My Name : Secukupnya
28 hari di tahun 2023..
Alegori yang menjelaskan bagaimana seminggu ini terlewati jika digambarkan
melalui visualisasi sebuah film—tentu saja film Pearl 2022. Mendeskripsikan tentang
kekuatan di luar diri yang tak terkendali, variabel bebas yang tak terikat yang
serupa bom waktu siap menghancurkan harap-harap yang pernah dilantunkan dengan
syahdu dalam bungkus do’a dan cita. pengingat kalau manusia tidak bisa memiliki
semua yang mereka inginkan, terkadang hidup sudah bukan lagi tentang
ingin-ingin.
Film Pearl, sebuah film yang cukup menarik yang kusaksikan minggu
ini. Bagaimana seorang wanita frustasi yang memiliki mimpi, memiliki harap—kemudian
dihancurkan oleh takdir.
Bagaimana do’a-do’a serta pengabdiannya yang tak terbayar,
bagaimana semesta begitu kejam menempatkannya dalam posisi tanpa pilihan selain
menerima dan menanggung segalanya sendirian. Bagaimana semesta tidak berpihak
kepadanya. Film ini terus menjadi bahan berfilsafat dalam kepalaku, terkadang
yang terjadi memang menyesakkan—kemungkinan terburuk, variabel palling tragis
atau skenario paling berdarah itu ada, itu nyata dan menunggu waktu saja
sebelum menjelma jadi realitas.
Apakah Pearl salah?
Entahlah, melenyapkan nyawa orang lain—ya, secara moralitas dan
dogma atau apapun itu istilahnya yang mengikat.
Tapi, bisakah kita hanya membicarakan Pearl? Apa yang kamu lakukan
jika menjadi Pearl? Apakah tetap akan diam, menanggung segalanya, mengorbankan
diri, dan tersenyum ceria layaknya anak baik?
Rasa frustasi dan depresi di film Pearl begitu mengerikan,
digambarkan dengan apik, sekaligus menyesakkan.
Pearl yang malang.. bahkan atas segalanya dengan aturan dunia Pearl
tetap seorang villain, tanpa peduli apapun yang ia rasakan. Pearl yang
tak bisa menolong dirinya sendiri dan ditelan kegelapan purna tanpa seorang pun
yang membersamainya.
Gelap, film yang sungguh gelap.
Manusia memang tidak bisa hidup tanpa harapan.
Jadi, berharaplah meski tau akan dikecewakan. Jangan pernah lelah
untuk berhenti berharap.
Beristirahatlah sejenak jika lelah, menangislah, bersikap gilalah,
tertawalah, anjing-anjingilah hidup sepuasnya—tapi, secukupnya.
Tidak lebih dan tidak kurang.
Tidak masalah, benar-benar tidak masalah untuk berharap sehari saja
cuaca cerah lalu kenyataannya keesokannya badai.
Berjuanglah, tidak masalah kalau besok harapanmu tidak sampai.
Bermimpilah, tidak masalah seandainya selamanya akan tetap jadi
mimpi.
Tertawalah, tidak masalah detik selanjutnya meminta air mata.
Berbahagialah, tidak masalah luka telah bersiap di depan mata.
Hidup selalu lebih baik dari mati, bergerak selalu lebih baik dari
pada diam meski merangkak sekali pun, bangun memaksakan diri beraktifitas lebih
baik dari pada menunggu mati di tempat tidur, memaafkan dan menerima lebih baik
dari pada memendam dendam, sakit hati, serta kebencian.
Berjanjilah, untuk tidak menzolimi diri sendiri dan orang lain.
Apapun yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi.
Kamu harus berakhir dengan selamat, sehat, dan waras serta memilih
jadi baik.
SECUKUPNYA.
28 Januari 2023

Komentar