Tally


Tally; menghitung, mencatat, atau cocok dengan sesuatu.


Everybody tells me to play nice
Everybody judge, but looking twice
But my body don't belong to, nah-ah-ah, none of them though
And I'm not gonna change 'cause you say so.

(Tally - Blackpink)



12 Oktober 2025

Dan terjadi lagi. saya tau opini adalah opini. Kebenaran mutlak belum jatuh ke tanah. Semua yang kita pegang sebagai kebenaran bisa saja hanya perspektif. Namun, saya selalu mengutuk bahwa sebuah dosa selalu dipersangkakan kepada siapa dosa itu terbentuk. 

Seperti seorang binatang yang melecehkan seorang perempuan, dosa yang ditekankan adalah bagaimana seorang perempuan arogan, bagaimana seorang perempuan berpakaian menggoda, bagaimana seorang perempuan bepergian sendirian— narasi yang membuat perempuan yang harus mengubah dirinya when they literally just exist, sementara orang-yang-ditakutkan secara potensial akan bertindak jahat pada seorang perempuan, no rules for them

Ketika saya mendegar tentang seorang perempuan dilecehkan, kerap khalayak berprasangka menyusun hipotesa dosa manakah yang perempuan itu lakukan? Seolah-olah dosa selalu ditanggung perempuan. Entah kenapa society begitu menyudutkan perempuan. Bahkan sesama perempuan sekalipun berlaku layaknya algojo atau juri yang memberi nilai kepada perempuan lain.

Diri perempuan dan tubuhnya selalu memiliki sekelabat aturan dengan daftar panjang. Seolah perempuan dan tubuhnya adalah barang dan objek. Ketika perempuan tidak sesuai dengan ekspektasi dan standar sosial, perempuan itu dianggap rusak dan tak layak. Seolah-olah harga seorang perempuan selalu dikaitkan dengan tubuhnya.

Tubuh yang tak tertutup berarti murahan.

Tubuh yang tidak meneruskan keturunan berarti tak sempurna.

Dunia selalu ingin mendandani seorang perempuan untuk menjadi badut. Untuk memotong kakinya demi sesuai dengan sepatu yang diinginkan dunia.

Mereka selalu menekankan harus dan tidak seharusnya untuk perempuan.

Mereka tidak suka perempuan yang berpikir dan sadar akan pikirannya.

Namun, mirisnya sesama perempuan pun setuju dengan propaganda itu. Tidak tau menahu mengenai sistem yang bobrok yang selalu ingin melemahkan dirinya. 

“Perempuan jangan berpakaian terbuka, karena pernah ada suatu kejadian perempuan itu begini dan kemudian dia begitu.”

“Wajar kalau perempuan itu begitu, karena dia begini.”

“Menjadi ibu atau menjadi wanita karir?”

“Kapan menikah, nanti tidak bisa punya anak”

Selalu mencari dosa perempuan. Selalu menuntut perempuan untuk masuk ke dalam sebuah kotak label. Dan memilih pengorbanan.

Kalau ada kejadian pelecehan jarang ada simpati publik, mereka malah berlomba menyusun prasangka tentang dosa seorang perempuan. Bukan fokus kepada inti masalah; hipotesa yang perlu dijawab bagaimana seorang manusia bisa berkelakuan binatang padahal memiliki akal pikiran sehingga melakukan aksi bejat. Bagaimana mendidik seorang anak laki-laki agar tidak menjadi jalang birahi tanpa akal sehat. Bagaimana agar tidak membesarkan predator menjijikan yang tidak punya kontrol diri, alih-alih selalu menyalahkan perempuan.

Jika semua dosa bermula dari perempuan, mengapa korban dari pelecehan bisa bayi, anak-anak, nenek-nenek, bahkan sesama pria juga tidak bisa terhindar dari pelecehan.

Jadi, dosa itu bukan dipersangkakan kepada siapa dosa itu terbentuk. Pelaku kejahatan tetaplah seorang pelaku kejahatan. 

Ada yang tidak benar dengan cara kebanyakan orang berpikir. Hak siapa yang sebenarnya kita bela? Hak para binatang yang tidak mampu berpikir itu? Atau hak manusia atas tubuhnya dan pilihannya sendiri? 

Bagi perempuan, merdeka memang benar-benar belum ditemukan. 

404!


Komentar

Postingan Populer