Euforia : Choices and Deal

Aku menemukan sebuah pembelajaran hidup yang sangat berharga untuk diriku, setidaknya. 


Realitas kembali berbicara lewat semesta mengenai kebenaran. Jangankan setelah mati manusia mempertanggungjawabkan usia muda, bahkan ketika hidup konsekuensi itu sudah berjalan. 


Keputusan apapun yang kita ambil di usia muda, ibarat menebar benih yang akan terus tumbuh seiring pergantian waktu hingga kadarnya menuai. 


Tuhan tidak pernah mendzolimi hamba-Nya, jika hasil panenmu buruk seperti persembahan Qabil. Kamu menuai apa yang kamu tanam, hanya saja kamu belum tau kapan waktu itu tiba karena ilmu tentang takdir di luar batas pengetahuan manusia. 


You only live once, kata slogan usang itu. sebagian orang memaknai slogan itu untuk menjadi landasan berbuat sesuka hati, mengikuti hawa nafsu dan semua ingin-ingin yang terus menggelitik dalam diri tanpa batas, tanpa peduli apapun, harus tertunaikan. Toh, hidup cuma sekali kan? 


Tapi, bagiku, you only live once, artinya bahwa tidak banyak peluang kesempatan untuk sebuah keputusan yang salah, jika kita memilih 'jalan' yang salah. 


Memang, tidak ada kehidupan di dunia yang sempurna. Kita memang harus berdosa dan melenceng dalam dunia penuh godaan dan tipu-tipu, kalau tidak demikian, buat apa Tuhan punya sifat Maha Pengampun, right? 


Terkadang jalan yang kita ambil juga salah, kita gagal dan kalah dalam sebuah ambisi kehidupan. 


Cara yang benar, bisa mendapat akhir yang tak sesuai harapan, karena yang terbaik menurut seonggok hamba kadang belum tentu baik menurut Tuhan Yang Maha Mengetahui, bagaimana dengan cara yang JELAS salah dan keluar dari koridor? 


Lalu apa cara yang benar? Syari'at. 


Setelah mengetahui itu lantas kita menjadi orang hebat yang tidak pernah salah?


Tidak semudah itu.. 


Kita dan sifat manusia, di tambah godaan setan dan keburukan dalam diri kita, menjadikan semuanya tantangan dalam setiap level kehidupan individu. 


Yang berenang di kepalaku sekarang, tanamlah apa yang baik, meski kamu pernah menanam yang terburuk, agar sisa waktu yang entah seberapa lama kamu menuai panen terbaik. Biarlah panen-panen busuk itu menjadi pelajaran. 


Kejadian terburuk tidak selamanya bercerita tentang kisah tragis, kita bisa memilih sudut pandang berbeda untuk memberi reaksi terhadap suatu aksi takdir yang menyapa dengan bumi jelaga lengkap langit badainya yang gelap gulita. 


Terkadang pengalaman 'terburuk' itulah sebagai cara Tuhan berbicara, menyampaikan kasihnya dengan paradigma yang menjadikan Nabi Nuh betah berdakwah seribu tahun lamanya, Nabi Yusuf ikhlas di penjara, dan Nabi Muhammad tak gentar di musuhi kaumnya. Mereka orang-orang terpilih yang bisa mengubah perspektif 'pengalaman terburuk' bagi kacamata orang lain sebagai sebuah filantropi sekaligus bukti ketakwaannya. 


Tuhan hanya ingin kita kembali; itu saja. Karena dasar homo sapiens yang sering lupa dengan akalnya, kita sering sekali terlena dalam nikmat hingga tanpa sadar menjeda Tuhan dan menjauhi-Nya. Kita selalu lupa; menjadi sombong lebih dari yang di duga; kita menjadi keras; bersikeras menjadi manusia baik; sementara orang baik yang sesungguhnya tidak pernah merasa dirinya lebih baik atau bahkan 'baik' karena mereka tidak akan pernah 'cukup' untuk menjadi baik dan tau dirinya mesti berusaha hingga sampai di surga. 


Mulai sekarang; kurikulum yang harus disesuaikan silabusnya, Berhati-hatilah dengan keputusan di usia muda sekecil apapun, jangan remehkan. Karena keputusan itu adalah benih-benih yang akan kita tanam untuk suatu saat pasti  kita pula yang akan menuai dan menikmati 'hasil' panennya. 


Juga, apabila hasil panenmu ternyata buruk, itu pertanda kamu harus kembali. Allah adalah satu-satunya rumah untuk berpulang; rumah yang selalu terbuka dan akan selalu menyambutmu dengan ketenangan telaga dan keteduhan pohon. 



I don't try to study you, i won't graduate^^


viii. iii. mmxxi. 



Komentar

Postingan Populer