Persona : Wayang
Ini bukan titik pertama aku berjabat tangan dengan kesadaran. Kesadaran selalu beda dengan pengetahuan. Tak memiliki korelasi dengan berapa kali kau mendengar sebuah pernyataan, namun lebih mengarah ke alam rasa berupa abstrak yang sukar dijelaskan. Kesadaran ini seolah membangunkanku dari tidur panjang, tiba-tiba aku menyadari jikalau manusia tidak lebih dari wayang. Memang, dengan segala anugerah dan kemegahan penciptaannya manusia itu memegang tahta tertinggi kesempurnaan termasuk di dalamnya segudang kebebasan , kebebasan yang tidak bebas. Kebebasan bersyarat dengan hukuman atau ancaman pembalasan yang menyertai. Untuk manusia kebebasan sama dengan paradoks atau menimbulkan variabel terikat.
Manusia memanglah sebuah wayang namun dalam versi yang sedikit istimewa. Sejujurnya, sisi diriku, yang paling gelap dan paling kiri, selayaknya kafir, selayaknya jalang, aku mengutuk diriku sendiri sebagai manusia. Terkadang aku membenci diriku sebagai manusia. Aku terkadang membenci fitrah manusia di jam 1 dini hari saat gangguan tidurku bercinta dengan isi kepala yang terus berputar seperti gasing kurang hajar yang tak kenal lelah.
Manusia, manusia memang selalu rumit dan brengsek. Bahkan dari semenjak Tuhan berwacana menciptakannya terjadi perdebatan di langit. Saat diciptakannya terjadi pertengkaran di langit hingga iblis dikutuk.
Terkadang aku cinta menjadi manusia karena memiliki perasaan yang iba dan mudah tersentuh.
Tapi memikirkan fitrah yang begitu membosankan dan sebenarnya menyebalkan itu, aku membenci diriku yang manusiawi.
Manusia sebagaimana wayang bekerja harus selalu dituntut untuk memenuhi fitrah penciptaannya. Tau sisi kelamnya? Bukan oleh semesta dan seisinya, bukan pula oleh Tuhan yang Maha Bijaksana, namun karena dirinya sendiri! Karena sifat kemanusiaannya itu. Manusiawi itu selamanya lemah, maka Hanan Attaki, Ustadz yang aku kerap dengarkan tutur bahasanya itu, sifat manusiawi tak selamanya anugerah melainkan juga ujian, dan untuk menjadi beruntung sesuai deskripsi Al 'Asr haruslah menempa diri menjadi mukmin.
Alangkah beratnya menjadi manusia. Pantas saja gunung tak mau mewarisi bumi, karena menjadi makhluk hidup itu begitu rumit.
Jika pertanyaanku kutulis menjadi novel ini pasti sudah baris ke puluhan ribu kali mengenai eksistensiku, mengenai diriku yang terkadang sebagaimana binatang jalang. Otakku bisa berpikir jernih namun inti sel dalam DNAku tentu saja bertasbih menjalankan fitrah.
Fitrah yang menuntut, fitrah yang meminta pertanggungjawaban. Fitrah yang kejam apabila tak ditunaikan, fitrah yang menjajah manusia dengan begitu mengerikan.
Beginilah hidup bukan?
Indah namun menderita. Bebas namun juga penjara.
Inilah cerita manusia, wayang yang jalan ceritanya telah ditentukan, baik, buruk, kacau, brengsek, sialan, semua harus diterima dan dijalankan.
Meski dunia terus menyesatkan yang dituntut adalah iman, meski dunia menyudutkan yang dituntut adalah keikhlasan. dunia memang gila bagi wayang yang menyadari dirinya.
Cinta dan benci begitulah permainan hidup wayang manusia. Cinta pada sesuatu yang ia sebenarnya benci, benci pada sesuatu yang sebenarnya ia cinta. Wayang manusia membiasakan diri untuk munafik hingga ia lupa jika dirinya munafik.
Seperti kamu. Aku membencimu, tapi aku harus mencintaimu, harus menerimamu karena aku manusia. Aku benci menginginkanmu, tapi karena aku wayang manusia aku harus melakukannya. Sebenarnya aku tidak ingin melakukan semua hal yang kulakukan, tapi karena aku adalah wayang! Seonggok wayang lemah yang harus selalu mengemis pada Tuhan untuk kehidupan yang bahkan aku lupa pernah minta dilahirkan!
Hai para munafik, kita semua pernah berada di tingkat dalam memikirkan semua ini kan?

Komentar