Perspective : Manusia-manusia dalam Bejana


Meskipun malam itu gelap, bukan berarti ia jahat.

Manusia hanya takut. People do that. 

Manusia takut terhadap hal-hal yang tidak mereka ketahui, karena saat gelap penglihatan manusia berkurang atau kelam sama sekali.

Namun, itu tidak cukup sebagai alasan manusia untuk membenci malam, karena detik ini aku justru terinspirasi oleh malam tatkala hening.

Aku hanya ingin membicarakan manusia.

Manusia dengan ketakutannya.

Manusia dengan kelemahannya

Manusia dengan sisi tergelapnya.

Manusia itu paradoks, apa yang mereka tampilkan, belum tentu diri mereka sebenarnya.

Manusia tidak benar-benar bisa di jadikan objek penelitian karena selalu berubah-ubah.

Ketakutan, kelemahan dan sisi gelap adalah kotak pandora manusia yang sesungguhnya ingin ia bagi hanya dengan penghujung kematian.

Atau mata-mata Tuhan yang menerobos kisi-kisi jendela, menelusup bersama desir darah, meleburkan diri dalam tarikan nafas.

Karena manusia saling tersakiti oleh sesama manusia, karena manusia sadar bahwa kemanusiaan telah jatuh ke dasarnya justru beriringan dengan slogan-slogan humaniora yang gencar di suarakan.

Manusia mahfum tatkala empati hampir punah dan justru manusia hanya mencukupkan diri dengan mengheningkan cipta.

Langka, pendengar yang baik itu diambang liang lahat.

Inilah akibat dunia disesaki orang pintar terlalu banyak sehingga semua orang setara professor baik hati yang memberi kuliah gratis untuk siapa saja atau motivator tingkat galaksi dengan jam terbang antar pluto-mars.

Bumi semakin dijejali manusia tapi jauh di dasar hati yang haram di akui, setiap manusia justru semakin kesepian.

Hidup itu membosankan dan entah, semua orang bersusah payah dengan perahu masing-masing, dan apabila manusia yang lain bersedia, manusia pasti ingin sekali di dengarkan walau satu menit, menceritakan mengenai membosankannya hidup ini.

Hanya mendengar.

Meski Tuhan Maha Mendengar, manusia tetap butuh manusia untuk berbagi kerapuhan.

Semua manusia itu sakit, lahir dan batin, terluka karena banyak hal, jika ada yang menyangkal, jika ada yang terlihat superior, mereka hanya memiliki kemampuan kamuflase diatas rata-rata atau mereka pandai menyimpan rasa, menata nestapa di pojok hati sana.

Oleh sebab manusia takut kepada manusia lainnya.

Dengan pemikiran dan sudut pandangnya, apalagi dengan kenyataan toleransi telah di tahap kritis menuju kematian.

Pemahaman yang tulus seakan mitos purba kala yang tak laku lagi di kancah dunia.

Itulah yang terjadi sekarang, hingga mental-mental manusia sakit parah, bukan di obati, tapi malah di bungkus hingga membusuk karena takut pada penghakiman.

Mata-mata yang memandang rendah.

Mulut-mulut yang menginjak.

Jari-jari yang membunuh.

Pemikiran-pemikiran tergelap.

Hati-hati busuk berbelatung.

Tapi, untuk mu yang memiliki cerita yang tidak akan pernah di ceritakan.

Menyimpan kenyataan yang tidak akan bisa di nyatakan.

Harapan yang pupus, serta hilang percaya, berlumur darah oleh tikaman kekecewaan yang dalam.

Kekosongan yang memakan jiwa hingga mati rasa.

Keinginan yang besar namun harus di bunuh untuk melanjutkan hidup.

Kamu tidak sendiri.

Masih ada kebaikan di dunia ini.

Speak up.

Perlahan-lahan.

Pasti ada orang yang ingin mendengarkan mu,

Orang-orang terpilih berhati mulia yang mencoba memaklumi sakit mu,

Memeluk kepingan hati mu,

Menyembuhkan jiwa mu yang mati rasa,

Menatap mu dengan empati dan pemahaman yang tulus,

yang merangkul mu untuk tidak takut sendirian dan merasa berharga sembari membuat mu percaya, kala ia berkata,

"Aku tidak akan meninggalkan mu, kamu tidak akan pernah berjalan sendirian."

You never walk alone, mari berteman.

13 September 2020


Very late, tapi postingan ini untuk memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia.


Komentar

Postingan Populer