Euforia : Nyawa Bercerita

 

Saya hari ini hampir mati.

Itu setidaknya momentum dramatis yang bercokol di kepala saya hari ini. Kalian hampir mendengar kabar bahwa kepala saya pecah atau jika cukup beruntung saya masuk rumah sakit dengan banyak cedera karena terjatuh dari lantai dua.

Tapi, setelah saya berefleksi detik ini, saya justru takut mengenai betapa jauh jarak saya dengan Tuhan.

Hingga Tuhan telah sedemikian rupa tak saya pikirkan dalam kehidupan saya, rupanya.

Bukan kalimat; saya hari ini hampir mati.

Justru saya salah di sini.

Setiap detik kita semua hampir mati jika Tuhan tidak memberi kita amanah untuk beribadah dan berbuat baik di muka bumi.

Justru saya salah di sini.

Setiap detik kita semua bisa celaka jika Tuhan tidak menyelamatkan kita dan memberikan kesehatan untuk menghirup oksigen dengan gratis dan bebas melakukan apa yang diinginkan.

Justru saya salah di sini.

Saya akan kelaparan, cacat, kurang kasih sayang, idiot, menderita, menjadi pecundang, jika Tuhan tidak mengizinkan saya untuk menjadi diri saya saat ini.

Saya telah salah. Saya berdosa.

Ternyata saya telah jauh, iman saya jatuh. Buktinya cara saya berpikir adalah ; saya hampir mati.

Seolah-olah mati bukan kehendak illahi.

Tapi Tuhan menyadarkan saya dengan cepat seperti biasanya, tidak peduli saya jujur dengan iman saya atau saya terkadang menjadi munafik. Tidak peduli saya benar-benar mempedulikannya semata dan hanya mencintainya atau justru saya bersikap tidak demikian. Tuhan tetaplah Maha Kasih seperti yang selalu saya kenal di sepanjang kehidupan saya yang diberkatinya.

Beberapa senti menuju maut yang nyaris, saya tersadar semua itu tidak mungkin terjadi tanpa kuasa Tuhan.

Saya berkata kepada kakak yang bersama saya, "Kak, saya mati." Mungkin itu kata kematian terpasrah. Kepala saya sudah kosong. Saya juga tidak dapat berbuat banyak dengan beberapa senti menuju kematian itu..

Mungkin itu akan menjadi kematian terbaik dalam versi saya yang maha kurang. Karena detik ini saya masih mencapai jiwa tenang yang stabil. Tidak memiliki penyesalan dalam versi kafir. Tapi mungkin keburukan untuk dunia dimensi lain yang dikabar beritakan para ahli kitab- karena iman saya terjun bebas, tauhid saya jatuh, ibadah saya rusak. Saya sedikit berkhianat sebagai manusia.

Namun, mengutip Tere Liye dalam novel Hafalan Shalat Delisa, "setiap kejadian itu memang cepat terjadinya, namun pengajarannya lah yang abadi."

Semoga saya dan kalian yang juga terdistraksi kembali Islam dalam artian menjadi pendamai di muka bumi yang dengan rendah hati mengucapkan 'salam (damai)' pada segala bentuk ujian atau perangai manusia  serta kembali menata diri untuk berbuat amal sholeh- belajar menjadi manusia- beribadah di bumi-Nya.

XVIII.VIII.MMXXI.

Komentar

Postingan Populer