Euforia : Jentaka Juli Jenaka

 

Tulisan ini diketik tepat pukul 00.00 saat suasana bumi mengheningkan cipta. Waktu di mana jarak dipangkas begitu dekat untuk berkomunikasi dengan diri sendiri, dan dengan-Nya.

Berterimakasihlah dengan syukur karena detik ini kita ternyata 'sampai' pada pengakhiran Juli.

Catatan ini berisi tulisan mengenai apa yang kupelajari dari juli, yang akan kubagikan pada diriku di suatu hari di masa depan nanti saat kembali ke blog ini.

Bulan yang mengabadikan detik saat hidup bertemu babak yang lain dari lampiran-lampiran yang telah tertulis, dan aku terkagum akan maha sempurna skenario-Nya.

Tak melulu tentang indah dalam napak tilasnya, bahkan aku sempat tertawa merokok dalam kepala, mengenakan setelan hitam dan menari di atas kuburan di bawah rinai hujan, frustasi dengan apa-apa yang kusaksikan dari jendela di tengah hutan pinus. Menarikan kematian empati, elegi menyayat hati dari alam yang merintih karena terabaikan, teriakan jelata yang meradang dibawah cengkraman kapitalis.

Tapi aku percaya sebagaimana daun yang jatuh selembar tercatat oleh-Nya, begitu juga kita- sebagai debu mikrosmos- di bawah pengawasan-Nya.

Berada dalam genggaman dan skenario-Nya. Bukan tentang yang baik-baik, tapi juga buruk-buruk yang melukai dan menguji dengan keji.

Saat hari-hari yang buruk itu terjadi, tidak apa-apa mengeluh sesuka hati- itu yang kupelajari dari juli- namun yang terpenting dari segalanya adalah do'a. Jangan sampai keasyikan mengeluh betapa menyebalkannya hidup terkadang, tapi lupa berdo'a pada yang menggenggamnya.

Ketika hidup menempatkan dalam keadaan yang tak diinginkan beserta drama  penuh kesenjangan- di penghujung hari yang kupelajari dari juli- jangan terlalu keras pada diri sendiri. Adakalanya membiarkan diri menjadi manusia dengan segala emosinya, dengan tabiat bawaannya, dengan fitrahnya, dengan apa yang disukai dan tidak disukainya.

Hari-hari yang kupelajari dari juli, juga tentang diam terkadang menyelesaikan banyak hal yang bisa mencipta berbagai kerusakan karena mendewakan ego pribadi. Diam memberi kebijakan dengan sesekali membungkam suara jika berbicara tak pada tempatnya.

Juli dengan segala rollercoasternya, detik-detik menguji kesabaran, memiliki keindahan di akhir karena mampu bertahan di antara ragam emosi yang mewarnainya, ya- meski langit tak ada bedanya.

Juli memang singkat; namun memberi pembelajaran selamanya.

Bahwa dalam hidup tak melulu mengenai atas bawah, pintar bodoh, tua muda, atau apapun itu perbandingannya, hidup adalah kesempatan belajar menjadi manusia.

Belajar jadi manusia adalah belajar berempati- bagaimana menumbuhkan empati termudah adalah dengan seolah merasakan apa yang seseorang rasakan, menganalogikan diri saat menjadi seseorang yang sedang tertimpa musibah dan lain-lain yang membuatnya tak baik-baik saja.

Belajar jadi manusia adalah dengan hidup membumi, sadar diri bahwa dalam 'menginginkan' sesuatu, harus ada bayaran. Dan setiap orang memiliki bayarannya masing-masing. Kenalilah jalan diri sendiri dan berjuanglah di sana, pada jalanmu, fokus pada perjalananmu dan berusaha untuk tak memikirkan terlalu banyak bagaimana cara orang lain 'membayar' untuk sampai pada inginnya.

Belajar jadi manusia adalah belajar memiliki harga diri- mempertanggungjawabkan apa yang ada di pundak, berani mengambil keputusan dan harus tegas pada diri sendiri dalam menjalaninya. Pikirkan kamu selalu bisa dengan berusaha dan meminta pada-Nya.

Percaya adalah kuncinya.

Percaya bahwa apa-apa yang baik akan mendatangkan yang baik. Tuhan mengenalkan diri-Nya sebagai zat yang sesuai prasangka hamba-Nya. Jika kita percaya skenario Tuhan adalah maha baik, seburuk apapun kemungkinan yang terjadi bahkan terkadang bisa menjadi agak sangat menggelikan dan lucu- karena kamu terkadang seolah menjadi tokoh dalam drama Korea dengan tingkat kesialan tertinggi di dunia. Seakan cuaca tidak pernah baik-baik saja. Tuhan mengguncang dari segalanya. Menguji sampai ke batas kata-kata sama sekali tidak berguna kecuali kesabaran dan suntikan morfin harapan dengan modal percaya, Tuhan dan rencana-Nya adalah yang terbaik dan apa-apa yang terjadi adalah proses benang yang saling terhubung dengan masa depan sesuai do'a yang kita panjatkan. Kita hanya belum mengerti, itu saja.

Selamat Juli, telah membuatku sedikit bersabar dan tertawa, tentu saja, pada skenario terlucu yang pernah ada di 2021.

xxxi.vii.mmxxi.

Komentar

Postingan Populer