Perspective : Mengeluh itu manusiawi

Mengeluh itu manusiawi.

It is true.

Ga ada orang yang akan menyalahkan. Hanya saja kembali pada diri sendiri, sampai mana? sampai kapan?

Segala sesuatu harus ada kadarnya. Terus mengeluh dan mengeluarkan kata negatif itu juga bisa jadi 'toxic' bagi diri sendiri.

Keseringan mengeluh terkadang menjadikan kita overthinking , terlalu banyak berpikir dengan pola pikir labirin yang berbelok nan rumit lalu berputar di dalamnya menghabiskan banyak waktu hanya untuk berpikir tanpa bekerja.

Akhirnya waktu terbuang sia-sia tanpa melakukan apapun. Karena malas yang mengunung akhirnya mulai mencari kambing hitam untuk di salahkan terkait apa yang dihadapi untuk menghindari tanggungjawab. untuk tetap terlihat anak baik.

Namun semuanya adalah mengenai konsekuensi, rumus aksi-reaksi yang akan bekerja.

Apa yang kita jalani sekarang selamanya mengenai pilihan, tidak ada seorangpun yang memaksa kita, jika ada--- kita pun tetap bisa memilih dalam keadaan paling emergency sekalipun meski dengan jalan yang tidak bisa diterima.

Manusia memang diberi kebebasan itu. Bahkan, Tuhan sekalipun tidak mengatur manusia sedemikian rupa, manusia tetap bebas hidup memilih jalan apapun yang ia pilih tapi tentu saja dengan konsekuensi yang mengikuti.

Seperti tanggungjawab yang kita emban saat ini. Mungkin sangat menyebalkan, merepotkan, tapi itu kita yang memilihnya. Memang, tetap ada ruang untuk kita mengeluh dan menumpah-ruahkan kekesalan kita, kelelahan kita, asal jangan berhenti dan bersikap dramatis untuk mengatasinya, kita harus menyelesaikannya hingga akhir.

Kalaupun sudah tak mampu, kita juga bisa mengakhirinya tanpa rasa takut.

Menjadi lebih berani mengambil keputusan, dan legowo menerima konsekuensi dari pilihan.

Mengutip Merry Riana "Semua orang bisa mendapatkan relasi, uang, jabatan dan lainnya, tapi keberanian tidak bisa didapatkan dimanapun"

Kita juga tidak bisa terlalu menyalahkan pilihan orang lain meskipun itu dipandang kacamata kita tidak fair. But everything in the world is not about you. It's never will be everything you want too.

Dan atas pilihan seseorang, tentu dampaknya tidak untuk dirinya sendiri tapi berdampak untuk orang-orang di sekelilingnya.

Aku akhir-akhir ini aware akan topik itu setelah menonton drama dari negeri ginseng; Hi, Bye Mama! . which is ada narasi di salah satu scene yang mengatakan : "Ternyata, hidup kita bukan hanya milik kita sendiri, tapi milik keluarga kita, teman-teman, semua orang di sekeliling kita"

Yaps, tak terelakkan. Dalam sebuah pilihan, kita juga harus memikirkan apa dampak yang di timbulkan dari pilihan kita tersebut. Kita tidak bisa terus menjadi egois, apalagi terus mencari pembenaran untuk melaksanakan kehendak kita tersebut.

Tapi, kalau kita tetap ingin melakukannya?

It's okay.

Dalam sebuah pilihan tidak perlu narasi. Apa berarti itu jahat dan egois? Bisa jadi, dalam beberapa sudut pandang orang lain.

Tapi, lakukan saja apa yang ingin kita lakukan, namun harus siap dengan konsekuensi, asal jangan menyesal kemudian. apapun itu.

aksi selalu menghasilkan reaksi. adanya gaya tetap membuat perubahan gerak.

saat terpilih dan dilakukannya sebuah pilihan, maka waktu itu telah mati. artinya, tak akan bisa diulang sekalipun. meski menangis darah, meski menghilangkan nyawa. satu orangpun tak bisa.

keadaan pasti berubah entah konotasi baik atau buruk tergantung pilihan dan pandangan. dan pasti menuai reaksi dari semesta.

itu adalah hukumnya, jenius..

bijaklah dalam memilih.

xoxo.


Komentar

Postingan Populer