hell is empty
“Hell is empty
And
all the devils are here”
-William Shakespeare
Katanya kita sedang berada di hutan terlarang. Kita tidak pernah tau apa yang mengintai di dalamnya, namun tentu saja kita paham betul bahwa isi hutan tersebut adalah kumpulan predator; tentang makan dan dimakan. Tentang menjadi alat dan diperalat. Tentang memanipulasi dan termanipulasi.
Bau busuk mulut harimau memakan bangkai menyeruak, membunuh sebanyak mungkin hewan buruan agar tetap berada di puncak rantai makanan.
Apakah kita domba, kancil, ular, hyena, serigala, harimau, atau kelinci? Bahkan seekor semut yang tak ingin peduli dari fokusnya mengangkut makanan terpaksa menyerbu hewan manapun yang terus lapar hingga menghancurkan sarangnya.
Rantai makanan tak mungkin putus bukan? Apakah itu takdir? Apakah itu keseimbangan alam?
Seorang anak bertanya padaku perihal game Hungry Shark Evolution, “Bu, apakah Hiu itu jahat? Kenapa ia hidup dari memakan ikan yang lain?”
“Hiu itu tidak jahat, ia hanya bertahan hidup. Karena ia hidup dari memakan hewan lain dan manusia (di game tersebut).”
Apakah itu jahat, nak? Apakah itu baik?
Kebenaran belum jatuh ke tanah.
Kita hanya melihat dari perspektif kita, nilai kita, pengetahuan kita, latar belakang kita. Terkadang, bukan tugas kita menilai apalagi perihal sesuatu yang bersifat subyektif.
Mungkin terkadang seekor singa tampak begitu jahat saat mengincar rusa yang sedang makan rumput. Tapi, singa bisa saja sedang kelaparan dan ada bayi kecilnya yang kelaparan selama tiga hari belum makan di gua.
Kalau singa jahat maka manusia lebih jahat. Manusia adalah makhluk paling jahat. Manusia bukan hanya mengincar satu domba untuk mengisi perut, tapi manusia mengincar ayam, sapi, dana taktis, suku bunga, uang rakyat dan masih banyak lagi.
Ya, mungkin di usia setua ini dunia tak lagi sepolos permen yupi love pink putih.
Terlalu dini untuk muak. Terlalu dramatis untuk membuat WA Story tato G-dragon, too fast too life too young to die.
Jika kau menjadi harimau? Apakah kau akan memakan domba, jika hanya dengannya kau bisa hidup? Misalnya, kau sebagai harimau di detik itu sangat lapar, dan yang kau temui hanya menyingkirkan domba itu, apakah kau akan melakukannya? Is it wrong? Is it bad?
Jika kau menjadi domba, apakah kau akan pasrah dimakan harimau? Karena kau tak diajarkan untuk bertarung. Kau tak diajarkan untuk menggigit. Kau hanya mencintai hidup tenang bersama kawananmu di padang rumput. Kau tidak mengerti bagaimana melawan karena kau adalah hewan ternak yang terbiasa diarahkan pengembala.
Domba yang malang.
Harimau yang terikat takdir.
Tapi, manusia bukan harimau. Manusia memiliki banyak pilihan.
Hanya saja manusia juga terikat benang merah bernama takdir.
Everything for a reason, remember?
Kembali ke titik awal.

Komentar