Persona : Sikap dan Etika

 

A beautiful mind-

Sebuah kesadaran baru dariku untuk diriku ketika membaca tulisan ini kembali suatu hari nanti.

Setelah beberapa dekade berlalu; aku masih seseorang yang belum menemukan kesadaran dari pemikiran inner child, memiliki pemikiran sempit jika orang-orang yang bagus retorikanya berarti lebih mudah dan akan lebih mengesankan jika bekerja sama.

Ketika menjadi penonton saat mereka di atas panggung, luar biasa!

Kira-kira itulah yang ada dipikiranku ketika masih kanak-kanak hingga remaja.

Beda kini, setelah hidup memberiku pengalaman dan pembelajaran;  seharusnya aku tak kecewa dengan pandangan yang kupercaya sejak lama, melainkan bersyukur karena mendapat sudut pandang baru jikalau retorika bukanlah suatu hal yang paling utama sebagai manusia yang dituntut untuk bersosialisasi.

Ada yang lebih penting, yaitu sikap dan etika.

Aku jadi lebih mengerti jika kegagalan dan kemandekan manusia paling besar disumbang oleh banyak bicara tapi miskin eksekusi.

Ya, everybody does.

Itu merupakan kurikulum setara selamanya; menyinkronkan antara perkataan, pikiran dan perbuatan. Perjalanan tanpa akhir hingga hembusan nafas terakhir.

Yang ingin kusampaikan pada diriku sebagai manusia, kita harus selalu berproses untuk beradaptasi dan terus berubah.

Dan berusahalah untuk tak mengangap remeh atau menunda sesuatu, terutama jika menyangkut orang lain..

Milikilah etika dan belajar menentukan sikap.

Karena dengan begitulah nilaimu akan naik di mata orang lain, memang value kita tidak ditentukan oleh validitas orang lain, tapi jika kita sama sekali tidak memiliki kesadaran dan terus bersikap apatis, tidak akan ada yang menerima sikap tersebut di mana pun kita berada.

Sikap dam etika inilah yang begitu miris dalam diri anak muda kini, bukan karena mereka bodoh secara akademik maupun tidak memiliki prestasi di bidang non-akademik, melainkan mereka tidak memiliki karakter. Terlalu apatis.

Sikap dan etika ketika sendiri tentu berbeda dalam kehidupan sosial, jika kita terbiasa untuk hidup tidak jelas, tidak teratur, mengabaikan dan menunda-nunda, terserah jika hanya kita terapkan untuk diri sendiri karena yang merasakan dampak adalah diri sendiri.

Namun, ketika berada dalam ruang lingkup sosial alias melibatkan orang lain, tidakkah sikap demikian akan memberatkan orang lain?

Setidaknya ini afirmasiku pada diriku sendiri untuk berusaha menjadi anak muda yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.


10 Januari 2022

Komentar

Postingan Populer