Euforia : Reflection

 

Tulisan ini adalah isi benakku yang berbicara pada diri sendiri diatas semua kejadian demi kejadian yang tidak bisa diprediksi, apabila sampai kalian membacanya, tolong jangan anggap ini ceramah, karena aku akan malu menghadap Tuhan diantara segala maksiat, kurang amal ibadah, serta akhlakku yang cacat.

Berbulan-bulan ini, atau malah semenjak pandemi? Benakku tidak pernah tenang oleh kebingungan-kebingungan, seakan banyak hal berenang di kepala.

Barangkali itu juga dampak transisi usiaku menjadi orang dewasa dan mulai sadar akan lebih banyak hal dari sebelumnya. Berdamai dengan banyak hal tak sejalan, menerima realita dan beradaptasi dengannya berusaha ikhlas dengan semua yang dihadapkan.

Mungkin seusia ini semua orang merasa .

Aku meragukan arah keimananku sendiri. Meragukan diri sendiri. Meragukan dunia. Hilang arah, seakan-akan dunia ini sebercanda itu. Hampir saja aku tidak percaya pada banyak hal. Karena tanpa sadar pelan-pelan aku menjauh dari hidayah dan nilai-nilai akhlak islam.

Aku mempelajari diriku dengan fenomena-fenomena yang kurasa. Dan ini seserius itu rasa rinduku yang tak terobati karena jarak yang sejauh matahari dengan Tuhan.

Aku kehilangan banyak berat badan, aku gelisah dimalam hari, jam tidur kacau, badan dan jiwa tak terawat, kuliah seadanya. Pijar semangatku padam. Ibadah terasa kosong.

Kehampaan itu menyelimutiku dengan apik membisikkan sajak-sajak menakutkan; kecintaan pada dunia fana dan keserakahan.

Aku berpikir mungkin aku butuh semua yang mayoritas dapatkan, semua kehidupan orang lain yang takku miliki untuk mengisi kerinduanku yang suram sementara aku tak tau apa. Jika aku tak memenuhinya itu awal mula timbul insecure, dan banyak tekanan psikologis lainnya yang beragam.

Aku tak lagi mengenal diriku sebanyak aku tak mengenal Tuhan dalam kehidupan.

Sampai kemudian, kabar duka itu datang, kematian Guru Besar Syekh Ali Jaber.

Aku tidak mengerti aku merasakan pukulan yang ganjil, kesakitan dihati yang dalam, kerinduan tak terperikan, berakhir aku kembali terpantik untuk menyaksikan ceramah-ceramahnya yang di abadikan media. Terutama saat almarhum datang ke podcast Deddy Corbuzier, mendengar pemikirannya membuatku disiram air dingin diantara ketidaksadaran menjalani kehidupan.

Akhlak islam, sudah lama aku tidak mendengar kata-kata itu. Seseorang yang mengatakan itu, lama tidak mengalun di telingaku. Lama tidak kuhayati akhlak Nabi Muhammad dalam bersikap dan mengambil keputusan sementara aku bersholawat setiap hari padanya. Aku sungguh definisi cangkang kosong.

Bencana-bencana yang menimpa Indonesia dalam waktu sebulan terakhir ini juga meninggalkan kesan mendalam bagi kecerdasan spiritualku yang mati, bahwa semua ini bukan hanya sekadar fenomena alam, melainkan Tuhan berbicara meminta manusia kembali padanya.

Bodohnya aku yang merasa sendirian karena sakau akan keterasinganku yang tak mengenal diri sendiri. Lantaran aku lupa mengapa aku sampai ada di dunia ini.

Tuhan lebih dekat dari urat nadi ku, dari desah nafas dan desir darahku, Tuhan menyatu dalam diriku dan aku menggunakan wujud jiwa dan raga ini untuk maksiat dan mendzolimi diri sendiri.

Tuhan melambai agar aku kembali bercerita pada-Nya pada malam panjang dan sunyi. Tuhan merindukanmu sedemikian rupa memberiku rindu yang membunuh. Tapi aku tak mengerti. Padahal akhir jawaban dari segala pertanyaan, tiada yang lain selain Tuhan.

Namun, aku bersyukur pada-Nya, karena begitu mencintai dan peduli padaku, bahkan seluruh do'a ku dikabulkannya. Tuhan tidak pernah mengecewakanku ketika aku menggantungkan harap padanya.

Ini pemberian tak ternilai.. Ketika aku menemukan diri-Nya dalam diriku kembali. Hati yang masih merasa kasih sayang Tuhan, mata yang masih menangis akan kecintaan pada Tuhan-Nya adalah rezeki yang tiada setara, mengatasi segala keindahan.

Cukup bagimu Allah, dan dengan mengingatnya hati menjadi tenang

Manusia mengerti itu, namun terkadang khilaf dan hilang menggantungkan harapan pada ketiadaan, yaitu perhiasan dunia yang semu, hingga tak pernah puas sampai menuju kematian.

Untuk diriku di masa depan. Kembalilah membaca ini saat kau kehilangan arah dan tujuan. Bahwa Tuhan 'menyelamatkan' mu lagi yang kesekian.

Semoga, aku dan kita semua di wafatkan dalam keadaan berserah diri dan menjadi orang islam  yang sesungguhnya dengan hati yang selamat.

Amin paling serius.

20 Januari 2021

Komentar

Postingan Populer