Perspective : Pagi dari Sekian Pagi dan Seleksi Alam

 


Pagi dari sekian pagi, masih dingin namun juga hangat, aku ada meski kadang merasa tidak, karena terlalu tenang hingga menakutkan, menduga-duga bom waktu yang sedang di rakit, satu-satunya pengingat waktu ini, ku tandai diri dalam relativitas, aku mengurung ingatan dalam kata, membaca karya-karya rumit, tabu oleh batas dogma, budaya, dan siapa aku dimata manusia putih yang tak pernah bersalaman pada-Nya dari kacamata gelap. Atau pernah, tapi enggan mengakuinya? Aku rasa manusia dan nuance adalah kesatuan utuh.

Mereka berkata dia hanya bisa ditemukan dalam cahaya, tapi lupa bahwa kegelapan itu ada juga karena dia. Aku yang mendadak jadi pengembala diantara tugas-tugas yang berpacu dengan waktu, awalnya aku berpikir, jahat sekali ibu ku meninggalkan ku dengan terbirit-birit melarikan diri dari kambing yang tak di ikat dan berharap aku menjadi semacam pawang kambing, atau avatar yang bisa mengendalikan angin, api, air agar kambing itu tidak berlarian dan berciuman dengan singa, rusa atau seekor kodok penyendiri di tepi sumur.

Yang pasti semuanya baik-baik saja meski kucing ku tidak, dia reinkarnasi kolonial yang suka menjajah manusia, kadang dia menari diantara cahaya yang merembes dari kisi-kisi jendela, menggaruk permadani bagai memainkan senar gitar, aku dan ibu percaya bahwa kucing itu kelak pasti menjadi manusia, oleh sebab itu ibu ku mengajar kucing untuk berjalan seperti bayi dengan langkahnya yang terseok dan kepala miring. Kucing yang malang, tertakdir di keluarga yang bermasalah dengan saraf.

Sekarang sahabat ku bertambah, ya, aku bersahabat dengan semua binatang kecuali ular, cicak dan segenap pasukan hewan buas. Aku benci binatang jahat yang membunuh lainnya, meski itu bukan kemauan mereka, karena sudah begitu jalannya, apa yang bisa dilakukan binatang yang tidak memiliki kecerdasan intelegensi, spiritual dan emosional seperti manusia? Jika manusia membunuh yang lainnya untuk makan, entah apa yang membedakan dia dengan binatang-binatang yang ku benci meski mereka tidak peduli itu. Hewan di rumah semakin banyak jauh melampaui manusia, mungkin suatu hari rumah ini akan menjadi semacam suaka margasatwa dibanding kebun binatang. 

Hah, aku suka kehidupan primitif ini, sayang sekali kami tidak hidup secara nomaden, haha. Tapi, meskipun begitu aku juga jatuh cinta dengan modernisme. Pagi yang biasa diantara spektrum-spektrum cahaya itu-itu saja, tugas dan segala dramanya, kebingungan antara Riverdale, Skam Norway, atau Tale of nine tailed? Cantik itu Luka atau Saman? Tidak ada moral klasik, melampaui adat budaya. Tidak sama dengan membenarkan, namun melihat keluar jendela dengan perspektif berbeda. 

Sesungguhnya yang ingin aku tulis awalnya adalah mengenai seleksi alam, kultur biasa dalam dunia perkuliahan, mengenai orang-orang yang mulai berkurang di kelas, memilih jalan berbeda, menjemput mimpi yang lain, kadang bertanya diantara radiasi matahari yang membakar genteng, apakah kita selanjutnya?

Ibarat telah tertulis di death notes satu persatu mulai mengundurkan diri dari perlagaan, tapi bukan untuk mati, hanya untuk lega, membunuh terror dalam diri oleh hantu bernama deadline, mengentaskan diri berlepas dari segenap tekanan yang mengikat leher hingga sulit bernafas, karena hidup itu tidak semudah terdengarnya, semua orang mencoba bertahan bersama banyak hal dalam waktu bersamaan karena dikte begini dan begitu, kita bisa apa? Sudah begitu jalannya, setiap orang memiliki takdir berbeda, tidak sama kehidupan satu dengan yang lain.

Namun, perkuliahan sama sekali bukan apa-apa, hanya sedikit cerita, sedikit tekanan di banding monster-monster diluar sana, di setiap fase telah memiliki post monster masing-masing. Entah satu, seratus, atau kelipatan lebih besar. Ini bukan akhir, tapi juga bukan sepele. Keputusan masa muda ialah keputusan-keputusan besar yang akan menentukan skenario selanjutnya.

Oleh karena ini, semoga semua orang tidak lelah untuk saling membantu, dan memotivasi satu sama lain, virus gila ini memang menyebalkan, kini bukan lagi orang-orang takut akan kematian olehnya, tapi kematian oleh gerak yang terbatas. Kelaparan, kesakitan, tekanan, siapa yang bisa mengakhiri semua ironis ini? Ancaman virus dimana-mana, tapi orang berkerumun justru baik-baik saja, bagaimana semua ini? Psikologi terbalik hal paling tidak jelas dari “asal mengikuti protocol kesehatan” untuk menakuti orang-orang sangat tidak cocok diterapkan untu 200 juta lebih manusia berakal, yang semuanya bukan dari kumpulan anak TK yang takut dengan ancaman jika tidak tidur, maka monster di dalam lemari akan  menampakkan diri.


Have a nice day.

Komentar

Postingan Populer