Vikings : Lagertha The Great

 15 November 2025

playlist :

- sailor song // gigi perez

- sampai jadi debu // banda neira

- perempuan yang sedang ada dalam pelukan // payung teduh

- scott street // phoebe bridgers

- you're gonna live forever in me // john mayer

- seperti takdir kita yang tulis // nadin amizah



“Dia tidak pernah berhenti mencintai karena takut disakiti, dia lebih takut kehilangan kemampuannya buat mencintai. Karena di sanalah kekuatannya yang paling sejati."


Let’s talk about series Vikings. Series kaum pagan yang brutal berdasarkan sejarah nyata meski dibumbui drama namun surprisingly membuat saya kaget how beautiful it was. Bahkan, untuk menulisnya saja saya kehilangan kata karena “this is what I need.” Games of Thrones yang saya pikir this is “My GOAT series ever” dan akan susah mendapat tandingannya dan yap setelah menonton Vikings, I scream on my head, “THIS IS SO ME.”

Jika Game of Thrones penuh fantasi di mana terlihat cukup jelas karakter antagonis dan protagonis, maka Vikings adalah kejujuran. Dan kejujuran yang saya suka dari Vikings adalah menggali sisi terdalam dari manusia—kesempurnaan dan ketidaksempurnaannya.

Tapi, kali ini saya tidak ingin jadi sok analisis series dan talking about Vikings itu bisa jadi satu tulisan panjang karena tiap karakternya begitu kuat dan rumit dengan alur penuh simbolis dan filosofis, sangat menarik.

Ada satu karakter yang sangat saya cintai dan bisa saya katakan sangat well written. Something I’ve never seen before, sebuah tokoh perempuan yang written by man tapi bisa sebagus ini.

Lagertha. 

Menurut saya Lagertha bukan hanya sebuah tokoh dalam series, tapi Lagertha adalah alegori sosok perempuan yang benar-benar menginspirasi. Lagertha lebih dari sebuah karakter—dia lambang harapan.

Banyak keputusannya yang membuat saya bertanya. Tapi Lagertha mengajarkan saya bahwa mungkin manusia bisa kuat tanpa kehilangan kasih, bisa terluka tapi tetap lembut, bisa sendiri tapi tetap penuh cinta. Lagertha mengingatkan saya tentang cinta, kasih, dan kelembutan seorang ibu. Keperempuanan sejati.

Keperempuanan yang tidak membuat Lagertha menjadi lemah, tapi justru menjadi kuat. Keperempuanannya tidak membuat ia gentar berperang karena dia adalah gadis perisai terhebat, she become an earl, bahkan ratu. Lagertha juga bisa kejam pada orang yang kejam padanya.

Lagertha baik dan lembut tapi memiliki batasan. Dia memberi cinta tapi dia tau kepada siapa ia harus memberi cinta.

Lagertha adalah seorang perempuan sejati yang bebas, yang tidak mau siapapun mendefisinikan dirinya. Tidak membiarkan seorang pun menyakitinya. Dia tetap ingin menjadi dirinya. Very authentic soul. Dia kuat sampai akhir. Dia sangat hidup dan utuh.

Diselingkuhin Ragnar (suaminya) ? Lagertha no drama dan memilih langsung pergi bahkan tidak menuntut hak asuh Bjorn (anaknya), hanya saja Bjorn yang memilih ikut bersamanya. Lagertha hidup dengan prinsip dan kehormatan, ia tidak akan membiarkan Ragnar menentukan valuenya dengan menjadikannya istri kedua, sementara Lagertha adalah yang berjuang dari awal bersama Ragnar mendukung mimpinya. Lagertha tidak peduli dan mempermasalahkan semua itu, satu yang ia pegang dia adalah perempuan yang utuh dan tidak menjadikan tindakan Ragnar sebagai definisi siapa dirinya, malah Lagertha mengambil kesempatan itu untuk keluar dari bayang-bayang Ragnar dan membangun hidupnya sendiri.

Yang saya sangat amazing dengan karakter Lagertha ia tidak ditulis menjadikan trauma sebagai penghambat dirinya dalam memberi cinta, diselingkuhi Ragnar (suami pertama), dikhianati Earl Kalf orang yang ia percaya sekaligus calon suaminya, Dikhianati Astrid pendukung setianya, Ditinggal mati Uskup Heahmund pas lagi sayang-sayangnya, Lagertha tidak hancur, ia tetap utuh dan berdaulat atas dirinya. Tidak ada luka pengkhianatan atau kematian yang bisa menghancurkannya dan mendefiniskan siapa Lagertha, dia tetap melangkah maju dengan hati yang terluka tapi tetap terbuka.

Lagertha benar-benar lambang kekuatan feminine yang bertahan tanpa kehilangan jiwa.

Dan keputusan unbelievable yang hanya bisa dilakukan oleh seorang wanita terkuat dan bermartabat adalah ketika Lagertha memutuskan bergabung dengan ekspedisi Ragnar setelah ia menjadi seorang Earl. Tapi, apakah Lagertha datang kembali pada Ragnar untuk kembali menggoda Ragnar secara romantisme?

ABSOLUTELY NOT. Lagertha kembali karena ia tau mungkin Ragnar brengsek sebagai pria tapi sebagai partner, Ragnar punya visi besar. Lagertha datang kembali bukan sebagai mantan istri Ragnar, atau ingin kembali menjadi istri Ragnar, Lagertha keluar dari semua bayang siklus romantisme dengan Ragnar dan datang kembali sebagai aliansi. Mereka setara dalam visi. Hal itu membuat Lagertha keluar dari bayang-bayang “hanya” mantan istri Ragnar. Dia Lagertha, gadis perisai terhebat.

Ragnar tau persis bagaimana kualitas Lagertha. Meski mereka berdua tidak benar-benar berhenti mencintai satu sama lain. karena cinta mereka melampaui batas romantisme atau label. Mereka adalah belahan jiwa. Sayangnya Ragnar baru menyadari hal itu setelah sekian lama, setelah jiwanya perlahan hilang oleh pertanyaan akan makna, di akhir hayatnya, Ragnar akhirnya sadar ia tidak ingin jadi legenda, yang ia inginkan adalah tidak meninggalkan peternakan saat di mana hanya ada Ragnar, Lagertha, Bjorn, dan Gyda. Menyelingkuhi Lagertha dengan Aslaug adalah downfall pertama Ragnar.

Lagertha memang pecinta sejati, oleh sebab itu Lagertha tidak mau menerima cinta Rollo karena ia tau Rollo mungkin benar mencintai Lagertha tapi cinta Rollo lahir dari luka dan inferior atas Ragnar, Rollo selalu hidup dibawah bayang Ragnar dan baginya memiliki wanita Ragnar mungkin akan membuat egonya terpenuhi. 

Lagertha juga berakhir membunuh Earl Kalf meskipun pada akhirnya Kalf menyerah, ia hanya mencintai Lagertha. Tapi, Lagertha tau hubungan yang dimulai dengan pengkhianatan tidak akan pernah berakhir baik. Lagertha pernah memberi Kalf kepercayaan tapi Kalf menyalahgunakan kepercayaan itu.

Dalam hidup Lagertha, no more chance. 

Lagertha dan Uskup Heahmund, cinta terlarang bagi Heahmund. Ketika Heahmund semakin merasa bersalah karena mengingkari sumpah dan jalan hidupnya sebagai Uskup, Lagertha melepaskannya, membiarkan Heahmund menjalani pilihannya. Hingga akhir hayatnya Heahmund tau bahwa yang ia mau adalah Lagertha.

Cinta setara Lagertha hanya Ragnar. Cinta mereka kuat, tanpa paksaan, tanpa keinginan menguasai satu sama lain, melampaui apapun label atau situationship yang ada di dunia.

Saat Ragnar mengkhianati Lagertha, maknanya bukan hanya kehilangan suami. Lagertha mendukung Ragnar dari hanya petani sampai jadi bangsawan dan terkenal, percaya pada mimpi Ragnar. Mereka membangun Kattegat bersama dari desa biasa sampai jadi pusat perdagangan. Lagertha kehilangan rumah, identitas, dan kepercayaan terhadap dunia.

Kalau di dunia nyata setelah semua itu terjadi pasti menutup diri, namun Lagertha adalah perempuan terkuat, ia malah belajar terus membbuka hati. Ia menyembuhkan dunia dengan cinta yang ia miliki. Lagertha mencintai bukan karena butuh tapi karena menghargai, ia tidak cinta karena kesepian tapi cinta karena menghargai kekuatan orang lain. Lagertha mencintai kualitas yang familiar untuknya sebagai cerminan dirinya; keberanian, keyakinan, keteguhan, kekuatan, dan kedamaian.

Ia jatuh cinta bukan untuk diisi, tapi untuk berbagi. 

Cinta dan kasih Lagertha sangat menggambarkan kasih alami seorang perempuan, seorang ibu. Cintanya bukan hanya pada lawan jenis, tapi pada orang-orang yang ia lindungi, pada anak-anak, pada bangsanya.

Lagertha bukan hanya berani bertempur di medan perang tapi dalam series Vikings Lagertha adalah yang memiliki emosional terkuat, ia memiliki keberanian emosional luar biasa. Ia hidup secara hadir, ia menghadapi semua yang terjadi dengan tenang, ia merasakan dan menerima apa yang terjadi dengan respon yang bermartabat. Karakter wanita yang jarang ada di layar kaca. 

Banyak perempuan kuat dalam fiksi digambarkan dingin, keras, berlepas dari emosi. Tapi Lagertha adalah anomali. Ia berani dan berperasan. Kuat tanpa kehilangan hangat. Bermartabat meski dalam penderitaan. Mencintai dengan seluruh dirinya, ia hadir bukan hanya dihidup seseorang yang ia sentuh kehidupannya, tapi di jiwa mereka. even, saya sebagai penonton.

After Lagertha, seperti dulu saya manifesting sosok Yeo Reum agar tidak pernah hilang di dalam jiwa saya, saya harap saya dan anda yang mungkin tersesat membaca racauan ini mampu memiliki kualitas Lagertha.

Yang memiliki keseimbangan antara hati dan akal, mampu merasakan dan menilai. Tidak dingin dan impulsive.

Yang mampu menerima luka, ridho atas segala takdir. Tidak hidup didalam luka. Tidak berhenti hidup hanya karena orang lain, dunia, atau takdir yang menyakiti kita.

Yang bring to the table ketulusan dan intergritas, martabat, dan prinsip hidup.

Lagertha mampu mencintai dan terluka dalam waktu yang sama. Banyak duka yang ia terima tapi tak melalaikan tanggung jawabnya. Ia juga takut mati setiap perang, setiap keputusan yang ia ambil, bahkan ketika peramal meramalkan ia akan dibunuh oleh salah satu anak Ragnar, ia tetap maju, Lagertha mengerti kalau semua yang ia miliki atau kejar adalah fana, tapi ia selalu hidup memeluk setiap momen seolah itu abadi.

Lagertha adalah alegori perempuan yang hidup dengan berani.

Hiduplah dari detik ini,

Bisa merasa kehilangan tapi tetap peduli.

Bisa merasa kosong tapi masih ingin bertanya kenapa.

Bisa merasa ragu tapi tetap memilih tidak menutuo hati

Bisa melihat absurditas dunia tapi tidak jadi dingin karenanya.

Lagertha hidup seperti Sisyphus yang terus berjuang dan berharap tiap hari mendorong batu ke puncak bukit, ia tetap menjalaninya dengan utuh meskipun ia tau dunia begitu absurd dan fana seolah batu Sisyphus yang mungkin akan jatuh dan menimpanya. Dan kita asumsikan Sisyphus bahagia menerima “hukuman” itu dari para Dewa bagai Lagertha yang mengatakan pu

as dengan hidupnya di nafas terakhirnya.

Komentar

Postingan Populer