My Name : Summer Strike
79 HARI DI TAHUN 2023
“When things get difficult, stop for a moment. Turn around
and see how far you’ve stepped.” – Kim Taehyung.
Hidup adalah mengenai persepsi dari
pilihan perspektif menyikapi sesuatu. Lagi dan lagi itu kesadaran yang harus
kutanam dalam diri hingga mendarah melahirkan tingkah laku selaras.
Bukan keadaan
yang sulit, tidak selalu keburukan dalam diri orang lain yang menyebabkan
masalah, dan bukan kekurangan dalam diri yang menjadi momok penyakit—tapi
persepsi.
Hari ini
akan kurekam momentum waktu dalam aksara, titik syukurku yang sesederhana
menemukan sebuah drama bertema kehidupan dengan romansa tipis-tipis berjudul
Summer Strike.
Semoga aku
tidak akan pernah melupakan Yeo Reum. Semoga Yeo Reum hidup dalam diriku dan
aku akan membawanya selamanya. Yeo Reum alegori sebuah jiwa yang memiliki hati
yang tak memiliki kebencian besar, memiliki pemahaman yang luas terhadap orang
lain, memiliki hati lapang untuk menerima keadaan, tidak pernah mengeluh,
memiliki daya syukur tinggi pada hal-hal sederhana. Kebahagiaan baginya adalah
merasa cukup dengan apa yang dimiliki.
Summer
Strike mengingatkanku untuk istirahat sejenak dan bersyukur dengan hal
sederhana—meromantisasi hal yang biasa.
Bermimpi besar
itu baik, ambisi dibutuhkan dalam hidup, namun bijak selalu lebih tinggi
ketimbang semua kebaikan di dunia ini, karena baik belum tentu bijak.
Kebijaksanaan
yaitu menempatkan sesuatu sesuai kadarnya. Hidup tidak melulu tentang
lari-larian, tidak melulu tentang jalan cepat, tidak melulu tentang siapa
sampai duluan, tapi hidup tanyakan suara hatimu apakah itu benar-benar yang kamu
inginkan? Atau dirimu hanya membutuhkan validasi orang lain? diakui?
Di dunia ini
tidak ada satu orang pun yang memikirkanmu sebanyak kamu memikirkan dirimu
sendiri dan untuk apa kamu mengkhawatirkan tentang apa yang orang lain
pikirkan?
Kebahagiaanmu
prioritas utama. Kamu peran utama di takdirmu sendiri. Hidup ini adalah
perjalananmu, ceritamu, kamu yang menulisnya, kamu yang paling mengetahui
jalannya. Hanya percaya pada dirimu dan ikuti kata hatimu, kamu akan sampai
pada apa yang kamu cari.
Mengenali dirimu,
selalu berkomunikasi dengan hatimu membuatmu mengetahui kapan kamu harus
berhenti, kapan kamu harus bersantai, kapan kamu harus berlari.. Tuhan Maha
simetris, Dia suka pada sesuatu yang seimbang.
Hidup
menjadi sulit saat kamu memaksakan diri untuk menapak di sepatu orang lain. setiap
manusia itu individu berbeda dengan banyak komponen yang membentuk semua
tentangnya, manusia bukan objek pasti yang memiliki indikator penilaian
sehingga tiap langkahnya berakhir di finis yang sama. Mungkin, jika secara
agama finis dan indikatornya ada, tapi perjalanannya tetap berbeda.
Semua orang
berlari, dunia berputar dengan cepat, semua orang berlomba dan takut
tertinggal. Namun, saat dirimu merasa segala sesuatu seakan sulit, bahumu jadi
lebih berat dari biasanya, kepalamu berisik dari sebelumnya, badanmu jadi lebih
lesu dari selamanya, tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, menikmati waktu
dengan caramu dan lihat ke belakang sejauh mana langkah yang telah kamu tapaki.
Ambil waktumu
sebanyak mungkin, seperti aku. Seperti jalan yang kutempuh saat ini, jalan yang
kuambil dengan berani dan penuh percaya diri, jalan yang belum pernah
kuungkapkan pada semesta, siapa aku dan pikiranku, alasan mengapa dan apa,
jalan paradoks, jalan yang berlawanan dari jalan orang kebanyakan. Jalan yang
kutempuh sendirian untuk belajar dan belajar berpetualang dalam duniaku
sendiri, menyelami diriku sebagai manusia, menyadari eksistensiku ini apa..
Kita semua
bermetamorfosis dengan cara kita masing-masing dan semuanya memiliki fase
tersendiri. Filsuf Marcus Aurelius mengatakan, “Alam semesta tidak pernah
terburu-buru namun semuanya tercapai.”
Matahari tidak pernah terburu-buru
untuk tenggelam karena ia tahu jika telah waktunya pasti ia akan tenggelam dan
hari berganti malam.
Salah satu
perenungan tauhid yang dalam yang selalu kusuntikkan dalam darah dan nafas,
keterarahan Tuhan adalah bukti bahwa ia ada dan selalu mengawasi kita.
Manusia dikandung 9 bulan, pisang
matang setelah 40 hari, kucing melahirkan setelah mengandung 3 bulan, tidak
kurang dan tidak lebih menggambarkan pola jika sesuatu yang terjadi di dunia
ini memiliki fase yang harus dilewati dan diterima sesuai kadarnya dan apabila
sudah waktunya kita akan sampai pada ketentuannya. Tuhan pasti menunaikan
janjinya. Namun, Tuhan selalu maha paradoks, ada keyakinan maka ada keraguan
sebagai lawannya agar simetris, keraguan yang berusaha menguasai kita untuk
lupa untuk terburu-buru dan sembrono menjalani hidup yang singkat namun
bermakna ini.
Ah, Yeo Reum, I wanna be kind like
you. Selalu berhasil mengalahkan keraguan dan menyelimuti diri dengan
segenap kidung janji Tuhan. Mencintai hidup, menjadi orang yang tulus sehingga
menjelma panasea bagi sekitar. Semoga aku bisa berbahagia sepertimu Yeo Reum.
Do’aku selama ini menyimpang Yeo
Reum, saat kubuka diaryku saat SMA aku tak pernah meminta sebagaimana kini aku
dewasa, meminta dikuatkan bahunya, meminta dilapangkan dadanya, tidak Yeo
Reum.. aku hanya meminta sederhana, aku meminta bahagia dan selalu ceria. Ternyata
itu jawabanku atas segala tanya kenapa aku kini jauh berbeda?
Betapa besar makna do’a Yeo Reum,
pantas saja dulu sepelik apapun kehidupan aku tetap bersemangat dengan binar
penuh harapan, percaya pada janji Tuhan, dan ceria dalam naungan ketulusan dan
diselimuti kebahagiaan padahal kenyataannya jika dinilai dari data, fakta, dan
logika harusnya sekarang adalah titik aku bisa berbahagia karena menjalani
kehidupan yang lebih dari yang otak sederhanaku dulu berani pikirkan. Tapi, aku
ingkar. Aku bukan lagi sosok penuh kebahagiaan dan bersemangat itu. Aku telah
pudar dan layu hanya karena do’aku menyimpang. Aku ingin kembali Yeo Reum,
seperti dirimu yang bersinar di musim semi.
20 Maret 2023

Komentar