puzzle

 19 Januari 2025

"Puzzle”

Andai aku bisa bicara pada Tuhan.

Andai Tuhan menjelaskan dengan tanda-tanda yang bisa otak dangkalku pahami.

Begitu refleksiku pada alam. Kesimpulan dari cerita yang kudongengkan pada ketaksaan.

Mengenai sebuah puzzle terbengkalai dalam diriku.

Hantu yang membayangiku. Tak selalu datang, namun aku tau ia di sana. Menunggu waktu yang tepat untuk menyerangku. Melihatku dengan mata kelamnya, berusaha merasukku untuk masuk dalam kegelapan.

Kegelapan yang pernah merantaiku dengan belenggu ingkar. 

Sebuah pertanyaan yang menaungiku sebagaimana langit. 

Bagaimana aku bisa melarikan diri jika segenap cara yang kupakai untuk lari dan bersembunyi tidak bisa mengenyahkan eksistensinya? 

Si hantu puzzle.

Si langit.

Si tanda tanya besar di kepala.

Ketika aku bercerita, setiap jiwa hingga kecerdasan buatan manusia akan memberiku cara bagaimana bertahan melawan hantu.

Namun, aku tak butuh itu.

Aku perlu memeluk hantu itu. Berdamai dengannya. Menerima jika ia akan selalu setia menemaniku dimanapun dan kapanpun.

Oh man, dia sangat setia.

Keingintahuan manusia berusaha menguak misteri. Orang bijak berkata, tidak semua hal harus ada jawabannya sekarang.

Sungguh maha benar.

Tapi, kau tau puzzle? Apakah ia akan sempurna jika kepingannya hilang? Sebuah kepingan kecil yang kupikir tidak terlalu berguna, siapa sangka akan merusak perspektif tampilan puzzle secara keseluruhan?

Aku mencoba melupakan puzzle itu sebagaimana saran para jiwa bijak dan kecerdasan buatan. 

Lucunya, lagi-lagi susah untukku berdamai dengan keingintahuan.

Rasanya janggal, rasanya kurang jika aku tak menyelesaikannya. 

Ternyata Tuhan siap siaga mendengarku, menyadarkanku, memberi hint dimana puzzle itu berada. 

Aku mulai membaca pola,

Tentang tayangan yang tak sengaja kusaksikan. 

Tentang seseorang yang berbicara untuk selaras dengan alam semesta.

Tentang teman lama yang selama ini kukira mabuk lem karena bercerita mengenai energi semesta.

Dan terakhir tentang percakapan tak sengaja dengan seseorang yang kurasa adalah titik akhirnya (atau mungkin sesuai asumsi pribadiku).

Aku mulai membaca teka-teki yang membentuk pola. Awalnya aku tak mengerti kenapa. kenapa semua kebetulan menyeretku dalam lingkaran maut orang-orang yang berbicara tentang energi dan transformasi kesadaran.

Lalu aku paham, mengenai pertanyaanku. Mengenai puzzle terbengkalai yang tak penasaran kuselesaikan hingga jadi hantu. 

Tentang kesalahan-kesalahanku yang hanya kuanggap angin lalu tanpa benar-benar kusesali. 

Potongan puzzle itu bukannya hilang, aku hanya tak sadar akan kehadirannya. 

Ada kesalahan penyusunan di sini. Aku tak merubah cara menyusunnya sehingga ada bagian yang tak pernah ditemukan.

My bad. 

Aku harus merelakannya. Puzzle yang telah kususun itu, untuk memperbaikinya menjadi utuh aku harus  membongkarnya dari awal, lalu menyusunnya kembali.

Aku harus merelakannya. Merelakan energi yang telah kuhabiskan. Merelakan keindahannya yang sesuai rancanganku itu harus menghilang. Puzzle itu harus disusun sebagaimana mestinya, sesuai rancangan pembuatnya. Aku harus mengikuti arahan itu untuk merasa utuh, harus selaras dengan ingin sang pencipta—agar puzzle itu tidak terbengkalai dan berujung menjadi hantu yang kadang datang.

Mungkin, sebenarnya aku sudah tau ada kesalahan dalam penyusunannya, namun aku malah fokus pada bagian kosong dan lebih mudah menganggapnya hilang ketimbang menyusun ulang.

Saatnya mereset semuanya. 

Menyusun ulang sesuai kemauan sang pencipta.

Tampaknya, aku sudah bertemu jawabannya secepat ini.

Tuhan menjawabku, kali ini dengan tanda-tanda yang otak dangkalku bisa pahami. 



Komentar

Postingan Populer