Perspective : Tuan Baik
Perjalanan menjadi dewasa, adalah tawa dalam tangis, bahagia dalam nelangsa, dan mimpi dalam kematian.
Butuh kebijaksanaan arif dalam menyikapi sesuatu. Hal-hal berenang di kepala, benak dipenuhi teriakan riak-riak entah yang bergema didalam sana.
Gencatan senjata dalam batin tanpa akhir, bahkan kini, kata "baik" menjelma ke dalam berbagai definisi.
Baik tidak hanya bisa diartikan sebagai bentuk harfiah dari maksudnya.
Baik menjadi hal ilmiah yang perlu ditinjau dari berbagai sudut pandang untuk mengerti maknanya.
Karena baik dalam arti "dewasa" tidak selamanya berarti baik.
Baik menurut seseorang, belum tentu baik bagi yang lainnya.
Dalam dunia dewasa spektrum warna menentukan sebuah "nilai" tidak hanya berkaca pada hitam dan putih saja.
Tanpa kacamata sebagai manusia yang memiliki empati, mungkin tidak mudah untuk dimengerti.
Jikalau dunia ini tak sama diantara semua manusia, relativitas dengan variabel masing-masing.
Mustahil menyamaratakan semua orang dalam frekuensi setara.
Lupakanlah.. tolong.
Sebelum "baik" versimu menghancurkan semesta yang orang lain miliki, satu-satunya hati mereka yang hancur, kepala-kepala mereka yang dipenuhi riuh rendah suara serba asing, hidup mereka menanggung beban berbagai versi seberat godam puluhan kilo.
Lupakan "baik" mu sejenak, benturkan dengan kemanusiaan.
Apakah obsesi idealisme sebagai orang baikmu sampai lupa menjadi manusia yang memanusiakan manusia?
Pada akhirnya, manusia tidak bisa mengetahui sudut pandang Tuhan.
Jangan melampaui batas, meski atas nama "kebaikan". Versimu.
Karena baik bagimu belum tentu, baik bagi orang lain, semesta.
"....... Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 216)
29 Desember 2020

Komentar