Euforia : Melankolia
Sudi tak sudi mengakui, manusia itu memiliki settingan dalam diri. Keterarahan untuk beriman (percaya). Untuk menyembah, untuk mengakui ada zat yang Maha Besar mengatur segala keterarahan yang bukan serendipity.
Kalian pernah, atau sedang mengalami? Perasaan tak tenang, gundah gulana, hidup dalam kehampaan dan kekosongan yang begitu memforsir hati serta rasio?
Tapi kalian tak tau apa, tak tau bagaimana, tak tau rupanya.
Apa yang salah? Apa yang kurang?
Bahkan, apa yang kalian inginkan?
Tanpa arah, kehilangan diri sendiri.
Banyak orang menghancurkan diri dengan berada di fase ini berkepanjangan. Bahkan, barangkali menghabiskan seluruh nafasnya karena tak berhasil menemukan apa sebenarnya sebab semua ini bermula?
Percaya tidak percaya, yang terpenting timbang dengan akal, akhir perenungan selalu mengarahkan ada satu hal mutlak yang disebut; Tuhan.
Bahwa segalanya mengarahkan kita untuk menemukan Tuhan. Maka, jawabannya Tuhan.
Kurang pengetahuan terhadap kepercayaan lain, namun, jika kita islam, malulah kita, karena ajaran dasar agama ini mengenai bab iman salah satunya percaya pada takdir ketentuan Tuhan.
Lalu apa lagi yang kita perdebatkan perihal kehidupan yang kita jalani? Selalu membandingkan dengan rasio, "kenapa hidupku begini, sementara orang lain..."
Dan egoisnya lagi, kita sengaja ingin menyudutkan takdir, melalui membandingkan diri dengan hal yang tidak kita punyai dan orang lain miliki.
Oleh sebab itu kita merasa punya alasan untuk menjadi melankolis. Untuk mendramatisasi takdir yang kita pandang buntung.
Lalu atas ketidakpuasan kita terhadap cerita yang Tuhan tuliskan untuk hidup kita dan kita ingin menjadi tokoh dalam cerita orang lain yang kita inginkan, timbullah kita berani mendikte Tuhan.
Tanpa kita sadari.
Kita berandai, "jika begini, pasti hidupku akan begini.."
Kita mengatur Tuhan yang MAHA SEGALANYA dengan sejumput akal yang TUHAN ANUGERAHKAN.
Dimana letak iman kita?
Setelah semua itu Tuhan masih merindukan kita.
Ia buat hati kita tak tenang dan merasa ada yang kurang. Blackhole dalam hati kita yang berdebu.
Tuhan ingin kita datang. Tapi kita semakin ingkar, mencari jawaban dimana-mana. Tidak pernah terpikirkan satu jawaban mutlak: TUHAN ADALAH JAWABAN SEGALANYA.
Kita ini kenapa sih?
Merasa begitu kuat bisa menyelesaikan segalanya tanpa bantuan Tuhan?
Menikmati rasa sakit yang membunuh demi enggan menengadahkan tangan ke atas meminta pada Tuhan?
Betah hidup dalam kekosongan yang menderitakan daripada PERCAYA pada Tuhan?
Apa yang membuat kita begitu sombong? Begitu keras?
Jika kita semua punya masalah; jangan pedulikan besar atau kecil, adukan pada Tuhan. Libatkan Allah.
Jangan menunggu musibah bala baru mau mendatangi Tuhan.
Tapi jika masih betah hidup demikian, haruskan Tuhan melakukannya?
Menimpakan bala agar manusia sadar dirinya sebatas hamba? Perlu Tuhan hancurkan dulu baru bisa memiliki hati yang selamat? Berserah diri?
Mata kita telah menyaksikan sendiri kabar-kabar duka di awal tahun ini. Adakah kita mengambil pelajaran?
25 Januari 2021

Komentar