Persona : Liberation Notes

 

Aku baru saja menyelesaikan drakor berjudul Liberation Notes. Drama yang cukup booming dengan kutipannya yang berseliweran di tik tok. Kata baru saja di sini sebenarnya mungkin sekitar beberapa hari yang lalu.

Bukan aku jika tidak menyusahkan diri sendiri, apa susahnya kalau hanya menonton saja? Sayangnya, aku dengan kebiasaan melamunkan apapun, berakhir menganalisis drakor liberation notes.

Drama yang mengusung tema slice of life dengan penyampaian yang cukup realistis, meski in my opinion beberapa plot dan dialognya sedikit cringe- liberation notes masuk dalam list drama favoritku. Dan ternyata penulis naskahnya adalah penulis naskah drama My Mister, drama favoritku lainnya yang menempati urutan 1.

Membawa isu psikologi seseorang, tontonan atau bacaan seperti ini selalu berhasil menarik diriku terlalu dalam, bahkan seolah merasuk merasakan diri sebagai tokoh-tokoh dalam cerita, mencoba mengerti jalan pikirnya, memahami lingkungan, masa kecil, dan isu-isu yang dimiliki tokoh-tokoh tersebut hingga menjadi dirinya.

Tidak sesuram saat menonton my mister yang membuatku tidak bisa berbicara dengan benar selama 3 hari, liberation notes membuatku menimbang, dan menelaah pemahamanku tentangnya.

Park Hae Young (penulis naskah) dalam dua dramanya yang aku sukai, selalu membuat premis seorang gadis kesepian yang sering diabaikan dan membenci hidup pada akhirnya berubah karena bertemu sosok yang memiliki isu serupa namun dalam konteks yang berbeda, keduanya terhubung kemudian perlahan-lahan saling menyembuhkan.

Memang, di dalam hidup selalu ada bagian dimana kita akan bertemu orang-orang yang akan membuat kita berubah. Entah itu ke arah yang lebih baik atau lebih buruk tergantung kita menyikapinya.

Untuk drama my mister, aku berdamai sepenuhnya. Mungkin karena aku anti-romantic? Karena di drama ini nyaris tidak ada romance melainkan filantropi.

Berbeda dengan liberation notes yang memasukan romance tipis-tipis.

Di gambarkan jika Mi Jeong (MC Female) adalah seseorang yang memiliki kepribadian introvert. Mi Jeong lelah dengan dirinya sendiri karena ia tak pandai berekspresi dan hanya mengatakan semua yang ingin ia suarakan dalam kepalanya sendiri, hal itu membuatnya frustasi. Akhirnya Mi Jeong memutuskan untuk meminta bantuan Mr. Gu (MC Male) yang merupakan salah satu pekerja Ayahnya di ladang dan pabrik untuk memuji dan mendukungnya, serta Mi Jeong ingin menjadikan Mr. Gu sebagai sosok dimana ia bisa bebas berbicara tanpa khawatir dianggap freak oleh orang lain. Mr. Gu adalah pribadi yang ekstrovert, fearless, percaya diri, dan sedikit brengsek. Di datangi gadis pendiam seperti Mi Jeong dengan permintaan yng cukup unik membuat Mr. Gu yang kesepian dan kecanduan alkohol untuk melupakan realita mengabulkan permintaan Mi Jeong.

Aku suka cara Mi Jeong dan Mr. Gu berkomunikasi, bagaimana mereka saling terhubung satu sama lain..

But, as a Mi Jeong and her siblings...

Mereka selalu mengeluh setiap harinya, Gi Jeong (Mi Jeong's sister) selalu mengeluh kepada siapapun karena merasa sempurna jika memiliki kekasoh, abangnya, selalu mengeluh pada semua orang memgenai teman kerjanya, dan Mi Jeong meski hanya pada dirinya sendiri juga selalu mengeluh dan mengutuk hidup.

Dan terfatal menurutku Mi Jeong dan kakaknya. Karena mereka mematokkan kebebasan mereka dari hati yang sesak entah kenapa, kekosongan yang menyeruak dalam raga, kelesuan tanpa akhir, dan kebencian pada nasib dan kehidupan, dengan menjadikan 'menemukan seseorang' sebagai jawaban. Ya, di drama tersebut mereka menemukannya, berkaca pada realita mungkin banyak orang melakukan dan menemukan pula.

Namun, jika kalian menonton dramanya, sebenarnya banyak peluang mereka untuk merasa bahagia ada atau pun tanpa 'seseorang' yang kan menyelamatkan mereka.

Banyak jalan untuk menjadi bahagia dan berpegang pada hal sederhana.

Bukankah mengantungkan standar kebahagiaan pada orang lain atau keinginan tertentu begitu ironis? Sampai kapan seseorang mampu untuk selalu mengisi gelas kita yang kosong jika kita sendiri tak berdaya untuk mengisinya?

Memang, 3 bersaudara di liberation notes menemukan dirinya, setelah bertemu seseorang ataupun keadaan yang menyadarkannya.

Tapi, disini kita berbicara keadaan 3 bersaudara sebelum bertemu orang/kejadian yang mengubah mereka.

Tak melulu menunggu adalah jawaban. Menunggu sebuah kejadian yang mengubah kita atau menunggu seseorang mengubah hidup kita.

Tidak.

Kita tidak akan berubah jika bukan kita yang merubahnya. Keinginan, kemauan, kehendak, that's it.

Daya dalam diri kita mampu untuk itu. Mengenal diri sendiri, melihat ke dalam diri, apa yang sebenarnya kita butuhkan dan tidak, apa yang sebenarnya kita sukai dan tidak, mana yang sebenarnya kehendak diir kita dan kehendk di luar diri kita.

Jika kita mengenal diri kita sendiri maka kepercayaan diri kita akan tumbuh tanpa menunggu sebuah kejadian tragis menimpa kita atau bertemu seseorang yang lebih mengenal kita dibanding diri kita sendiri, lalu menunggunya mendiktekan siapa kita untuk mengenal diri sendiri.

Sometimes, everything you want is  yourself. Who are you? Do you know? Or you just still sit fucking down and waiting for somebody to save your life? To tell you who you really are?

Rabu, 6 Juli 2022

Komentar

Postingan Populer