Perspective : Seni Mencinta
Dalam hidup, meski manusia di beri kemerdekaan untuk memilih jalan apa yang ingin ia tempuh juga terdapat ikatan magis yang tak tersentuh. Orang menyebutnya takdir.
Takdir setiap orang berbeda. Dan berbeda pula tapak tilas yang di tempuh untuk menjadikannya utuh.
Ketika menjalani itu semua; semua orang tidak baik-baik saja. Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa hidup itu mudah sebagaimana tidak seorang pun akan menganggapnya terlampau susah. Relatif.
Terluka itu pasti; menangis itu lumrah. Luka itu mesti dan berdarah juga tinggal pasrah.
Seiring berjalannya detik-detik jam di dinding meninggalkan kita yang entah. Bertambah pula usia yang parah. Semakin bertambah, semakin mengerti bahwa dalam hidup harus banyak berdamai; karena segala yang ada di dunia ini bukan milik kita.
Tentu bukan sesuatu yang mudah, tetapi bukan pula mitos.
insaf. Ketika kesadaran itu menghampiri menampar telak untuk berani; merangkak dari palung kegelapan yang memayungi segenap jiwa dan raga untuk menjadi lebih berani ; untuk percaya bahwa masih ada kebaikan di muka bumi.
Berganti kacamata untuk memandang dunia yang lebih baik. Bukankah realitas yang diterima itu hanya di kepala? Karena jika realitas itu 'nyata' semua orang pasti setuju pada satu perspektif karena memantau hal yang sama. Tetapi, bukan begitu cara mainnya.
Nyatanya orang memiliki ragam belit pola pikir masing-masing, terjebak dalam labirin cara kerja otaknya sendiri-sendiri hingga dunia terwarnai oleh macam perbedaan yang indah.
Paling sesatnya manusia, akhirnya tetap pula kembali kepada kebenaran.
Mungkin sudah saatnya untuk berhenti, untuk kembali , untuk memulai; belajar seni mencintai.
Mencintai hidup dan berhenti membenci, mencintai manusia dengan kemanusiaan, berbuat sedikit lebih baik dari beberapa saat lalu, mencoba berbenah berpacu dengan detik yang laju. Mungkin dengan begitu dunia bisa sedikit lebih baik, semesta bisa menjadi lebih ramah.
Tidak ada yang perlu disesali selain berusaha menjadi seseorang dengan besar hati menerima segalanya dengan penerimaan yang indah; pemahaman yang tulus.
Berhenti.
Berhenti untuk mengagungkan rasa sakit dan menjadikannya mulia lalu memerintah diri menjadi budaknya dalam penghidupan yang singkat; menyimpan dendam dan benci, bersedu sedan dan sakit hati pada hari yang telah berlalu; berkutat pada sajak-sajak patah atau merutuk senja yang telah lama berpulang dan mustahil akan kembali karena sekali detik itu pergi berarti selamanya.
Hilang makna suatu kejadian apabila yang dilihat dengan sudut pandang keegoisan , kenapa tidak begini dan begitu, harus dan seharusnya, kemudian berandai-andai, menggunakan dalil jika . sampai akhirnya tak pernah belajar dan menjadi abai, tak mengerti bahwa yang telah berlalu akan terus begitu. Yang akan terjadi pasti kejadian juga.
Lalu mau apa? Memutar balik waktu? Memusuhi diri, menyalahkan orang lain, membenci keadaan, menutup diri atau bagaimana?
Berhenti hidup dalam kepalsuan. Menjadi masokis membuat sekte pemujaan terhadap luka. Menyembahnya dan terus meratapi masa yang telah berganti.
Jam boleh saja berputar tanpa henti, bulan dan matahari bolak-balik berganti menyinari semesta, semua tumbuh kecuali diri sendiri yang terus meringkuk ketakutan dalam sanubari, hilang percaya, sempit di mata.
Memukul rata seakan semua manusia sama.
Tampaknya, memang harus benar-benar belajar seni mencinta.
Love Yourself!
08 Juli 2020

Komentar