Euforia : Nihil

 Mereka bertanya tentangnya.


Walau mereka tidak terlalu peduli.


Mereka hanya berkomentar seadanya.


Tapi, dia -sebagaimana dirinya, sebagaimana yang kau kenal tentangnya, adalah pemikir- dia suka berpikir, memikirkan hal-hal yang bagi sebagian orang tidak penting; aneh, tidak dipahami.


Berfilsafat dengan caranya sendiri, bertanya mengenai eksistensinya, menyelami akar apa dan mengapa lebih dalam, lapar akan pengetahuan mengenai dirinya, dan eksistensi yang mengenggam nyawanya.


Sebenarnya siapa dia?


Dia pun tak tau dia itu apa.


Kenapa ia tidak bisa menikmati hal-hal biasa yang ada.


Terpisah dari dunia; adat istiadat, budaya, ia tetap mencintainya, tentu saja..


Tapi, ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.


Bahwa kemana pun kini kakinya melangkah, ia hanya membawa cangkang kosong; lalu menderita dengan kehampaan setelahnya yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.


Semua tempat akhirnya sama saja; semua orang juga.


Semakin hari ia merindukan sesuatu yang sekiranya tidak bisa diberikan dunia ini.  Mencintai nihil, jatuh cinta pada ketiadaan.


Sesekali ia menjawab kepada mereka yang bertanya; menjelaskan sedikit tentang dirinya.


Mereka mendengarkan.


Tapi, sekali lagi, mereka hanya berkomentar.


Dan sudah menjadi tugas manusia untuk berkomentar atas apapun yang manusia lain lakukan; baik atau buruk sama sekali bukan acuan.


Manusia hanya senang berkomentar.


Seharusnya dia memang selayaknya untuk tidak berharap semua penjelasannya akan berarti; toh, atas semua pilihan hidupnya, mereka (orang yang sama) akan bertanya dengan pertanyaan yang sama kembali ; kenapa?


Harusnya ia bisa lebih bebas, menggunakan fasilitas Tuhan mengenai kehendak bebas manusia untuk memilih memerdekakan diri; berlepas dari komentar manusia.


Jalan yang sulit memang, untuk menjadi berbeda, untuk menjadi manusia yang tak bisa dipahami, manusia yang melelahkan dan membosankan di dunia yang semua orang berlomba untuk menunjukan eksistensi ini.


Menempuh jalan nihil sebenarnya adalah kegilaan.


Menempuh pilihan kesendirian sama dengan kematian.


Namun, kembali pada kebebasan kehendak manusia, harusnya ia tidak perlu lagi repot mengcopy paste jawaban yang sering ia berikan pada orang yang bertanya : kenapa?


Karena semua orang bebas memilih jalan yang ingin ia tempuh, asal bertanggung jawab dan tidak melanggar hak orang lain.


Termasuk jalan mencintai ketiadaan.


Mereka bertanya lagi, kenapa?


Bagaimana bisa dia menjelaskan gambaran alam idenya yang begitu asing di mata manusia yang tak berniat memahaminya.


Menjelaskan secara sederhana dibalik semua tempat dan manusia menjadi sama saja? 


Namun, kesadaran menghantam. Bukan kapasitasnya memahamkan orang lain mengenai cara hidup dan jalan pilihan yang ia tempuh..


Akhirnya adalah kesia-siaan belaka.


Toh, semua itu hanya komentar saja.


Dia tidak wajib menjadi harus dan seharusnya.


Karena apa, yang paling mengenal dia adalah dirinya. 


Dia jiwa bebas yang berani membebaskan dirinya dengan pilihan maha berbeda dari semuanya.


Berlepaslah ia dari proyeksi 'mereka' yang berusaha memandang dirinya dalam diri orang lain, seolah mereka benar-benar tau dengan pengetahuannya yang terbatas mana jalan terbaik mana yang tidak untuk seseorang yang tak mereka kenal, yang perkataannya tak mereka pahami, resapi atau bahkan repot untuk peduli.


Mereka hanya berkomentar saja, manusia memang begitu. Mereka tak peduli jika mereka tak tau.


xxx.xii.mmxxi.


Komentar

Postingan Populer