Persona : Eksistensialisme
Hai diriku di masa depan!
18 April 2022, kamu masih sama.
Tapi, hari ini kamu menemukan sebuah pemikiran yang lain.
Tidak dimengerti bukanlah sebuah pengakhiran sebuah pemikiran, melainkan salah memilih telinga yang tepat untuk berdiskusi. Atau kesalahan 'bahasa' yang digunakan.
Orang yang mengerti akan menghargai, orang yang malas berpikir akan menghakimi dengan seketika. Tidak ada yang salah antara keduanya. Ketidaktahuan bukanlah sebuah dosa. Manusia hidup pada porsinya.
Kerangka berpikir masih menjadi acuan utama. Belum mengertikah dirimu?
Bukankah sudah pernah kubincangkan dalam kepala kita, kerangka pikir manusia itu beragam. Bahasa manusia itu berbeda, walaupun pada kenyataannya kita sama-sama menggunakan bahasa indonesia misalnya tapi tetap saja jika kita membahas sesuatu dengan kerangka pikir metaforis dan lawan bicara dengan matematis tentu komunikasi tidak sejalan.
Diriku, tidak ada orang yang pintar dan bodoh di dunia ini. Semua itu hanya stigma orang yang malas berpikir dan kemegahan orang yang merasa pandai karena orang lain tidak mengetahui apa yang dia ketahui.
Kamu tau, menurutku kenapa banyak orang lemah dalam berhitung? Karena mereka dipaksa mengerti satu simbol yang sama, sementara manusia memiliki banyak bahasa tersendiri.
Keterbatasan bahasa dan ketidakmampuan menafsirkan simbol dalam 'bahasa' yang lain menjadi kendala utama baik pendidik ataupun peserta didik.
Ketika peserta didik tidak mengerti mengenai rumus medan magnet dalam fisika, guru akan dengan mudah mengatakan peserta didik itu bodoh. Tanpa berpikir bagaimana menjelaskan dengan bahasa yang berbeda agar dimengerti?
Sama halnya kamu membahas filsafat eksistensialisme pada orang yang tidak pernah mengkaji filsafat dan dia tidak mengerti, apakah kamu akan dengan mudah menganggapnya bodoh dan kurang literasi?
Kamu yang bodoh. Ketidakmampuanmu berkomunikasi.
Menjadi manusia dialogis diriku, kamu berarti harus memiliki sifat satria dan wigati, sifat yang tidak bermegah-megahan terhadap diri.
Itu attitude yang harus dimiliki.
Sepertinya ini bukan hal baru sama sekali. Bukahkah novel bilangan fu telah membuatmu belajar mengenai laku kritik dan kritis dalam memandang sesuatu?
Pemikir sejati tidak akan pernah menganggap segala sesuatu dengan mudah sebagai kebenaran atau menjatuhkan penilaian serta stigma seenak jidat.
Manusia itu bukan sebuah entitas yang jelas ukuran hitam dan putihnya. Dinamis, kompleks.
Diriku, jangan pernah memberi nilai pada manusia berdasarkan kerangka pikirmu yang maha terbatas dan bodoh.
Kalau kita berpikir pendek, semua kelihatannya jelas. Semakin kita berpikir panjang, semakin kita tahu bahwa begitu banyak di depan dan di belakang
kita yang hanya merupakan anggapan. Terlalu banyak yang tak bisa kita lihat, sehingga orang modern rasional sekalipun
sesungguhnya hanya berpedoman pada anggapan dan kepercayaan sendiri.
Jadi, jangan pernah menganggap dirimu benar dan orang lain salah. Untuk mendapatkan hasil 4, tidak harus 2+2 , bisa juga 3+1 atau dengan banyak cara lainnya.
Peganglah kata-kata ini agar kebodohanmu tidak terulang, sayang :Bahwa inilah yang dimaksud dengan sikap kritis adalah sebuah sikap yang menyertai “laku kritik”. Sikap yang mempercayai sesuatu sekaligus menunda sesuatu itu. Sikap yang tahan menanggung, memanggul, penundaan itu. Penundaan kebenaran. Manusia menginginkan kebenaran hari ini juga. Sayangnya, kebenaran itu tak ada hari ini, meski harus dipercaya setiap hari. Kebenaran, jika ia menampakkan diri hari ini, tak lain tak bukan adalah kecongkakan. Laku kritik adalah menahan kecongkakan. Ia memikul beban berat itu, agar jangan kebenaran jatuh ke tanah dan menjelma pada hari ini. Biarlah kebaikan yang menjadi pada hari ini. Bukan kebenaran.
Kita harus menanggung, memanggul, dan menunda. Jika merasa benar dengan anggapanmu terhadap sesuatu sesungguhnya kamu hanya congkak. Padahal seorang pemikir sejati tidak akan demikian.
Ketika kamu sadar dirimu ada, untuk mengisinya eksistensimu harus benar-benar bukan hanya sebatas pencarian hakikat dan esensi, namun juga tercermin dalam ekspresi jasmani dan rohani. Seorang pembelajar sejati, diriku, sudah adil semenjak di alam pikiran.
Selamat bertumbuh.
18 April 2022

Komentar