Euforia : Because It's My First Life
"Cara berpikir tertentu menjadi penyebab munculnya simtom-simtom yang menganggu. Cara pandang kita yang keliru atas kejadian dalam hidup menyebabkan kita stres, depresi, atau marah-marah tanpa alasan yang jelas."
-Filosofi Teras
Semua orang baru pertama kali hidup di dunia ini. Adalah kumpulan silabel favoritku akhir-akhir ini. Sebuah kata pemakluman yang indah- seperti rangkulan seorang Ayah yang hangat ketika membantumu menaiki sepeda untuk pertama kali yang bisa kita saksikan di film-film keluarga ideal.
Semua orang baru pertama kali hidup di dunia ini. Kalimat yang sederhana namun begitu kuat tertanam di memori otakku. Benar, tidak salah lagi, semua orang baru pertama kali hidup di dunia ini, oleh sebab itu mereka harus belajar.
Semua orang baru pertama kali hidup di dunia ini sehingga wajar mereka melakukan kesalahan, gagal, tidak bisa memilih keputusan yang ideal. Semua itu normal.
Kesadaran dari semua orang baru pertama kali hidup di dunia ini adalah semangat belajar. Mempelajari semua hal, tapi yang paling utama adalah belajar menjadi manusia.
Berbicara tentang manusia, apa yang membuatnya istimewa? Akal pikiran.
Pikiran adalah kekuatan terbesar.
Mengubah mindset berarti mengubah hidup, kata salah satu motivator random yang kulihat di fyp tiktok.
Dan itu valid.
Yang membuat seseorang gila dan sakit adalah pemikirannya sendiri. Karena kau adalah apa yang kau pikirkan. Apa yang kau sebut dunia- hanya ada dalam kepalamu.
Pemikiranmu berada dalam pengaruhmu, itu yang terpenting. Dan kau, sibuk menyalahkan cuaca, menyalahkan waktu, menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, menyalahkan kesempatan, menyalahkan banyak hal untuk memberi alasan agar kau satu-satunya manusia yang paling terbaik dan paling berjuang- namun semesta tak pernah bersahabat. Bagus, kini kau menyalahkan alam semesta.
Just stop it. Really. Itu akan membunuhmu. Seperti lingkaran setan dan kau membuat dirimu sendiri berada dalam himpunan pemikiran negatif, sehingga kau memaksakan diri sambil menyalahkan apapun yang bisa kau salahkan dan hidup sebagai manusia yang mengerikan lalu kau menyalahkan dunia yang telah menjadikanmu demikian.
Pada suatu kondisi yang tak terelakkan, yang diluar kuasamu seperti penyakit, kecelakaan, kematian, kegagalan dan lain sebagainya; kau tidak bisa berbuat apapun tentangnya.
Di sini, kau tidak dituntut untuk mampu mengubah takdir. Namun, dituntut untuk sabar.
Mendikte semua penyesalan, mengobarkan kebencian agar ada objek untuk disalahkan, berzikir dengan segenap jalan buntu, mengeluh akan kemalangan tidak akan menyelesaikan apapun selain memberikan kau energi negatif dan kelelahan serta kemunduran mental juga kesehatan.
Kesalahan mindset adalah sesuatu yang fatal. Semua manusia bisa berpikir, tapi berpikir yang benar, manusia tetap harus belajar dan mengumpulkan informasi serta mengamalkannya secara konsisten.
Belajarlah; setidaknya itu yang bisa kuingatkan pada diriku di masa depan tatkala membaca tulisan ini.
Ingatlah, ada fase dalam hidup yang harus kau lalui, sebuah proses penting. Dan Fellexandro Ruby pernah berkata dan menginspirasiku, hidup itu tidak bisa di skip. Ketika hari-hari semacam ini datang, jangan terfokus dan hanya menghabiskan energi untuk mengubahnya karena tak sesuai keinginan kita sendiri, karena itu sia-sia. Untuk bisa mekar setangkai bunga harus menjalani berbagai kondisi cuaca dan banyak faktor lainnya, bunga tersebut tidak bisa terus berusaha ingin mengubah kehendak langit, ia harus menerimanya dan menjalani semua itu dengan sabar dan percaya bahwa suatu hari nanti ia akan mekar dengan indah..
Bernafas lah, nikmati prosesmu. Nikmat tak melulu tentang bahagia dan apa-apa sesuai rencana. Kau mungkin pernah mendengar frasa; sengsara dalam nikmat.
Yaitu contoh kesabaran Nabi Muhammad dibenci kaumnya, kesabaran Nabi Ayub dengan penyakitnya, Kesabaran Nabi Nuh dengan usahanya, Kesabaran Nabi Yusuf dengan fitnahnya.
Kenapa?
Karena mereka tau apa yang sebenarnya mereka perjuangkan.
"Once you stop learning, you start dying."
-Albert Einstein
XXIII.X.MMXXI.

Komentar