THE MEDIUM

 

1 Februari 2026




Pernah merasa bangun di suatu hari tiba-tiba mendapat sebuah kesadaran seperti ditampar oleh sesuatu yang tak kasat mata? 

Inilah momen saat mengalami transformasi kesadaran.

Kamu tidak tau apa. Kamu tidak tau bagaimana. Kamu tidak tau awal mulanya. Kamu hanya sadar. Bukan secara dramatis. Tapi, ada yang berubah. Bukan sulap, bukan sihir. Realita masih tetap sama. Jarum jam masih berputar pada medan magnetnya. Yang berubah adalah cara kamu merasa, cara kamu memaknai.

Saat kamu pernah kehilangan bahasa. Mengalami jenis kehidupan yang tidak kamu kenal. dirimu merasa tidak relevan dengan dunia baru. Keadaan dalam kebingungan, seperti berada di tengah samudera yang luas tanpa tepi, tak berujung, namun kamu tidak tenggelam, kamu hanya mengambang terlentang menghadap langit. Kamu tidak tau mau apa, tidak tau mau kemana, bahkan untuk berdoa, kamu tidak tau mau meminta apa.

Saat kamu ingin menulis, mendadak tidak ada aksara yang melintas di kepalamu, semuanya hanya numpang lewat. Saat kamu ingin memotret, tidak ada lagi objek yang menarik perhatianmu. Saat kamu berbicara dengan seseorang tidak ada yang ingin kamu tau. Saat kamu ingin melukis, kanvas itu tetap kosong seperti isi kepalamu.

Lost in translation. Lost in connection.

Lalu tiba-tiba ada sesuatu atau sebuah atau seseorang yang mengingatkanmu tentang kesadaran. bukan kesadaran baru, tapi kesadaran you are YOU.


Energi ini ada dalam bentuk seseorang. Seseorang yang seperti cermin yang mengingatkan kamu tentang siapa KAMU.

Di dunia yang serba terbatas ini, di dunia yang bersuara perlu memikirkan hierarki ini, di dunia yang berusaha mendandanimu seperti badut ini, di dunia yang mencoba memolesmu jadi harus dan seharusnya ini, di dunia yang pragmatis ini, di dunia yang mengkotak-kotakkanmu ini, bahasa yang kamu gunakan sebelumnya kehilangan wadah. Bahasamu yang sebelumnya tidak lagi relevan.

Bahasamu sebelumnya adalah mengatakan monyet adalah monyet. Tolol adalah tolol. Bangsat adalah bangsat. Keputusan adalah diskusi. Perbedaan pendapat adalah biasa. Bahasamu sebelumnya adalah bahasa kebebasan. Bahasamu sebelumnya mengungkapkan perasaan. Bahasamu sebelumnya adalah perlawanan dan kemerdekaan.

Orang tidak berbicara dengan bahasa itu di dunia ini. Di dunia ini orang-orang berusaha menunjuk anjing untuk disebut rusa. Tersenyum pada iblis. Tunduk pada bakhil dan batil. Kambing ingin orang lain jadi kambing yang sama. terpaksa mengikuti kelinci dan menganggapnya serigala, karena itu yang dunia ini inginkan.

Level 1 kamu merasa heran.
Level 2 kamu bertanya, "apa yang terjadi?"
Level 3 kamu berefleksi, "apa yang salah?
Level 4 kamu berusaha mengubah realitas
Level 5 kamu mencari makna
Level 6 kamu berekspektasi
Level 7 kamu kecewa
Level 8 kamu merasa hidup itu absurd
Level 9 kamu menerima segalanya apa adanya

Lalu transformasi kesadaranmu terjadi, ada sebuah energi yang menyadarkanmu.

Energi itu punya bahasa sendiri.

Ia tidak berbicara dengan bahasa kata-kata. Ia jarang bersuara. Tapi, ia hadir.

Ia hadir dari setiap sesuatu yang ia sentuh. Ia memberi jiwa pada setiap hal yang ia lakukan. Ia biarkan dirinya dan hidupnya menjadi kanvas. Menjadi medium bagi alam ide menjelma nyata.

Kamu bisa mendengar suaranya dari setiap puisi dan lirik yang ia tulis.

Kamu bisa merasakan ruhnya dari setiap gerak tubuhnya, kerlingan matanya.

Kamu bisa merasakan kehadirannya dari setiap foto yang ia tampilkan. Lagu yang ia rekomendasikan. Buku yang ia baca. Lukisan yang ia buat. Bahkan tiap kata yang jarang terucap dari bibirnya dan ketika dikeluarkan memiliki kekuatan tersendiri. Setiap detail fashion yang ditampilkan.

Semua adalah simbol. Semua memiliki makna. Semua mewakilkan dirinya.

Energi itu memberi kamu inspirasi. Ketika dirimu dilucuti dari atributmu, dari kekuatanmu, dari identitasmu, dirimu ditelanjangi, dirimu dipatahkan, suaramu dibungkam, dirimu dire-start ulang, itu bukan akhir segalanya.

Jika bahasa lama tidak lagi relevan di dunia ini, maka yang diubah bukan inti diri. Melainkan mengganti medium. Kata-kata bukan satu-satunya cara berbahasa. Banyak cara untuk kamu bersuara, untuk melawan. Agar kamu tetap kamu, bukan apa yang dunia yang sudah rusak harapkan tentang kamu. Bukan yang sistem gila yang dibuat para babi-babi tidak mengendalikanmu. Hanya itu cara agar kamu tetap manusia yang punya inti diri.

Sekarang kamu bisa hidup dengan presence. zen. karya.

manusia the medium, tidak akan mati. meminjam kata Leila S Chudori, "Matilah engkau mati, maka engkau akan hidup berkali-kali!"

Atau kata Herman Hesse, "Manusia memang harus dihancurkan sebelum ia dapat menjadi dirinya sendiri."

And now,  all the masks is broken.

Sekarang, mungkin kamu belum tau tujuanmu, kamu masih mengambang di samudera itu, tapi akhirnya kamu melihat mercusuar. Kamu masih musafir gurun itu, tapi kamu akhirnya bertemu satu oase. Bukan menjadikannya tujuan, melainkan menjadikannya harapan, bukan jawaban.



Let's slaying this fucking world. Future not always bad, sometimes it's well...better.


Komentar

Postingan Populer