita hanyalah seonggok kentang.
Apa yang kita lakukan selama ini? Waktu yang kita habiskan sama, tapi kenapa relativitas itu menampar telak? Seakan mereka bertumbuh, membesar dan kita begini-begini aja.
Tapi, ada lagi kecamuk dalam diri, apakah salah hidup menjadi biasa? Totally not!
Namun kembali lagi ke pemikiran awal, kenapa mereka bisa sementara kita tidak? Memang tidak akan pernah adil membandingkan diri dengan orang lain. Meski sama-sama manusia, umur sama yang berarti memiliki masa yang sama dihabiskan secara angka, tetapi waktu itukan relativitas, sama dalam angka tapi berbeda dalam pemahaman, dalam perasaan, dimensinya tetap berlainan.
Setiap orang memiliki dunia masing-masing, dunia alam pikirannya, dan perspektifnya memandang kehidupan.
Tapi setiap dari kita juga sebenarnya memiliki kesempatan yang sama, meski dalam hal yang berbeda. Mungkin yang membedakannya adalah pola pikir.
Itu kesimpulan akhir ku dari diskusi dengan diri sendiri.
Pola pikirlah yang menentukan orang seperti apa kita. Bagaimana kita memutuskan sesuatu?
Apa yang sudah kita mulai untuk meraih sesuatu? Untuk berkarya atau membuat perbaikan?
What do you prove wahai diri?
Membandingkan diri sendiri dengan orang lain tidak selamanya menjadi dramatisir perasaan insecure tapi juga bisa dipandang sebagai pengingat diri.
Ingatlah selalu, afirmasikan pada diri. Bahwa kita hidup bukan dalam dongeng cinderella yang punya ibu peri , bahwa suatu saat ia akan datang untuk merubah hidup kita, mengabulkan keinginan kita.
Kita hidup di dunia nyata yang keras, dimana jika kita ingin sesuatu, kita harus bekerja keras , harus berkorban, bukan hanya tentang sajak darah, keringat dan air mata, juga harmoni mengenai kesabaran, membangun kepercayaan diri yang kuat serta percaya bahwa Allah pasti akan memudahkan langkah kita selagi kita memastikan TUJUAN kita tersebut itu baik.
Jika kita positif dan berniat baik tanpa kebohongan pada diri sendiri, apalagi niat caper ke manusia lain, motivasi untuk memulai akan tumbuh, rasa berdaya akan terdorong dan kita akan berdinamika dalam sebuah pilihan.
Tetapkan pilihan untuk satu kemungkinan, lihatlah sekeliling mu dan rasakan nikmat Allah, kemudahan apa yang Allah berikan pada mu untuk di manfaatkan, untuk mulai bergerak meski dengan merangkak.
Kalaupun terasa lelah, kita bisa istirahat tapi jangan pernah punya keinginan untuk berhenti..
Putuskanlah ketika kalian nyasar menemui tulisan tidak teratur dan membuat mata sakit ini, bahwa kalian akan memulai apapun mimpi kalian..
mulailah.
Jangan menunggu hebat baru memulai, tapi memulailah untuk menjadi hebat versi mu.
Teruntuk mu, diriku.
26 Juli 2020

Komentar