Persona : Perfection is Imperfect

"Tidak masalah bagimu untuk menjadi diri sendiri. akan tetapi, aku tidak mengatakan untuk menjadi "persis seperti dirimu yang sekarang." itu sudah cukup. kalau kau benar-benar tidak merasa bahagia, jelas ada yang tidak beres dengan keadaanmu saat ini, kau harus terus melangkah, dan tidak berhenti."

 - Berani Tidak Disukai (Book) 

I ever said, "i love myself", and she told me, "no, you didn't ."  Momentum dimana aku terperangah, lalu kilasan momen-momen berkelabat memenuhi kepalaku. damn, bahkan aku tidak punya satu argumen pun untuk membantahnya. it's fukcin' true. lama, aku tersesat kembali dari diriku, menghidupi nyawa dengan pengabaian. dinamika yang begitu singkat dan mendesak sedang terjadi di duniaku, kemudian aku putus kontak dengan diriku dan dari pesan-pesan Tuhan yang memberi semua jawaban dari pertanyaan berulang hanya jika aku merenungkannya.     

Beberapa bulan yang melelahkan dan aku membenci diriku sendiri, memaksa diriku yang tak punya energi untuk mengikuti hawa nafsuku untuk mewujudkan  dongeng klasik seperti primitif yang tak mengerti apa itu kesehatan mental dengan romantisasi idealisme basi mengenai sajak-sajak suci tentang harus jadi versi terbaik.

Tapi, aku tak ingin menyalahkan diri terlalu kejam memojokkan diriku dengan pemikiran konyolnya beberapa bulan lalu. People changes, and absolutely me too, right?

Tak pernah ada kata terlambat untuk membaca tanda. Dan tak butuh waktu lama aku bisa membaca tanda, namun hanya membaca, lalu seseorang berkata, "Pengalaman dan pembelajaran tak hanya di dapatkan ketika keadaan sesuai rencana atau wishlist jadi nyata, kadang semua itu di dapatkan dengan dipaksa tumbuh pada kondisi yang paling kita benci."

Sejak hari itu aku menerima keadaanku saat itu tapi tetap membenci diriku yang tak bisa sedetik pun tersenyum lepas.

Aku tak pernah sebelumnya membenci sebuah kondisi sebegitu hebatnya, atau lost control terhadap emosi sebegitu mengguncangnya.

Kebencian yang sampai ke tulang-tulangnya.

Menjadi manusia yang dominan iblis didalam dirinya.

Tuhan telah mengujiku, mungkin baginya aku gagal jadi manusia, atau mungkin juga tidak.

Tuhan tidak bermain dadu dengan alam semesta.

Aku diam-diam memikirkan rahasia dan teka-teki dengan menyusun tanda-tanda yang kutemui.

Aneh tapi nyata, manusia-manusia itu, setting kejadian, semuanya de ja vu, seolah sebuah boneka yang diciptakan serupa, bahkan kata-kata yang diucapkan seperti template yang sama. Kutipan dari buku Manjali dan Cakrabirawa "Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, maka kita bisa coba membaca tanda. Dan setiap kali sebuah tanda selesai dibaca, setiap kali pula yang ditandainya telah bergerak."

Yang tak selesai di masa lalu.

Tuhan mengujiku sekali lagi. Dan aku yang dijiwa memeluk aku yang diraga. Ternyata 'aku' telah menjadi wanita bukan lagi gadis kecil dua tahun lalu yang bingung dengan keadaan serupa.

Aku yang semakin bertumbuh dengan jelas. Memutuskan dengan tegas.  Memilih jalan dengan berani. Membahasakan dengan percaya diri. Sepenuhnya yakin ini jalan yang diberkati.

Selain ujian terkait perasaan benci, marah, frustasi- seluruh perasaan tergelap manusia..

Pengalaman di tempat neraka itu, aku berhasil menerima diriku.

Kesempurnaan adalah menerima ketidaksempurnaan.

Menerima jika it's okay not to be okay.

Tidak ada kata cinta sebelum ada kata benci.

Tempat neraka itu telah mengajarkanku untuk mencintai diriku sendiri.

9 Oktober 2022



  

  

Komentar

Postingan Populer